tugas FIKSI "Semangat Loper Koran untuk sekoLah"

Diposting oleh DUNIA TP 2009 B Selasa, 25 Mei 2010

tugas Fiksi

oleh : Ika Kurnia Mandasari / 091024244


Tema : Budi seorang loper Koran yang bisa melanjutkan sekolah hingga kuliah.
Setting : terminal bungurasih Surabaya
SD Karang Bangsa Surabaya
SMK Negeri 1 Surabaya
di kampus “Universitas Bumi Bangsa Surabaya”
Agen koran
Di lingkungan jalan raya
Karakter tokoh utama :
• Budi : pintar, mandiri, fun, jujur, suka berkelahi, penjual loper Koran
• Aldi : Mandiri, tekun, kompak, jujur, berasal dari keluarga kaya
• Fitri : kompak, kreatif, berasal dari keluarga sederhana
• Bu Sinta : 5 tahun tidak mempunyai anak, baik hati menyekolahkan budi.
Tokoh pendamping : teman-teman diterminal dan teman-teman sekolah
Alur : campuran
Bahasa : menggunakan bahasa percakapan anak-anak remaja jaman sekaran tetapi dengan memperhatikan bahasa kesopanan.







Prolog
Budi adalah seorang pengamen jalanan. Pintar , optimis, tekun dan cuek itu adalah sifatnya. Cowok tampan ini berhasil menepis semua anggapan bahwa orang yang bisa sekolah hingga bisa masuk perguruan tinggi adalah orang yang berkecukupan. Budi membuktikan jika ada kemauan pastilah ada jalan asalkan kita tidak lupa dengan makhluk yang menciptakan kita didunia. Kepanasan dan bermandikan air keringat memang jadi mengisi kehidupan sehari-hari Budi.
Fitri dan Aldi adalah sahabat Budi yang selalu kompak dalam berbagai banyak hal. Mereka juga kadang sering mengerjai Budi, walau mereka juga menunjukkan rasa setia kawan yang tinggi ketika Budi digencet oleh polisi karena berjualan sembarangan, namun mereka bertiga bertekad tidak akan menghianati persahabatan mereka dengan noda-noda cinta yang dapat merusak persahabatan.
Ada bu Sinta, seorang guru SD yang sudah 5 tahun menikah tetapi belum juga dikaruniai seorang anak. Beliau terlena dengan kebaikan Budi yang menolong ketika dompetnya hilang. Budi tidak mengambil uang sepeserpun dan mengembalikan dompet itu secara utuh.


Ya, aku Budi Rahardjo, sekarang berada di Negara orang. Aneh sekali rasanya, bila mengingat masa dulu, tiap pagi mesti siap-siap berangkat ke terminal guna untuk makan sehari-hari. dengan membawa botol yang diisi batu kecil sudah cukup baginya untuk dibuat menyanyi dari bis satu ke bis yang lainnya.
***---***
Kisah ini berawal ketika ia berjumpa dengan Aldi. Aldi anak seorang mampu bahkan kaya ketika pulang dari sekolah ia tidak dijemput oleh sopirnya. Kemudian Aldi yang bosan menunggu jemputan mencoba pulang sendiri dengan naik bis. Disitulah kejumpaan Aldi dengan Budi. Aldi yang seperantara dengan budi yang waktu itu masih kelas 2 SD menangis karena tidak tahu jalannya keluar, kemudian Budi menghampiri Aldi dan menanyakan sebab Aldi menangis. Setelah Aldi bercerita kemudian Budi berniat mengantarkan Aldi sampai ke rumahnya. Sejak itu Aldi dan Budi semakin akrab.
Keakraban Budi dan Aldi mendorong untuk menolong Budi agar bisa sekolah seperti Aldi. Aldi kemudian bilang kepada orang tuanya agar menolong Budi agar bisa membantu menjualkan usaha orang tuanya sebagai agen Koran dan Budi diterima sebagai loper Koran. Sejak menjadi loper Koran, tiap pagi Budi selalu mengambil Koran di rumah Aldi kemudian Budi membacanya. Untung Budi bisa membaca karena pada waktu kecil sebelum ditinggal oleh ibunya dia selalu diajarkan membaca oleh ibunya. Setelah Koran telah dibaca semua kemudian Budi menjual diterminal dan di perempatan jalan raya. Setengah hari Koran sudah terjual baru kemudian Budi mengambil botol yang diisi batu kecil untuk dibuat mengamen dan itulah kehidupan Budi sehari-hari.
Pernah suatu ketika Budi terkena razia pengamen jalanan. Tapi untung saja Aldi lewat dan membantu Budi dengan berpura-pura acting kalau sebenarnya Budi adalah teman Aldi yang berasal dari keluarga mampu juga dan Budi berpakaian seperti itu hanya untuk berpura-pura observasi karena mendapat tugas observasi dari guru kesenian pelajaran action. Alasan itupun diperkuat oleh Fitri, dia adalah teman Aldi. Fitri bersedia membantu Aldi karena Fitri tahu kalau bukti mereka tidak kuat. Setelah fitri juga membantu action Budi dan Aldi, akhirnya polisi itupun percaya dan melepaskan Budi.
Pada suatu hari Bu Sinta setelah mengajar di SD Karang Bangsa pulang dengan naik bis. Ketika mengambil uang diompetnya, dompet itu bermaksud dimasukkan ke dalam sakunya, namun dompet itu tidak masuk kedalam saku tetapi jatuh di kursi tempat duduk bu Sinta. Ketika Budi sedang mau menghitung uang hasil konsernya di dalam bis, dia melihat dompet ditempat duduk, padahal tempat duduk tersebut tidak ada orangnya. Sekilas saja Budi mengambil dompet itu dan membuka isi dompet itu siapa tahu ada alamat si pemilik dompet. Ketika membuka dompet itu Budi melihat ada KTP dan sorenya dia langsung pergi ke alamat yang ditujukan KTP tersebut.
Setelah sampai dirumah bu Sinta, Budi langsung memberikan dompet itu. Bu Sinta senang sekali karena dompetnya tidak jadi hilang dan bu Sinta juga bangga karena masih ada anak kecil yang seumuran dia berperilaku jujur. Padahal dia bisa saja tidak mengembalikan dan dibuat untuk bermain diusia mereka. Setelah Bu Sinta salut oleh kebaikan Budi yang bersedia mengembalikan dompetnya tanpa kekurangan satu peserpun didalam dompetnya. Setelah kejadian itu bu Sinta rutin mengunjungi Budi di terminal seusai dia mengajar hanya untuk membawa kue atau hanya sekedar untuk menonton konser Budi didalam bis dan memberinya uang. Akhirnya Budi tahu kalau bu Sinta adalah seorang guru SD, maka Budi bermaksud minta agar bu Sinta mengajari dia karena Budi ingin sekali sekolah seperti anak-anak lainnya.
Bu Sinta tersenyum bangga karena Budi masih ada niat untuk sekolah walaupun dia tahu sebenarnya dia tidak bisa sekolah karena faktor biaya. Akhirnya bu Sinta Berbicara kepada Budi kalau dia boleh sekolah dengan bantuan beasiswa yang akan diajukan oleh bu Sinta tetapi dengan syarat Budi harus masuk rangking 5 besar. Syarat dari bu Sinta disetujui oleh Budi. Akhirnya Budi sekolah dan kebetulan juga satu sekolah dengan Aldi. Keakraban Aldi dan Budi pun akhirnya terkenal diseluruh sekolah walaupun Budi harus masuk kekelas satu dan Aldi di kelas 2. Tiap malam Budi selalu belajar dengan bantuan bu Sinta yang memberikan buku dan jika Budi merasa kesulitan belajar, dia langsung pergi kerumah bu Sinta. Pagi harinya Budi sekolah dan siangnya Budi bekerja diterminal. Kadang-kadang Aldi dan Fitri juga membantu menjualkan Koran yang diambil dari ayahnya Aldi.
Waktu berjalan cepat, 6 tahun sudah Budi sekolah di SD Karang Bangsa Surabaya, Budi masuk 3 besar paraler. Bu Sinta pun bangga kepada Budi karena ia telah membuktikan janjinya dan bu Sinta tidak merasa rugi karena telah memperjuangkan Budi untuk tetap menyekolahkan Budi di SD tersebut. Namun Budi bersedih, Budi bingung, apakah dia dapat melanjutkan sekolah tingkat pertama seperti teman-teman yang lain. Sempat Budi bertengkar dengan temannya karena di ejek tidak bisa melanjutkan sekolah lagi apalagi Budi seorang pengamen dan seorang loper Koran. Budi yang sifatnya gampang emosi langsung memukul temannya tersebut. Tetapi Aldi dan Fitri pun berusaha menghibur Budi karena prinsip mereka adalah dimana ada kemauan pastilah ada jalan. Budi daftar di SMP unggulan tempat Aldi sekolah. Masalahpun datang, sekolah itu baru memberikan beasiswa jika sudah menempuh kelas 2. Dan selama kelas 1 Budi harus tetap membayar uang SPP setiap bulannya. Budi pun kembali bersedih, tetapi ia tetap optimis bahwa ada keyakinan pasti ada jalan. Tiap pulang sekolah Budi selalu berjualan Koran dan setelah korannya habis ia mengamen dari bis ke bis, malam harinya ia membantu bu Sinta menjadi guru privat SD muridnya bu Sinta mengajar. Dan ia baru belajar pada pagi hari menjelang subuh dan ia lakukan sehari-hari. Sinta juga membantu Budi dengan membuat aksesoris dari kain perca dan kainnya didapat dari ibunya Sinta sendiri karena ibunya seorang penjahit. Aldi pun ikut membantu Sinta dengan membantu menjualkan aksesoris buatan Sinta kepada teman-temannya.
Satu tahun pun telah berlalu, beasiswa akhirnya didapat oleh Budi. Tetapi meskipun beban biaya sekolah sudah terselesaikan tetapi ia tetapi Ia tetap menjalankan aktivitasnya seperti dulu dan begitu juga Aldi dan Sinta sahabat Budi. Budi pun juga terpilih menjadi siswa berprestasi dengan program kelas akselerasi yaitu sekolah cepat 2 tahun. Akhirnya Budi 1 kelas dengan Aldi dan Sinta dan mereka semakin kompak dikelasnya dan mereka tetap bersaing prestasi secara sehat dan bersahabat.
Waktu pun berjalan cepat, Ujian UNAS pun sudah terlaksanakan. Aldi dan Fitri tidak bingung dalam melanjutkan sekolah ketingkat atas. Tetapi lain halnya dengan Budi, setiap kali kelulusan Budi selalu cemas. Akankah dia bisa melanjutkan sekolah seperti teman-temannya? Tetapi sahabatnya Aldi dan Fitri memberikan optimis kepada Budi kalau Budi akan bisa sekolah. Mereka akan membantu agar Budi bisa melanjutkan sekolah lagi seperti mereka. Akhirnya Budi kembali bersemangat, tetapi Budi tidak memilih melanjutkan se SMA melainkan ke SMK. Budi beralasan jika melanjutkan di SMK dia setelah lulus nanti tidak khawatir untuk kuliah karena lulusan SMK sudah mempunyai kompetensi untuk siap bekerja. Aldi dan Fitri mendukung niat Budi. Dan tanpa sepengetahuan Budi, Adi dan Fitri tidak jadi mendaftar di SMA melainkan di SMK Negeri 1 Surabaya tempat Budi daftar.
Hari pengumuman penerimaan siswa baru pun tiba, Budi senang sekali karena Budi dinyatakan diterima. Tetapi selain itu Budi juga kaget karena melihat Aldi dan Fitri berada disekolah ini dan tampaknya mereka juga senang. Akhirnya mereka jujur kepada Budi kalau mereka memutuskan untuk melanjutkan sekolah di tempat yang sama karena disamping alasan Budi dapat diterima oleh mereka, Aldi dan Fitri pun tidak mau berpisah dengan Budi. Bagi mereka sekolah di SMK dan SMA sama saja, yang terpenting mereka terus bersama karena persahabatan bagi mereka itu sangat mahal harganya bila harus dilupakan. Budi mengambil jurusan Multimedia, Aldi mengambil jurusan Teknik Komputer dan Fitri mengambil jurusan Akutansi. Walaupun mereka satu sekolah tetapi mereka mengambil jurusan yang berbeda karena bakat dan keahlian yang mereka suka berbeda-beda.
Sekolah di SMK membuat Budi tidak lagi bekerja sebagai pengamen karena Budi sudah menemukan pekerjaan di warnet meskipun cuma membantu mengetik kalau ada pelanggan yang ingin diketikkan. Budi mahir mengetik 10 jari ketika disekolahnya diajarkan pelajaran itu dan Budi giat untuk berlatih bahkan sampai hafal dimana letak huruf pada keyboard itu berada. Tetapi profesi sebagai loper Koran tetap ia jalankan karena Budi menyadari profesi loper koranlah yang membantu ia untuk bisa sekolah dan dari profesi Koran dia bisa menambah pengetahuan karena dia selalu membaca Koran sebelum ia jualkan kepada pelanggan.
Disekolahnya Budi selalu diikutkan lomba untuk mewakili mengharumkan nama baik sekolahnya. Tidak ketinggalan Aldi dan Fitri pun juga sering diikutkan lomba di masing-masing jurusan. Waktu Pakrin 1 pun tiba. Budi lebih memilih Pakrin di Jawa Pos karena disamping tidak punya biaya kalau diluar kota, selain itu Budi juga ingin tahu cara kerjanya di media cetak. Aldi dan Fitri lebih memilih Pakrin di Luar kota karena alasan mereka ingin menjelajahi kota.
Masa Pakrin 2,5 bulan pun telah habis. Mereka kembali ke sekolahnya dengan membawa segudang oleh-oleh pengetahuan yang mereka dapat dari perusahaanya pada waktu pakrin dulu. Mereka saling unjuk kemampuan tetapi mereka tidak ada yang menyombongkan diri. Mereka sangat akrab bahkan guru dan murid tahu kalau mereka bertiga seperti saudara yang selalu bersama-sama. Selang 1 semester kemudian, mereka harus kembali Pakrin ke-2. Kali ini Budi memilih Pakrin di Radio Merdeka Surabaya. Alasan Budi memilih Pakrin disana karena ingin mengetahui system kerja di media Audio. Budi berkeinginan ia ingin tahu cara kerjanya media cetak, audio ataupun visual. Budi ingin berencara kalau seandainya ada Prakrin ke-3 ia ingin Prakrin di bidang televisi. Tapi sayang Pakrin di SMK hanya 2 kali.
Waktu pun berjalan cepat, ujian UNAS pun telah dilaksanakan. Mereka hanya sesekali pergi ke sekolah hanya untuk mengembalikan buku atau sekedar bertemu dengan teman-teman atau guru yang mereka sayang. Budi mengungkap keinginan bahwa ia ingin menjadi entrepreneur, ia ingin membuka wirausaha dengan keahlian yang dimiliki. Kemudian Aldi mempunyai ide, kalau mereka membuka pengusaha pengetikan. Computer didapat dari Aldi karena Aldi berpendapat computer dirumahnya sudah jarang dipakek semenjak ia dibelikan Laptop oleh ayahnya. Nanti usaha itu akan dibangun oleh mereka bertiga dengan jurusan dan keahlian yang dimiliki masing-masing. Budi yang melayani pelanggan bila ada yang mau merentalkan/jasa mengetik, Aldi sebagai menerima servis computer atau Laptop dan Fitri sebagai pengatur keuangan karena dia jurusan akutansi. Tempat membuka usaha didekat rumah Aldi yang kebetulan ada rumah sederhana milik Aldi yang tidak dihuni. Usaha itu mula-mula dipromosikan disekolah, baik kepada teman-teman, guru atau dan staf lainnya. Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya usaha mereka bertiga lumayan cukup membanggakan walaupun kebanyakan pelanggan mereka dari teman atau guru sendiri.
Setelah nilai Danun pun keluar lagi-lagi Budi masuk dalam 3 besar paraler. Aldi dan Fitri sudah ikut PMDK di Universitas Bumi Bangsa Surabaya. Lain halnya dengan Budi, ia tidak sibuk dengan persiapan kuliah karena ia tahu biaya kuliah itu sangat mahal. Dengan ia lulusan dari SMK dan bisa membuka usaha sendiri ia merasa bangga. Ketika ayah Aldi selesai menyetor Koran, tanpa sengaja Aldi melihat iklan beasiswa Djarum keluar negeri. Beasiswa itu diuntukkan kepada siswa yang ingin melanjutkan kuliah diluar negeri. Syarat dan ketentuan ternyata sesuai dengan criteria Budi. Akhirnya tanpa sepengetahuan Budi, Aldi mengirimkan formulir ke Djarum atas nama Budi Rahardo dan akhirnya Budi lolos seleksi dan ujian akhir adalah tes tulis. Aldi memberitahu Budi bahwa ia mendaftarkan Budi beasiswa Djarum kulian ke luar negeri. Awalnya Budi tidak menyangka kalau dia diberi tahu lolos seleksi dan tinggal babak akhir yaitu tes tulis. Budi berterima kasih kepada Aldo atas bantuannya dan Budi berjanji kepada Aldo bahwa ia akan berusaha tidak mengecewakan sahabatnya. Setelah menjalani tes, 1 bulan kemudian Budi dinyatakan diterima dan minggu depan Budi akan berangkat ke Singapura.
Perpisahan antara Budi, Aldo dan Fitri mengundang isak tangis diantara ketiganya. Mereka sebenarnya tidak ingin ditinggal Budi pergi karena mereka sudah saling kenal dan bersama-sama mulai sejak SD sampai mau melanjutkan ke perguruan tinggi, namun mereka sadar, bahwa ini bukan akhir dari persahabatan mereka. Budi hanya kuliah dan waktu yang berjalan cepat akan membawa Budi bersama lagi dengan mereka.
Akhirnya Budi bisa membuktikan kepada semua orang dan teman-temannya kalau akhirnya ia bisa melanjutkan pendidikannya sampai perguruan tinggi. Ia menyakini bahwa sesuatu hal yang diyakini niat akan bisa pasti aka nada jalan untuk kesana. Tidak perlu cemas dan khawatir untuk seseorang yang dilahirkan dari orang tua yang tidak mampu, disyukuri saja. Berusaha dan berdoa pasti aka nada jalan yang lapang untuk kita mempermudah mimpi kita.
T A M A T . . .


Ika Kurnia Mandasari
091024244

1 Comment
  1. norist_aa Said,

    CERPEN
    “ Biarkan aku menggapai Impianku “
    Oleh :
    Norista Marliana Dewi
    091024237
    Edutech2009b


     Tema : Pendidikan.

     Karakteristik tokoh
    • Dea : cantik, tidak terlalu pintar, tidak mudah putus asa.
    • Indra : baik, penyayang, sabar
    • Renia : cerdas, baik.
    • Pak Johan (Ayah Dea) : keras kepala, kolot
    • Ibu Farida ( Ibu Dea) : baik, sabar.

     Alur : Maju
     Setting : Rumah, sekolah, restaurant
     Sinopsis

    Dea seorang pelajar SMA yang ingin melanjutkan sekolah ke bangku kuliah, tapi keinginannya itu terhalangi oleh Ayahnya. Karena Ayahnya berfikir bahwa perempuan tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi sampai ke bangku kuliah, karena pada akhirnya nanti perempuan itu akan berada di dapur juga. Pemikiran Pak johan sangat kolot. Dan itu membuat Dea sedih, tapi disisi lain dia punya pacar yang baik hati dan sabar, mengerti Dea yaitu Indra.
    Selain itu Dea juga punya sahabat yang baik selalu ada buat Dea dan tidak berhenti menghibur Dea,

    Hari itu hari minggu, Dea duduk di depan rumah bersamanya orang tuanya.
    “ Bapak, setelah lulus nanti. Aku boleh tidak melanjutkan kuliah “?, Tanya Dea.
    “ Tidak, kamu tidak perlu kuliah”. Jawab Pak Johan.
    “ Loh, kenapa ?”. tambah Dea
    “ Sekali Bapak bilang tidak ya tidak, kamu itu perempuan gag kuliah juga tidak masalah, buang – buang biaya saja. Percuma juga kuliah. Nanti akhirnya jugaa bakalan di dapur”. Bentak Pak Johan.
    “ sabar, Pak”. Tambah Ibu Farida.
    “ tapi Pak”, kata dea
    Belum selesai Dea bicara sudah dipotong sama Pak Johan.
    “ Tapi apa, sudah gak usah membantah kata – kata Bapak”. Kata Pak Johan.
    Dea pun berlalu pergi meninggalkan ayah dan ibunya. Dea kecewa dengan pola pikir ayahnya.
    “ Tidak boleh begitu sama nak sendiri, apa salahnya juga kalau anak kita ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, kita biaya juga punya. Masak hanya denagn pikiran Bapak yang seperti itu, harus menyakiti hati anak sendiri, Dea juga anak satu-satunya kita Pak, apa Bapak tega melihat dia sedih terus hanya karena Bapk tidak mengijinkan dia untuk kuliah, masa depan Dea masih panjang Pak.” Kata Ibu Farida.
    “ Sudah sudah jangan mengajari Bapak”. Bantah Pak Johan.

    hingga suatu saat Ayah Dea berubah pikiran dan mengijinkan Dea untuk kuliah, Setelah Dea dinyatakan lulus dia langsung pergi ke Bandung untuk melanjutkan kuliah disana, Dea diterima menjadi mahasiswa ITB melalui jalur PMDK


    The End

    Posted on 25 Mei 2010 pukul 04.47

     

Posting Komentar