Kaya Ilmu Miskin Harta
“Allahu Akbar....Allahu Akbar”, terdengan suara adzan berkumandang, membangunkan umat muslim untuk segera menunaikan Ibadah sholat subuh. Dengan mata yang masih setengah membuka, Yudha melangkah kebelakang untuk segera mandi, tampaknya Pak Tukimin sudah siap dengan baju kokonya yang terlihat rapi dengan didampingi Ibu Lastri yang sudah siap berangkat ke masjid yang tidak juh dari rumahnya, sekitar 500 M. Dalam Perjalanan menuju Masjid Keluarga Yudha Bertemu Dengan Pak Darmawan Selaku ketua RT Di kampung itu. Pak Darmawan adalah seorang yang Ramah, Suka menyapa Tanpa Memandang Status Sosial baik itu yang kaya maupun yang miskin, Bijak dan Adil dalam Mengambil suatu keputusan. Layaklah jika dia dipilih untuk menjadi ketua RT di kampung tersebut. Setelah keluarga Yudha saling sapa dengan Pak darmawan akhirnya mereka berangkat bersama – sama menuju masjid ATTAQWA untuk menunaikan ibadah sholat Subuh.
Setelah selesai menunaikan sholat subuh, Aktivitas pun dimulai, Setiap Pagi, selesai sholat subuh Yudha selalu menyisihkan waktu unutk membaca, kebetulan dia paling suka dengan Mata Pelajaran Bhs. Inggris, jadi Setiap Hari dia selalu menghafal 20 kata. jika di sekolah dia selalu pergi keperpustakaan unutk membaca pada waktu jam istirahat. Lain dengan Afif , dia tidak pernah satu kalipun menginjakkan kakinya di pintu masuk perpustakaan, dia lebih suka pergi ke kantin dengan teman – teman nya, yang relevan dengan sifat Afif , yaitu suka Berfoya- foya dari pada membaca, pada waktu jam istirahat. dia paling tidak suka membaca, apa lagi kalau sudah mendengar kata “INGGRIS” lebih baik dia tidur dari pada belajar inggris. Kehidupan Yudha yang sangat sederhana membuat yudha termotivasi untuk memanfaatkan waktu yang ada, Menggunakan Waktu dengan hal –hal yang baik, selagi dia masih bisa sekolah, walaupun sekolah dia di biayai oleh pak Darmawan. Sedangkan kehidupan Afif yang tercukupi bahkan Lebih dari cukup, membuat dia menjadi malas, membuang –buang waktu, mengguanakan waktu untuk hal – hal yang merugikan dirinya seperti berfoya – foya, malas – malasan, dll.
Di sekolah dia selalu menyuruh yudha unutk mengerjakan tugasnya, khususnya jika ada tugas mengeani mata pelajaran bhs Inggris. Tapi disisi lain yudha juga mendapat keuntungan dari afif setiap tugas Afif yang dikerjakan oleh yudha, Afif selalu memberi imbalan berupa uang. Afif terkenal dengan anak yang kaya raya, tetapi ada sifat yang tidak baik yang terdapat dalam diri afif, yaitu SOMBONG. Setiap ada jampelajaran yang kosong atau tidak ada guru. Yudha lebih suka menghabiskan waktunya untuk pergi ke Perpustakaan, berbeda dengan Afif, dia lebih suka pergi ke kantin atau cangkruk dengan teman – teman se Gengnya.
Berhubung pada waktu itu Adalah hari minggu Jadi aktivitasnya Libur, untuk Yang bekerja di suatu lembaga. sedangkan pak tukimin dan Istrinya masih melanjutkan aktivitas bekerjanya, Yaitu bu Lastri Menjahit Pesanan Pakaian dan Pak tukimin Membersihkan halaman rumah dan menyirami tanaman- tanaman di halaman rumah pak Darmawan. Dan Yudha Pergi Kebengkel Untuk menjaga Bengkel yang di beri pak darmawan untuk dikelola oleh keluarga pak tukimin.
Setelah mereka saling sapa akhirnya mereka berangkat bersama – sama menuju masjid unutk menunaikan sholat subuh. Tapi keluarga Afif tidak kelihatan sama sekali di dalam masjid, Nampaknya Afif sedang tidur pulas dengan selimut yang menutupi badannya, Setelah “ nak, setelah sholat, antar ibu ke pasar ya?, ujar bu Lastri pada Yudha. Dengan langkah bergegas dia langsung menyambar handuk yang ada di gantungan. Setelah mandi Yudha langsung menyusul Bapak Ibunya ke masjid. Itulah aktifitas yang dilakukan oleh keluarga Pak Tukimin setiap harinya. Pagi yang cerah, mentari menyinari alam, menyapa lembut kuntum bunga yang meneteskan butiran embun dikelopak, indahnya pagi itu seindah suasana hati Yudha diminggu pagi ini. Hari minggu adalah hari yang paling disukainya, karena dia bisa membantu orang tuanya dirumah. Di bengkel dia merasa mendapatkan pengetahuan dan juga ketrampilan. Tampaknya dia menyukai seluk beluk mengenai kendaraan bermotor. Dia bisa membetulkan ban yang bocor, membersihkan busi dan lain-lain.
Sudah menjadi kebiasaan Yudha, dia selalu memulai aktifitasnya dengan semangat dan penuh suka cita. Ingat perkataan ibunya tadi subuh, usai sholat dia langsung mengeluarkan sepeda Setelah mengantar Ibunya kepasar, dia langsung membersihkan halaman rumahnya, walaupun dia seorang laki-laki, tapi dia tidak canggung melakukan pekerjaan perempuan seperti menyapu, mencuci, menyiram, dll. Dia tidak kikuk memegang sapu, mengelap meja kursi ataupun mencuci piring dan bajunya. Membersihkan rumah mulai dari halaman depan hingga belakang tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Yudha. Setelah semua isi rumah sudah bersih, dia melangkahkan kakinya menuju bengkel, “sudah yud, itu sudah bapak bersihkan tadi, bantu ibumu saja dibelakang, barangkali ada belum selesai memasaknya” kata pak Tukimin kepada Yudha yang hendak ikut membersihkan bengkel. “Baik pak” kata Yudha sambil bergegas kebelakang menghampiri Ibunya yang memang sedang sibuk mempersiapkan sarapan di meja makan. “saya bantu bu', pekerjaan di depan sudah selesai” ucapnya sembari mengangkat lauk pauk yang sudah matang ke meja makan. “sudah selesai le, panggil saja bapakmu, biar kita sama-sama sarapan”, timbal bu Lastri. “baik bu”, ujar Yudha. Tanpa banyak mengucap kata lagi, berlarilah Yudha menuju bengkel depan rumahnya untuk memanggil bapaknya. Dan merekapun makan bersama. Terasa keharmonisan tercipta dikeluarga Pak Tukimin, walaupun sangat sederhana, namun mereka seperti tanpa beban menjalani hidup ini. Setelah makan, aktifitas tetap berlanjut, Bu lastri mengerjakan pesanan jahitan, sedangkan pak Tukimin menuju bengkel, sedang Yudha membantu Ibunya menggunting pola baju. Sambil mendengarkan suara radio mengenai berita-berita ter up to date, dia menggunting pola sambil sesekali bertanya kepada ibunya, tentang metode – metode menjahit. “ sebenarnya bahan apa yang sangat sulit untuk dijahit , bu?, ucapnya. Yudha memang suka bertanya tentang hal-hal yang dia tidak mengerti, karena itulah dia menjadi pandai dan bisa. Dengan penuh kesabaran, Bu lastri menjelaskan kepada anaknya dengan detail. Ditengah percakapan bu Lastri dan Yudha, terdengar suara gaduh diluar. “suara siapa itu le, kok bahasanya aneh ?” kata bu Lastri, Sambil melongok kearah jendela, Yudha melihat keluar, ada beberapa tetangga yang mendorong mobil besar dan anehnya ada orang bule nya juga. “ ada mobil mogok sepertinya bu”, timpal Yudha. “ aku lihat dulu ya bu' “ tambahnya sembari meninggalkan pola baju yang diguntingnya. Dilihatnya beberapa tetangga yang membantu mendorongnya, bergegaslah dia keluar, tanpa dikomando, bergabunglah dia dengan yang lainnya, karena untuk masuk ke bengkel jalan nya agak menanjak, sedikit diliputi rasa heran dan sedikit bingung, dia melempar senyum pada seorang bule laki-laki yang ikut mendorong. Bule itupun membalasnya dengan senyuman pula. Setelah mobil itu sampai di dalam bengkel, pak Tukimin langsung memeriksa kondisi mobil tersebut. Tak menunggu lama Yudha pun langsung menghampiri bule laki-laki itu, dia menjulurkan tangannya pertanda ingin berkenalan. “How Do You Do” ucapnya, jawaban yang sama terlontar pula dari mulut si bule tersebut, “my name's Yudha, what's your name?” ucap Yudha sekali lagi, “Thank you , my name's Piotr Palaz” imbuh si bule. Para tetangga yang mendengarnya hanya bisa melongo mendengar percakapan antara si Yudha dengan bule tersebut, Pak Tukimin tetap berkonmsentrasi memeriksa mobil tersebut, mencari penyebab kenapa mobil tersebut tidak bisa di nyalakan, sembari sesekali dia juga mendengarkan komunikasi anatar Yudha dan bule itu. Dalam hatinya dia tidak menyangka kalau anaknya bisa berbahasa inggris seperti yang bule itu katakan. Ternyata dia tidak sendirian, didalam mobil itu, keluarlah seorang wanita bule yang langsung ikut bergabung dengan Mr. Piotr, dan diapun langsung memperkenalkan nya kepada Yudha. Pada saat percakapan terjadi, melintaslah Afif dengan menggunakan sepeda motornya, karena dia melihat bule didepan rumah si Yudha dalam hatinya bertanya-tanya siapa gerangan dua bule itu. Apakah mungkin tamu si Yudha, “tidak mungkin ahkhhh...masak Yudha punya tamu dari luar negeri “ suara hatinya berkata. Dia pun lantas menghentikan motornya dan langsung menghampiri Yudha yang duduk diberanda rumah sambil minum the dan kue singkong yang sudah disiapkan oleh Bu Lastri, tak menyangka pula kalau bule itu bisa makan singkong goreng. “siapa nich yud, kok kamu bisa kenal ma bule-bule ini”, ucapnya. “ ehh Fif...kenalkan ini Mr. Piotr Palaz dan Ms. Paola dari Jerman. Tanpa babibu lagi dia pun pasang aksi sok kenalnya kepada dua bule itu. “ Hello mister, hello miss...my name Afif, what you do here”, ucapnya lagi, si bule membalas tangan Afif, sambil tersenyum dan menyebut namanya. Si Yudha hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Afif yang sudah jelas-jelas salah, namun si bule memakluminya dan nampaknya ia mengerti maksud yang dibicarakan Afif, karena disitu banyak tetangga yang ikut mendengarkan percakapan mereka, iapun ingin memperlihatkan kepada semua orang yang ada disitu, kalau dia juga bisa berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. Namun usaha si Afif untuk mengajak bule itu ngobrol tampaknya tidak berhasil, karena tiap kali dia berbicara, si bule selalu bertanya balik ke Yudha apa maksud yang dibicarakan Afif. Dan para tetangga bisa menagkap suatu kondisi kalau si Afif tidak bisa berbicara dengan benar seperti layaknya si Yudha, karena bule itu justru kebingungan. Sampai akhirnya salah satu tetangga menyeletuk, “ sudah Fif, tu bule ga tau apa yang kamu omongin, jangan diajak ngobrol terus, kasian capek ntar dia” sambil diiringi ejek tawa dari para tetangga yang lain. Dengan tampang yang agak kusut, akhirnya dia pamit pulang ke Ydha tanpa berpamitan dengan Bapak dan Ibu Yudha serta para tetangga tadi. “ aku pulang dulu Yud, aku mau balapan dulu sama anak-anak kampung”, ucapnya berlalu sambil menarik gas motornya dengan kencang sekali, membuat bising telinga semua orang yang ada disitu.
Setengah jam pun berlalu, karena Pak Tukimin memang tidak biasa membetulkan mesin mobil, namun karena keuletannya, dia mencoba membetulkan kabulatornya dan akhirnya bisa juga menyala mobil itu. “Alhamdulillah...akhirnya selesai juga”, ucap pak Tukimin. Siang itu terik matahari memang sangat menyengat. Namun angin sepoi-sepoi tetap menghembuskan semilrnya, sehingga membuat suasana siang itu ingin merebahkan diri. Setelah mencuci tangan nya yang belepotan dengan minya oli, Pak Tukimin ikut nimbrung di beranda rumah. “le coba tawari, tidur siang saja dulu, nanti sore kita lapor ke pak RT, kaklau mau sekalian aja menginap disini”, ujar pak Tukimin. Tanpa dikonmando lebih lama lagi, Yudha pun menterjemahkan kata-kata bapaknya ke dalam bahasa Ingris. Setelah Mr. Piotr berbicara dengan rekannya Ms. Paola, dia pun mengiyakan usul Yudha. Segera dia menyiapkan kamar nya untuk dipakai oleh Mr. Piotr, sedang Ms. Paola tidur di kamar Ibunya. “oiya le, nanti sore jangan lupa menyiram taman pak Darmawan lo le, karena ada tamu ada baiknya kalau kamu lebih awal datangnya, atau digantikan saja sama Bapakmu ya le?, kata Bu Lastri. “ tenang saja bu, biar kali ini bapak yang membersihkan rumah pak Darmawan, takutnya kalau si bule-bule itu bangun, kita berdua sam-sama tidak tahu apa kata mereka, bisa kacau Bu, masak kita bilangnya wes..wes..wes..., ntar dia tambah langsung pulang kenegaranya sana”, tawapun langsung bersahutan dari keluarga ini.
Setelah ba'da magrib, pak Tukimin segera menuju rumah pak RT untuk melaporkan ada tamu yang menginap di rumah dari negara jerman dengan tujuan akan kesekolan besok harinya. Sedangkan akan menemui rumah Bapak Kepsek terlalu jauh. Setelah penjelasan yang panjang, pak Tukimin mendapat persetujuan pak RT untuk memperbolehkan tamu tersebut menginap. Ba'da Isya', Pak Tukimin mempersilahkan kedua bule itu makan nasi goreng, karena itu makanan yang paling terkenal di Indonesia menurut orang tua Yudha. Namun alangkah senang bu Lastri ketika Yudha menterjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia dengan arti sangat lezat. Setelah makan malam, pak Tukimin menyuruh Yudha untuk membawa tamu nya ke beranda rumah sambil menyuguhkan bule itu kopi hangat dan pisang goreng buatan bu Lastri. sSungguh memang tak diduga kalau para bule itu menyukai makanan Indonesia. Dengan maksud ingin mengajak ngobrol Mr. Bule itu, Pak Tukimin mendekati Yudha sambil membisikan,” coba tanyakan le ada tujuan dan maksud apa sehingga jauh-jauh dia datang ke sini. Akhirnya dengan tegas dia memulai pembicaraannya dengan Mr. Piotr “ ............................In ENGLISH.................................................”. kemudian Yudha memberitahu Bapaknya, bahwa mereka berdua kesini adalah untuk tujuan/ misi pendidikan. Malam semakin larut dan si bule itu tampaknya sudah terlihat capek, pak Tukimin pun mneyuruh Yudha untuk mempersilahkan kedua tamunya itu untuk beristirahat.
Keesokan harinya setelah rutinits pagi dijalankan, dan seseudah mengajak bule itu sarapan, bersiaplah mereka berangkat ke sekolah, dengan mengucap terimakasih kepada pak tukimin dan keluaga atas bantuan dan tumpangan istirahat, mereka pun berpamitan. Kali ini Yudha ikut erta didalam mobil sebagi penunjuk jalan. Ketika sampai dihalaman sekolah, semua pandangan siswa tertuju pada mobil besar itu. Apalagi setelah turun yang dilihat adalah dua bule berbadan tinggi-tinggi. Apalagi setelah keluar dilihat pula si Yudha yang ternyata menjadi salah satu penumpang dimobil itu. Mereka tersenyum melihat pandangan mereka, yang keheranan melihat mereka berjaln menuju ke arah ruang kepala sekolah. Tiba-tiba dari arah belakang datanglah si Afif, “ mister..mister!, “ panggilnya. “ sambil menoleh kedua bule itupun melempar senyumnya sambil menjabat tangan,” hi...how are you today”, ucap Mr. Piotr. “fine-fine”, timpalnya. Seakan mengerti akan menuju kemana si bule dan Yudha, Afif pun tak ikut ketinggalan, banyak mata memandang, dan Afif pun memasang tampang soknya kepada semua teman-teman bahjwa dia kenal dengan bule itu. Sampai di ruang Kepsek, Pak kepsek mempersilahkan masuk, “sitdown , please Sir, my name's..., iam the kepssek”, perkenalanpun dimulai, suasana mencair setelah Yudha bercerita kejadian kemarin, karena Afif merasa dia juga ikut andil dalam proses kedatangan si bule ke daerah sekolahan, tanpa dipersilahkan dia menerocos ke bule dan ke Kepsek, tahu kejadian hal itu, Yudha memilih diam saja. Namun lagi-lagi si bule tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Afif. Tanpa basa basi akhirnya Bapak kepsek pun menyuruhnya diam, karena penjelasannya justru membuat bule itu kebingungan dan harus mengulangiu pertanyaan dengan menanyakan lagi ke Yudha. Akhirnya Afif tertunduk malu dan lebih memilih diam setelah mendapat teguran dari Bpak kepsek.
Dari permicaraan itu ternyata si bule itu merupakan utusan dari sebuah yayasan di luar negeri, dimana dia mencari perwakilan di Indonesia yang akan menjadi kandidatnya untuk mendapatkan bea siswa ke Jerman. Karena tidak mempunyai waktu yang banyak di Indonesia karena si bule harus segera kembali ke negaranya, maka hari itu juga dilakukan rapat tertutup antara semua guru dan staff sekolah. Layaknya lari marathon, begitu pula rapat ini, tanpa menunggu lama sekitar satu setengah jam saja, sudah bisa diambil keputusan untuk memilih siapa kandidat yang akan ikut serta di Jerman nanti. Kemudian bapak wakil kepsek mengumpulkan anak-anak dihalaman seklah untuk memberikan pengumuman penting yang berkaitan dengan siapa kandidat tersebut. Suasana yang ramai mendadak sepi karena bapak kepsek memulai pidatonya. “ anak-anak, hari ini sudah kalian lihat, kita kedatangan tamu dari Jerman. Adapun maksud dan tujuan dari Mr.Piotr dan Ms. Paola kesini adalah untuk mencari siswa-siswi yang mempunyai kepandaina dan talenta khususnya di sekolah, oleh karena itu sengaja bapak kumpulkan kalian disini, untuk mengetahhui siapa yang berhak untuk mendapatkan bea siswa melanjutkan kuliah di Jerman”, ucap bapak kepsek sambil memfokuskan pandangan ke arah anak -anak . “ akhirnya setelah kita bermusyawarah tadi, dapat kita ambil kata sepakat, berdasrakan pada nilai mata pelajaran, kepandaian, keuletan, ketrampilan dan ketekunan sesorang siswa-siswi, maka kita putuskan sebuah nama “, ucapnya sambil membuka secarik kertas yang ada di saku kemejanya. “ Bismillahirrohmanirrohim...”, lanjut kepsek seraya mengarahkan bola mata nya ke semua penjuru barisan murid-murid dihadapannya, semua mata tertunduk dan yang yang pasti hati mereka semua berdebar-debar ingin mengetahui siapakah gerangan nama yang disebut bapak kepsek. “ saya ulangi lagi...adapaun nama murid yang berhak mendapatkan beasiswa belajar ke Jerman nanti adalah...Wahyudha..”, seiring nama Yudha yang terlontar, diiringi pila suara tepuk tangan meriah dari semua orang yang ada dihalaman sekolah hari ini. Wahyudha yang diliputi rasa tidak percaya, membuat matanya berkaca-kaca, dalm hatinya ia mengucap “Alhamdulillahhirobbil alamin”, seraya menerima banyak uluran tangan sebari mengucap selamat dari semua teman-temannya, ia pun ingin segera pulang memberitahukan kejadian ini kepada kedua orangtuanya. Setelah ucapan selamat dari pihak bapak kepsek dan yang lainnya selesai, semua siswa bergegas pulang ke rumah masing-masing, Mr. Piotr dan Ms. Pola pun juga ikut berpamitan ke Jakarta untuk kempali pulang ke Jerman dengan membawa reoprt dari SMU N I Muncar Banyuwangi. Karena teralau bersemangat, dari mulai dia keluar menuju halaman sekolah hingga sampai kerumah, Yudha berlari, nafasnya terengah-engah dan keringatnya bercucuran, namun ia seolah tidak peduli akan hal itu, yang ada diotaknya hanya ingin secepatnya dia sampai dirumah dan memberi kabar bahagia ini pada orang tuanya.
“Assalamualaikum.....!!!”, ucapnya ketika sampai dirumah. “ Pak...Bu..., alhamdulillah....hah...hahhhh....” ucapnya lagi sambil tersengal-sengal.” duh le da pa to , kok sampai lari-lari, lek jatuh nanti piye ?, ujar Bu lastri. “ da pa Yud?, ucap pak Tukimin. Sembari keheranan, kenapa sampai anaknya berlari-lari. “ Yudha seneng sekali Bu Pak...ini semua berkat doa Ibu dan Bapak”, ucapnya sekali lagi. “iya tenang, pelan-pelan ae, minum disik kie airnya” tambah Bu lastri. Setelah meneguk beberapa tegukan, engah nafasnya mulai teratur. “Bu, Pak, saya terpilih !”, sambungnya, “. tetap dengan wajah kebingunan Pak Tukimin dan Ibu Lastri saling pandang. “terpilih?”, ucap mereka berdua. “iya Bu, saya terpilih menjadi perwakilan dari Indonesia yang akan melanjutkan studi ke Jerman”. Sontak Bu Lastri dan Pak Tukimin sujud syukur ke lantai, sambil mengucap “ Alhamdulillah Yaa Allah......Alhamdulillah....”, derai air mata Bu Lastri tak terbendung lagi. Dan akhirnya mereka bertigapun berpelukan.
NAMA : Syaiputra Wahyuda
Kelas : Tp 2009 B
Nim : 091024243
Blog Archive
-
▼
2010
-
▼
Mei
- priwan_PENTINGNYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU
- priwan_wanita berlian
- BINTANG YANG BERSINAR baharudin
- cerpen "“THE POWER RANGERS”
- cerpen "Ilmuku dibalik bilik bamboo"
- cerpen Dibalik kekuranganku tersimpan segudang kel...
- CERPEN “ Biarkan aku menggapai Impianku “
- cerpen "keceriaan dibalik sebuah kegagalan"
- cerpen
- Papre_Nur Aristiana
- Fiksi_cerpen_vina
- Keinginan Yang Kuat Untuk Menggapai Impian
- Cerpen Kaya Ilmu Miskin Harta
- M Saikhul Arif 091024255 Artikel non fiksi pendidi...
- CERPEN "KEKSUKSESANKU KARENA ISTERIKU"
- Cerpen "Mengubur Asa"
- Curahan Hati Pak edi
- cerpen
- Cerpen Good Job
- petrick k 091024250 cerpen (Sacrosand) Juli 2008 ...
- cerpen
- cerpen
- <!-- /* Fo...
- fiksi
- tugas fiksi ( kiat menuju sukses)
- MAHASISWA dan MORAL (Wajah Mahasiswa Saat Ini)
- Rini sang Pendiam yang Belajar Mandiri
- Impianku....(cerpen)
- MEDIA CETAK “ARTIKEL PENDIDIKAN” OLEH : ELVA...
- MEDIA CETAK “ARTIKEL PENDIDIKAN” OLEH : Ika Kur...
- tugas FIKSI "Semangat Loper Koran untuk sekoLah"
- pengumuman-pemgumuman!! ada tugas mata kuliah PSD...
-
▼
Mei
Posting Komentar