Pengikut

Kontributor

priwan_PENTINGNYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU

Diposting oleh DUNIA TP 2009 B

PENTINGNYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU

Untuk memenuhi tuntutan dari UU Nomor 14 Tahun 2005 yakni mewujudkan guru profesional. Pemerintah berupaya mendongkrak citra guru yang terlanjur terpuruk bahkan sempat profesinya terabaikan dan dipandang sebelah mata.
Untuk menjadi seorang guru yang profesional bukan perkara gampang, seperti membalikkan telapak tangan. Apalagi untuk menjadi seorang guru baik. Apabila guru menjadi baik dan profesional, pastinya juga dapat mengangkat mutu pendidikan di Indonesia.
Untuk dapat menjadi seorang guru profesional harus di mulai dari komitmen bersama, komitmen bersama ini di dukung juga dengan diri sendiri, keinginan yang sama antara pemerintah, masyarakat, dan anak didik. Komitmen bersama yang berhubungan sengan pemarintah ialah bagaimana pemerintah itu sendiri memberikan dana untuk guru untuk meningkatkan profesionalisme guru, karena masih banyak guru yang belum layak menjadi seorang guru karena guru tersebut belum bisa melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya menjadi seorang guru. Masyarakat juga memiliki peran untuk dapat memberikan nuasa ketenangan bagi guru, sehingga guru senantiasa terbangun akan meningkatkan profesionalnya.
Untuk dapat menjadi seorang guru yang profesional, mereka harus berani mengevaluasi dirinya sendiri. Guru yang profesional yaitu guru yang mengenal dirinya. Karena guru adalah seseorang yang terpanggil untuk mendidik manusia. Menjadi guru bukan hanya sebuah proses yang harus dilalui melalui tes. Seorang guru juga menggunakan hati pada waktu mengajar. Karena dengan begitu akan mendorong seorang guru senantiasa meningkatkan kemampuannya untuk menganjar siswa.
Menjadi seorang guru yang profesional itu haru mempunyai empat karakteristik yaitu: kreatif, inovatif, profesional dan menyenangkan.
Guru profesional tanggung jawab utamanya mengawal perkembangan pribadi siswa. Peran itu tidak mungkin akan berhasil jika guru tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang profesioanal. Guru profesional harus memiliki penguasaan terhadap pengetahuan dan ketrampilan, memiliki kemampuan profesional di atas rata-rata, idealisme, pengabdian yang tinggi, dan pantas secara moral dan perilaku menjadi panutan untuk anak didiknya.

priwan_wanita berlian

Diposting oleh DUNIA TP 2009 B

Nama ; PRIWAN YUDA
Nim ; 091024245
Kelas ; TP 2009/B

WANITA BERLIAN

Oca, setelah lulus SMA ini kamu mau melanjutkan kuliah kewmana? Tanya sahabat karibnya di SMA. Sambil tersenyum dia menjawab, “ Aku masih belum tau mau melanjutkan kuliah atau tidak ”. “ Lho memangnya kenapa kok kamu kelihatan bimbang begitu, kamu kan anaknya berprestasi, masak tidak melanjutkan kuliah? ” Tanya temannya. “ Ya kamu tau sendiri kan keadaan ekonomi keluarga saya yang hanya pas-pasan ”, jawab Oca. “ Ya sudah kamu yang semangat ya, kalau kita punya niat pasti aka nada jalannya kok ”, teman Oca memberinya semangat.
Oca adalah anak kedua dari dua bersaudara. Dia mempunyai orang tua dan kakak yang sangat sayang dengan dia. Oca hidup disebuah keluarga yang bahagia meskipun keadaan ekonomi keluarga yang pas-pasan. Orang tuanya mempunyai usaha toko kecil-kacilan di depan rumahnya. Oca adalah anak yang berprestasi pada waktu duduk dibangku sekolah. Dari kelas satu hingga kelas tiga SMA dia selalu menjadi juara kelas. Dari kecil sebenarnya dia sudah mempunyai cita-cita ingin menjadi seorang guru SD. Pada waktu pengumuman UAN dia dinyatakan LULUSdengan nilai yang baik. Setelah pengumuman itu dia bingung karena dia bimbang untuk melanjutkan kuliah atau tidak karena ekonomi keluarga yang pas-pasan.
Di dalam kamar Oca melamun dan merenung.
Dia berbicara pada dirinya sendiri,
“Apakah saya bis melanjutkan kuliah ya?“
“Tapi kalu saya tidak melanjutkan kuliah cita-cita saya ingin menjadi seorang guru SD pasti tidak akan terwujud.”
Kemudian dengan perasaan yang yakin dia mencoba berbicara kepada kedua orang tuanya!
Pada malam harinya seperti biasa ayah, ibu dan kakaknya berkumpul di ruang keluarga sambil melihat TV. Pada saat itu Oca memberanikan diri untuk berbicara kepada orang tuanya meminta izin untuk melamjutkan kuliah.
Di ruang keluarga.
Oca duduk disamping orang tuanya sambil tersenyum-senyum semdiri.
“Ibu ; Kamu kenapa Ca kok senyum-senyum sendiri begitu?“
“Oca ; Enggak kok, (jawabnya sambil tersenyum)”
“Ratna ; Halah pasti ada maunya itu.”
“Ayah ; Iya Oca bilang saja, gak usah malu-malu, Apa keinginanmu bilang saja ke Ayah.”
“Ibu ; Iya Oca bilang saja!”
“Oca ; Begini Pak-Buk, kalau saya ingin melanjutkan kuliah bagaimana?”
“Ibu ; Kamu benar-benar ingin melanjutkan kuliah?”
Ayah ; Kalau kuliah itu biayanya besar lo Ca.”
“Ratna ;Memeng ayah biaya kuliah itu besar, tetapi kalau Oca mempunyai niat untuk melanjutkan kuliah kenapa tidak kita dukung saja, lagian Oca juga anaknya pintar.”
“Ayah ; Ya sudah kalu kamu benar-benar ingin melanjutkan kuliah ayah hanya bisa membantu membiayai kuliahmu.”
“Ibu ; kalau kamu sudah benar-benar yakin untuk melanjutkan kuliah Ibu hanya bisa mendoakan saja supaya kuliahmu lancar.”
“Oca ; Terima kasi ya Bapak-Ibu, terima kasih juga buat kakak karena sudah member dorongan dan mendukung Oca untuk melanjutkan kuliah.”
Setelah malam itu Oca menjadi benar-benar yakin untuk melanjutkan kuliah. Setlah itu dibuka pendaftaran SNMPTN. Dengan penuh semangat dia mendaftar di jurusan PGSD. Setelah mengikuti tes dia dinytakan masuk pada jurusan PGSD tersebut. Kemudian Oca membertiahukan kabar bahagia itu kepada keluarganya.
Pada waktu masuk di lingkungan kampus dia merasa asing sekali di lingkungan barunya itu. Pada waktu dia mencari kos-kosan dia beruntung karena dia mendapatkan tempat kos-kosan yang dekat dengan kampus dan Ibu kos yang baik pula. Kemudian dia menjalani kuliah awalnya dengan semangat.
Oca adlah anak yang aktif di dalam kelas. Dia aktif bertanya dan berpendapat pada waktu di dalam kelas. Sehingga pada waktu semester pertamanya ini dia mendapatkan nilai yang bagus, Oca mendapatkan beasiswa prestasi pada waktu semester dua. Pada waktu semester satu dulu setiap satu bulan sekali dia pulang karena biaya kuliah dan biaya hidupnya dia masih bergantung kepada orang tuanya. Tetapi pada waktu semester dua ini dia ingain mencar pekerjaan yang bisa dibagi waktunya dengan kuliah. Oca ingin membantu orang tuanya untuk membiayai kuliah dan biaya hidupnya pada waktu dia kuliah.
Pada waktu semester dua Oca kuliah dan sambil bekerja di sebuah toko kue di dekat kos-kosannya. Setelah dia bekerja di toko kue tesebut dia jadi jarang pulang karena gaji hasil dai bekerja sebagai penjaga toko tersebut sudah lumayan bisa untuk membantu biaya hidupnya. Oca sangat senang sudah bisa bekerja meskipun hanya sebagai penjaga toko kue, karena dia selalu ingat pesan kedua orang tuanya bahwa kalau kuliah itu harus sungguh-sungguhkerena orang tuanya bekerja keras untuk bisa mencukupi biyaya kuliahnya. Meskipun Oca senag bekerja sebagai penunggu toko, dia sering merasakecapekan dan Oca biasanya merasa mengantuk pada waktu jam kuliah. Itu karena Oca baru kali ini merasakan bekerja. Dan pada waktu semester dua berakhir nilai IPK oca menurun. Ocapun dipanggil oleh dosen pembimbing dan Oca diberi nasehat oleh pembimbingnya tersebut.
Di kantor jurusan. (siang hari)
“Oca ; Assalamualaikum, selamat siang Ibu,. Ada apa Ibu memenggil saya?”
“Dosen ; Ibu mau bertanya, kenapa kok nilai IPK semester dua ini nilainya kok menurun?”
“Oca ; Mungkin karena saya sering kecapekan Bu, kan saya waktu pulang kuliahbekerja sebagai penunggu toko dan pulang kerja itu jam 21.00 dan biasanya kalau ada tugas sepulang dari kerja itu saya mengerjakan tugas tersebut!”
“Dosen ; Memengnya kenapa kok kamu bekerja juga?”
“Oca ; Saya bekerja karena saya ingin membantu oragntua saya untuk membiayai kuliah saya Bu.”
“Dosen ; Ya sudah kalau begitu untuk semester depan kamu harus bisa meningkan nilai IPK kamu ya!”
“Oca ; Iya Ibu saya pasti akan berusaha untuk bisa meningkatkan nilai IPK saya.”
“Dosen ; Kalau begitu butikan ya, dan kamu yang semangat kuliahnya dan buat orang tuamu bangga kepadamu!”
“Oca ; Iya Bu, terima kasih.”
Karena pada waktu semester dua nilainya menurun, beasiswa yang sudah dia dapat pada waktu semester satu dulu dicabut.
Sekarang Oca tetap bekerja di toko kue. Oca membiayai kuliah dengan cara dia mengumpulkan uang hasil kerjanya itu dan di bantu orang tuannya. Waktu akhir semester tiga nilai Oca naik lagi dan pada waktu semester empat dan seterusnya sampai semester tujuh nilai IPK Oca selalu naik.
Pada waktu semester delapan Oca mendapatkan kendala untuk biaya kuliahnya. Karena banyak biaya ini-itu yang musti di keluarkan untuk kebutuhan kuliahnya. Pada waktu semester akhir tersebut Oca beruntung karena kakaknya juga ikut mambantu untuk membiayai kuliahnya. Akan tetapi Oca juga tetap bersemangat untuk bekerja agar kuliahnya bisa tercukupi.
Akhirnya dengan semangat dan kerja kerasnya Oca dapat menyelesaikan kuliahnya dengan nilai yang sangat memuaskan. Setelah lulus kuliah tersebut Oca mencoba melamar untuk mengajar di beberapa sekolah SD di dekat rumahnya. Aknirnya setelah susah payah menajukan diri untuk mengajar, Oca di izinkan mengajar di sebuah sekolah yang agak jauh dari rumahnya. Oca sudah senang karena dia sudah bisa mengajar. Kenudian setelah selang waktu satu tahun dia mengajar kemudian ada pengangkatan Pegawai Negeri. Oca mencoba mecoba ikut tes. Setelah oca mengikuti tes tersebut kenudian Oca diterima menjadi PNS. Pada waktu dia menjadi PNS itulah Oca benar-benar merasa bahwa cita-citanya telah tercapai dan dia bisa membahagiakan orang tuannya karena Oca bisa berhasil.

BINTANG YANG BERSINAR baharudin

Diposting oleh DUNIA TP 2009 B

BINTANG YANG BERSINAR

“Bapak....Bapak....Bapak... teriak Bintang dalam mimpinya
“Bintang, bangun nak” kata Ibunya sampil membangunkan Bintang
Dan Bintang pun terbangun di terkejut karena Ibunya ada didepannya
“Bintang, kamu mimpi bertemu Bapakmu lagi ya” kata Ibunya dengan halus
Bintang pun menangis
“Bintang, kamu harus bisa merelakan Bapakmu, karena Bapakmu sudah tenang disana” tambah Ibu Bintang
“iya Bu” jawab singkat Bintang
“ya sudah sekarang kamu bangun dan cepat mandi terus makan” kata Ibunya
Ibunya langsung meninggalkan Bintang dan Bintang pun masih memikirkan pesan Bapaknya sebelum Bapaknya meninggal
“Bintang, kamu laki-laki, kamu harus bisa menjaga Ibumu dan kedua adikmu. Karena Bapak harus pergi meninggalkan keluarga ini” kata Bapaknya
“Bapak mau kemana” jawab Bintang dengan polos
“Bapak mau pergi jauh, dan kamu harus menjaga ibumu dan kedua adikmu. Bapak yakin kalau kamu akan bisa menjai Bintang Yang Bersinar dikemudian hari nanti” kata Bapaknya
“iya Bapak, Bintang janji akan menjaga Ibu dan adik-adik. tapi Bapak mau pergi kemana” jawab Bintang sambil menangis
“terima kasih Bintang, dengan begini Bapak bisa pergi dengan tenang” kata Bapaknya sambil memeluk Bintang
“iya Bapak, tapi Ba...”
Sebelum Bintang selesai berbicara Bapaknya langsung menaruh kepalanya ke pundak Bintang dan Bintang pun menbangunkan Bapaknya, tapi apa boleh buat akhirnya Bapaknya meninggal dalam pelukan Bintang. Bintang pun terus membangunkan Bapaknya sambil menagis, karena mengetahui Bintang menagis dengan kencang, Ibu dan kedua adiknya pun menuju Bintang. Ketika Ibunya mengatahui kalau Suaminya meninggal Ibunya langsung pingsan.
Suara pintu kamar terbuka dan Ibunya membangunkan Bintang dalam lamunanya. Bintang pun terkejut karena tiba-tiba Ibunya datang dan langsung membangunkan Bintang dalam lamunannya.
“Bintang, sudahlah, kamu harus bisa mengiklaskan Bapakmu, karena dengan begitu Bapakmu bisa pergi dengan tenang” kata Ibunya sambil mengingatkan Bintang terus
“iya Bu, tapi...” kata Bintang. Belum selesai berbicara Ibunya memotong pembicaran
“sudah, sekarang cepat mandi dan langsung makan, sudah ditunggu adik-adikmu dari tadi” kata Ibunya
“iya Bu” jawab Bintang denag singkat dan langsung bergegas kekamar mandi dan menemui adik-adiknya untuk makan pagi
****
3 tahun setelah kepergian Bapaknya, Bintang sudah bisa bersemangat lagi karena Ibunya yang selalu meyemangati Bintang agar dia bisa mengiklaskan kepergian Bapaknya.
Bintang adalah anak telahir dari keluarga yang sederhana. Tiap sehabis pulang sekolah Bintang selalu membantu Ibunya menjualkan roti bakarnya dan dia mempunyai Sahabat disekolahnya yaitu Chiko. Chiko adalah anak ang terlahir dari keluarga yang sangat mampu tetapi dia selalu membatu Bintang saat Bintang sedang dalam keadaan susah. Disekolah Bintang dan Chiko selalu memanfaatkan waktu untuk pergi keperpustakaan. mereka sekarang sedang duduk dibangku kelas 1 SMP.
Keesokan harinya Bintang dan kedua adiknya berangkat sekolah bersama karena jarak sekolah mereka sangat dengan begitu Bintang bisa melindungi kedua adiknya. Sesampai di sekolah Bintang langsung masuk kelas dan Chiko disana sudah menunggu didepan kelas. Bel berbunyi pertanda masuk kelas. Bintang dan Chiko langsung duduk dibangku dan mendengarkan guru menjelaskan materi. Beberapa jam telah berlalu. Bel istiraha berbunyi Bintang dan Chiko langsung menuju kanti karena mereka sudah terasa lapar. Mereka langsung memesan makanan dan menungu di taman sambil mengobrol. Beberapa menit merka menungu akhirnya makanan yang dipesan pun datang. Bintang dan Chiko langsung menyatapnya karena mereka sudah terasa lapar. Selesai makan mereka melanjutkan pembicaraan yang tadi sambil menunggu bel berbunyi. Akhirnya bel berbunyi mereka berdua masuk kelas dan langsung mendengarkan guru memberikan materi. Beberapa jam kemudian akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Bintang dan Chiko bergegas pulang. Sesampai dirumah Bintang langsung membersihkan badannya dan meminta rori bakar ke Ibunya untuk dijual. Setelah itu Bintang langung pamit dan bergegas menjual roti bakarnya ketempat keramaian.
“Roti..Roti..Roti... Buk, Pak... Roti bakarnya... enak lho...” kata Bintang sambil menawarkan roti bakar buatan Ibunya.
Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Bintang pun tetap berusah menjual roti bakarnya. Tapi karena hujan yang begitu deras akhirnya Bintang mencari tepat untuk berteduh. Bintang pun hanya duduk-duduk saja. Lama kelamaan Bintang mulai bosan dia mencari ide. Dan akhirnya dia menemukan ide untuk mengamen saja, karena dari pada nanti dia tidak pulang tidak membawa hasil maka dari itu lebih baik bBintang ngamen dibis-bis saja. Setelah menemukan ide itu Bintng langsung bergegas melaksanakannya. Dia pun mencari bis berhenti. Setelah mendapatkan bis dia masuk dan lagsun ngamen
Biayarkan ku memelukmu...
Memanjakanmu...
Tidurlah kau dipelukku
Dipelukku....dipelukku...
setelah ngamen di bis-bis bintang pun mendapatkan uang. Dan dia beristirahat karena hujan masih turun denga deras. Ketika sedang beristirahat ada seorang Ibu-ibu mendekat, ternyata dia juga mencari tempat untuk berteduh. Ibu itu pun mengajak Bintang berbicara.
“hay dek, lagi ngpain disini” kata Ibu itu
“iya nich Bu, lagi berteduh” jawab Bintang
“nama adek siapa” tanya Ibu itu
“Bintang, Bu, kalau Ibu sendiri” jawab Bintang
“nama Ibu Mawar,” jawab singkat
“ngomong-ngomong Bintang, bawa apa itu” tanya Ibu Mawar lagi
“oh ini Bu, (sambil menunjukan) ini roti bakar bu, buatan Ibu saya sendiri” jawab Bintang
“coba ibu lihat (Bintangpun menunjukan roti bakar itu) boleh ibu coba” kata Ibu Mawar
“oh, boleh Bu, silakan” jawab Bintang dengan senang hati
Ibu Mawar pun mengambil dan langsung mencoba roti bakar tersebut. Ibu Mawar sangat senang dengan roti bakar itu.
“wah, enak sekali ya Bint, ibu beli semua ya. Mumpung dirumah banyak keponakan ibu” kata Ibu Mawar
“wah boleh bu dengan senang hati” jawab bintang denga gembira
Ibu Mawar langsung mengambil dan memberikan uangnya. Ketika sedang membayar tiba-tiba ada mobil berhenti dan Ibu Mawar langsung menuju sana dan meninggalkan Bintang. Bintang pun langsung lari menuju rumah sambil hujan-hujan, karena dia sangat senang akhirnya dagangannya bisa habis terjual. Sesampai dirumah Bintang segera memberitahu Ibunya dan Ibunya sangat senang dengan kerja keras Bintang.
***
Keesokan harinya seperti biasa Bintang berangkat sekolah bersama adik-adiknya. Sesampai disana di duduk-duduk ditaman terlebih dahulu. Saat sedang duduk Chiko menghapirinya. Saat sedang asik mengobrol bel masuk berbunyi. Bintang dan Chiko segera masuk kelas dan menunggu guru masuk dan memberikan materi yang akan disampaikan. beberapa jam kemudian bel istirahat berbunyi. Bintang dan Chiko seperti biasa langsung menuju kantin. Sesampai disana mereka memesan makanan. Dan langsung duduk ditemapt yang disediakan. Ketika sedang asyik menunggu dan berbicara Bintang dapat panggilan kekantor. Dia langsung menuju kantor dan menemui Ibu Wali Kelas. Sesampai disana Bintang diberikan surat. Bintang sangat terkejut karena mengapa diharu diberi surat itu. Setlah menerima surat itu, Bintang langsung kekamar mandi dan membaca surat itu, dia sangat terkejut karena dia mendapat surat untuk segera melunasi SPP selama 3 bulan. Bintang pun langsung menuju kelas dan mengambil tasnya untuk pulang kerumah. Chiko yang dari tadi menunggu Bintang, sudah merasa capek dan akhirnya Chiko segera masuk kelas dan mencari Bintang. Tetapi Bintang sudah tidak ada. Chiko mencarinya dan di diberitahu temannya kalau Bintang sudah pulang.
Sesampai dirumah Bintang langsung meminta roti bakarnya tanpa membersihkan badanya terlebih dahulu. Ibunya pun langsung memberikan roti bakarnya dan Bintang segera menjual roti bakar tersebut. Selain menjual roti bakar Bintang juga ngamen ke bis-bis karena dia berusaha mencari uang buat membayar SPP. Bintang melakukan hal itu sampai jam menunjuka angka 9 padahal biasanya hanya sampai jam 5. Ibunya pun sangat cemas. Setelah jam menuju angka 9 Bintang segera pulang. Sesampai dirumah Bintang tak menemukan Ibunya dirumah tetapi dia malah menemukan surat pemebritahuan untuk membayar SPP milik kedua adiknya. Bintang sangat sedih jika dalam waktu 2 minggu tidak bisa membayar maka dia dan adik-adiknya tidak bisa melanjukan sekolah. Bintang langsung masuk kamar dan mencari ide buat membawar SPP sebesar 500rb. Beberapa menit Bintang mencari ide akhirnya di menemukannya. dan Bintang tinggal menunggu hari esok untuk mencari uang buat membayar SPP.
***
Keesokan harinya seperti biasa Bintang dan kedua adiknya berangkat sekolah bersama. Tetapi ketika sudah samapi disekolah Bintang tidak masuk kesekolahannya dia malah pergi dan mencari tempat untuk berganti baju. Setelah berganti baju Bintang ngamen sambil menjual koran. Beberapa jam kemudian ketika para siswa sudah pulang sekolah Bintang langsung berganti pakaian sekolah kembali dan langsung pulang kerumah. Sesampai dirumah seperti biasa Bintang meminta roti bakar dan segera menjualnya tanpa membersihkan badannya terlebih dahulu. Setelah roti bakar itu diberikan Bintang segera pamit dan langsung keluar mencari temapt yang ramai agar roti bakarnya habis terjual. Selain menjual roti Bintang masih tetap saja ngamen. Waktu sudah menunjukan jam 9 Bintang langsung pulang kerumah untuk beristirahat.
Sudah 1 minggu lebih Bintang selalu melakukan hal itu dan dia juga tak pernah masuk sekolah karena di harus berusaha mencari uang agar Bintang dan Adik-adiknya bisa tetap bersekolah.
Ketika sedang ngamen di bis, Bintang bertemu dengan Ibu Mawar. Bintang sangat terkejut mengapa Ibu Mawar harus naik bis, padahal Ibu Mawar mememiliki mobil pribadi. Setelah ngamen Bintan langsung turun dan Ibu Mawar juga ikut turun. Dan mereka berdua langsung duduk di taman dan berbincang-bincang.
“sore Bint,” kata Ibu Mawar
“sore juga Bu, tumben naik bis” tanya Bintang
“iya nich, tadi mobil Ibu mogok, dan nungu taksi ga lewat-lewat ya sudah naik bis aja dech. Roti bakar kamu masih Bint, Ibu lapar nich” kata Ibu Mawar
“ow masih Bu, tapi tinggal sedikit” jawab Bintang
“ya sudah sini ibu, beli” kata Ibu Mawar
“silakan Bu” jawab Bintang sambil memberikan roti bakarnya
Setelah mengambil roti bakar, langsung dimakan roti bakar tersebut, sambil mengajak ngobrol Bintang
“Bint, ngomong-ngomong tadi suara kamu enak juga ya” puji Ibu Mawar
“ga juga Bu,”jawab Bintang
“iya beneran lho, sura kayak gitu kalau ga kamu manfatin mubazir lho Bint” kata Ibu Mawar
“maksudnya Bu” Bintang bingung dengan ucapan Ibu Mawar
“maksudnya kenapa kamu ga ikut audisi saja, kamu kan memiliki suara yang bagus” kata Ibu Mawar
“pengenya sich gitu Bu, tapi jau banget” jawab Bintang
“kamu beneran pengen ikut, Bint” tanya Ibu Mawar
“iya Bu,” jawab singkat Bintang
“ ya sudah, besok Ibu tunggu disini jam 8 kalau kamu pengen ikut audisi itu” kata Ibu Mawar
“beneran Bu, oke Ibu, besuk saya tunggu disana” jawab Bintang
Setelah selesai mengobrol, Ibu Mawar langsung naik bis dan meninggalkan Bintang. Bintang dengan senang hati langsung berkerja lagi dan tidak sabar untuk menunggu hari esok. Setelah jam menunjukan angka 9 Bintang langsung pulang kerumah dan tidur untuk menunggu hari esok.
***
Keesokan harinya Bintang dengan semangat langsung bergegas mandi dan sarapan. Langsung berangkat sekolah, tetapi sesampai disekolah Bintang langsung pergi ketaman untuk menemui Ibu Mawar. Beberapa Jam Bintang menunggu Ibu Mawar, Ibu Mawar tidak muncul-muncul, ketika jam menunjukan setengah 9 Ibu Mawar baru datang, Bintang sangat senang. Setelah itu, Ibu Mawar langsung mengajak Bintang naik kemobilnya dan langsung menuju temapt audisi.
4 jam mobil itu meluncur akhirnya Ibu Mawar dan Bintang sampai juga ketempat audisi. Disana Bintang menunggu panggilan. Dia sangat cemas apakah dia bisa lolos audisi. Beberapa jam akhirnya Bintang dipangil juga. Dan Bintang menyanyikan sebuah lagu. Setalah menyanyi Bintang langsung keluar dan menunggu hasil pengumuman. Beberapa jam kemudian hasil pengumuman audisi di beritahukan dan Bintang pun lolos ketahap berikutnya dan dia berhak pergi ke Jakarta untuk mengikuti audisi selanjutnya.Setelah itu, Bintang langsung memberitahukan ke Ibu Mawar yang menunggu di Mobil. Ibu Mawar sangat senang dan setelah itu mereka langsung pulang kekampung halaman.
Sesamapi dirumah Bintang, Ibu Mawar langsung pulang, dia tak mampir terlebih dahulu dirumah Bintang. Ketika masuk rumah, Bintang sangat terkejut karena dirumahnya sudah ada Chiko yang menunggu.
“malam Chik” sapa Bintang
“malam juga, habis dari mana Bint? Kok baru datang” tanya Chiko
“iya ini baru saja. Ada keperluan sama seseorang” jawab Bintang
Ibu Bintang pun langsung memotong pembicaraan Chiko dan Bintang
“Bint, kemana saja kamu selama ini, kata Chiko kamu tak pernah masuk sekolah” tanya Ibunya
Bintang diam saja
“Bint, jawab pertannya Ibu, kemana saja kamu selama ini dimana, kenapa tidak masuk sekolah” tanya Ibunya
“maafkan Bintang Bu, Bintang selama ini mencari uang untuk membayar SPP adik-adik” jawab Bintang sambil bersedih
“apa Bintang” Ibunya sanag terkejut
“iya Bu, maafkan Bintang” kata Bintang
“Bintang sebenernya Ibu yang salah mengapa harus menyuruh kamu berkerja, padahal kamu harus berusaha” kata Ibunya
“ga papa Ibu, ini sudah kewajiban Bintang sebagai anak laki-laki” kata Bintang
“iya Bintang, perbuatan kamu ini bagus, tapi Ibu mohon jangan ulangi lagi ya” kata Ibunya
“iya Bu” jawab singkat
“ya sudah bsok kamu harus sekolah” kata Ibunya
“tapi bu...”
Chiko memotong pembicraan Ibu Bintang dan Bintang
“sudahlah Bintang, uang SPP kamu sudah aku lunasi kok” kata Chiko
“apa Chik” Bintang sanag terkejut
“iya Bint, sudah aku lunasi” jelas Chiko
“Chik, bagaimana cara aku membalas kebaikanmu ini” kata Bintang sambil memluk Chiko
“sudahlah Bint, aku adalah sahabatmu,” kata Chiko
Setelah mereka lama berbicara dan hari sudah malam, Chiko langsung pamit dan pulang sekolah karena besok harus sekolah.
***
Keesokan harinya ketika Bintang mau berangakt sekolah, Bintang melihat Ibunya gelisah, dan Bintang langsung mendekati Ibunya
“Ibu kenapa” tanya Bintang
“tak apa-apa Bint” jawab singkat Ibunya
“Ibu jangan merahasikan sesuatu kepad Bintang donk” kata Bintang
“Ibu masih bingung bagaimana bayar SPP buat adik, ya” tanya Bintang
“iya Bu,” jawab singkat Ibunya
“ini Bu, Bintang ada uang untuk membayar SPP adik-adik” kata Bintang sambil memberikan uang kepada Ibunya
“apa ni Bintang” tanya Ibunya
“ini uang untuk membayar SPP adik-adik Bu” jawab Bintang
Ibunya langsung memeluk Bintang dan menangis.
“makasih Bintang, tak sepantasnya kamu seperti ini” kata Ibunya
“sudalah Bu, sekarang Bintang mau berangkat sekolah dulu” kata Bintang
Setelah itu Bintang berangkat sekolah. dan sesampai disana Bintang langsung masuk kelas dan mendengarkan guru memberikan materi
***
1 bulan kemudian setelah lama Bintang menunggu agar dia bisa berangakat ke Jakarta akhirnya terlaksana juga. Ibu Mawar pun menjemput dirumahnya. Kali ini Bintang berangkat bersama Ibunya dan kedua adik-adiknya. Beberapa jam akhirnya Bintang samapi juga di Jakarta. Disana dia langsung menuju ketempat audisi. Sesamapi disana Bintang merasakan hal yang sama seperti dulu. Dia sangat deg-degan. Dia menunggu panggilan. Dan ketika Bintang di panggil Bintang sanag grogi dia berusah untuk menyanyi dengan baik, dan hasilnya sangat memuaskan. Bintang masuk menjadi peserta dalam ajang tersebut. Bintang sanagt senang dia langsung memebritahu Ibunya dan Ibu Mawar. Mereka sangat senang. Setelah itu mereka harus kembali kekampung halamannya karena persaingan akan dilanjutkan 2 bulan lagi.Setelah beberapa jam merka melakukan perjalanan. Akhirnya sampai juga kekampung halaman. Dirumah Bintang sudah disambut oleh Chiko
“Bint, selamat ya akhirnya impian kamu dapat terwujud juga” kata Chiko
“iya Chik, sama-sama” jawab Bintang
Mereka berbincang-bincang sangat asyik. Sampai tidak tau kalau hari sudah malam dan Chiko harus pulang dan Bintang harus beristirahat karena telah melakukan perjalanan jauh. Keesokan harinya setelah pulag sekolah Bintang langsung kemakam Bapaknya. Karena berkat Bapaknya motivasi yang diberikan Bapaknya dulu dapat membantu Bintang meraih apa yang diinginkan.
***
2 bulan kemudian Bintang dan Ibunya berangkat ke Jakarta untuk mengikuti ajanag nyanyi tersebut. Adik-adiknya pun dititipkan ke Ibu Mawar karena Ibu Mawar sudah dia anggap sebagai saudara. Beberapa jam perjalanan akhirnya Bintang dan Ibunya samapi juga di Jakarta. Sesamapi disana Bintang dan Ibunya dipersilakan istirahat. Karena besok harus memulai ajang nyanyi tersebut.
Ajang nyanyi tersebut dimulai, Bintang pun berusaha untuk mendapatkan impiannya. Minggu demi minggu Bintang bertahan dan akhirnya Bintang berhasil masuk final. Ketika di final Bintang sanag deg-degan karna apakah dia berhasil mendapatkan Impiannya itu.
Setelah memasuki babak Final, Bintang pun berusaha mati-matian untuk mendapatkan juara. Dan ketika pembawa acara tersebut mengumumkan Bintang sangat degdegan
“dan pemenangnya adalah.... Bintang....” kata pembawa acara tersebut
Bintang pun bersujud syukur karena dia berhasil mendapatkan impiannya tersebut, dan Ibunya terharu karena anak laki-lakinya dapat meraih apa yang diingikan Bapak Bintang dan Bintang. Akhirnya Bintang mendapatkan beasiswa selama 3 tahun dan mendapatkan uang 50 juta. Bintang sangat senang karena dia sudah tidak perlu ngamen dan menjual roti bakar lagi.Setelah Bintang mendapatkan juara itu. Dan harus tinggal di Jakarta selama 2 minggu.
2 minggu berjalan akhirnya Bintang sudah bisa pulang kekampung halaman. Dia sangat senang karena bisa menjenguk makam Bapaknya lagi. Perjalanaan beberapa jam akhirnya Bintang sampai juga dirumahnya, disana Bintang disambut oleh Ibu Mawar, Chiko, adik-adiknya. Setelah sampai dirumah Bintang langsung menuju makam untuk memberitahu Bapaknya kalau Bintang dapat meraih apa yang diinginkan Bapaknya dan Bintang.
Selesai dimakam, Bintang langsung pulang beristirahat. Tetapi disana ada Ibu Mawar dan Chiko untuk memberikan selamat
“Bintang, selamat ya akhirnya impianmu tercapai juga” Kata Chiko dan Ibu Mawar
“iya sama-sama, ini juga berkat kalian, tanpa kalian Bintang ga bisa menjadi seperti ini” jawab Bintang
“iya Bint, tapi memang suara kamu bagus, makanya kamu berhasil” kata Chiko
“betul itu kata Chiko” tambah Ibu Mawar.
Mereka berbicara samapi hari sudah sore, setelah itu Ibu Mawar dan Chiko pamit pulang. Setelah mereka pulang Bintang beristirahat.
Selanjutnya ketika malam hari Bintang sedang duduk di teras, Ibunya mendekat dan mengajak ngobrol Bintang
“Bintang, maafkan Ibu, karena Ibu sudah menyuruh kamu berkerja” kata Ibunya
“tidak Bu, ini sudah kewajiban Bintang, sudalah Bu” jawab Bintang
“iya Bint, tapi karena Ibu, kamu tidak bisa bermain seperti anak-anak yang lain” kata Ibunya
“sudalah Bu, ini semua juga keingin Bintang” kata Bintang
Ibu Bintang langsung memeluk Bintang dan menangis di pundak Bintang sambil mengucapakan
“Bintang akhirnya kamu bisa menjadi Bintang yang bersinar, sesuai dengan keiginan Bapakmu”
Setelah itu Ibu Bintang menemui adiknya sedangkan Bintang langsung masuk kamar dan melihat foto Bapaknya sambil mengucapakan
“Bapak, Bintang sekarang sudah menjadi sesuai dengan ke inginan Bapak yang dulu. Bintang sudah menjadi Bintang Yang Bersinar. Tapi Bintang akan janji kalau Bintang tak akan menjadi sombong karena Bintang tau kalau semua ini hanya sementara. Dan Bintang akan selalu menyinari keluarga ini sesuai dengan keinginan Bapak. disini Bintang akan selalu menjaga Ibu dan Kedua Adik Bintang karena Bintang sudah berjanji dengan Bapak.”
Sambil melihat foto bintang menangis dan membayanagkan andaikan Bapaknya juga bisa merasakan kebahagiaan yang diperoleh Bintang sekarang ini. Bapak doakan Bintang
“semoga Bintang selalu menjadi Bintang Yang Bersinar selalu”
^_^ the and ^_^

cerpen "“THE POWER RANGERS”

Diposting oleh DUNIA TP 2009 B

“THE POWER RANGERS”
Setelah makan siang, Dina dan Sany bergegas menuju kantor tempat mereka bekerja. Namun saat mereka akan menuju mobil, mereka dihampiri segerombolan pengamen kecil yang berusia sekitar 9 tahunan. Pengamen-pengamen kecil tadi pun berniat untuk menghibur kami berdua sebelum kami melanjutkan pekerjaan yang akan kami lakukan. Sany bertanya kepada pengamen-pengamen kecil “ adek, apa kamu sudah nggak sekolah??? Kuq jam segini sudah ngamen???”. Dan pengamen kecil pun menjawab “ kami baru selesai sekolah kak, dan langsung ngamen bersama-sama”. Saya bertanya-tanya banyak tentang mereka, mulai dari sekolah mereka, rumah mereka, orang tua mereka sampai kebiasaan mereka setiap harinya. Dan ternyata beberapa diantara mereka bukan berasal dari keluarga yang kurang mampu, namun mereka melakukan hal ini karena mereka ingin membantu sahabat mereka yang sedang kesusahan.
Setelah mendengar cerita mereka, sany dan dina teringat dengan masa lalu bersama para sahabat. Persahabatan mereka terdiri dari Sany, Edo, Dina, Dimas, dan Tobi. Mereka berlima bersahabat sejak masuk sekolah tingkat pertama (SMP), saat itu mereka benar-benar dalam kesulitan saat ospek karena waktu itu mereka belum membuat pekerjaan yang diperintahkan oleh kakak kelas mereka dan akhirnya mereka dihukum bersama-sama. Dari situ awal mula persahabatn mereka, dan mereka semua berasal dari keluarga yang berbeda-beda status sosialnya.
Saat itu mereka berada dibangku kelas VII atau dengan kata lain kelas 1 SMP. Saat mereka akan mendekati ulangan akhir semester, Tobi, Sany, dan Edo melihat Dina dan Dimas menjadi lebih pendiam dan sering menyendiri. Dan hal itu membuat tobi, sany, dan edo menjadi bingung dengan tingkah laku teman mereka. Dan akhirnya mereka bertiga membagi tugas untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan kedua sahabat mereka.
Saat pulang sekolah, sany mengikuti dina sampai dirumahnya dan dia melihat setiap kegiatan yang dilakukan dina. Dan saat itu dina berkata kepada ibunya bahwa dia sebentar lagi akan ulangan akhir semester dan membutuhkan uang untuk mengikuti ulangan tersebut. Ibu dina pun berkata “ ibu masih belum punya uang nak, jadi kamu sabar ya”. Sany sangat sedih saat itu karena dia baru mengetahui keadaan sahabatnya yang sangat membutuhkan bantuannya. Dan ternyata penyelidikan tobi dan edo juga sama, mereka berdua melihat dimas yang sedang membantu neneknya menjual kue-kue dipasar. Tidak hanya itu, dimas juga mejual kantong-kantong plastic di pasar setiap libur sekolah. Tobi, sany, dan edo benar-benar merasa bersalah karena selama ini mereka tidak mengetahui keadaan kedua temannya yang sangat membutuhkan bantuan.
Keesokan harinya saat bel istirahat berbunyi tobi, edo, dan sany membawa dina dan dimas kebelakang kelas. Mereka bertiga mengintrogasi dina dan dimas. Awalnya dina dan dimas tidak mau mengakui keadaan yang sebenarnya. Namun setelah didesak akhirnya mereka mau menceritakan semua masalah yang sedang mereka alami. Tobi, sany, dan edo sudah mengetahui pokok permasalahannya yaitu masalah ekonomi. Dan disitu mereka mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini, dan tanpa sengaja sany berceloteh “ gimana kalau kita jualan, entah jualan apa aj terserah yang penting kita gag lupa sama sekolah kita dan nggak susah buat kita”. Dina dan dimas secara serentak menolak saran yang di berikan oleh sany “ nggak, kita berdua nggak setuju usul kamu. Aku nggak mau buat temen-temenku susah”. Dan tanpa banyak berdebat usul dari sany pun diterima oleh edo dan tobi karena itu yang bisa mereka lakukan buat membantu dimas dan dina.
Hari itu hari minggu mereka berkumpul di rumah sany untuk menjalankan misi mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 dan semuanya sudah berkumpul dirumah sany. Tobi pun membuka pembicaraan “ kita harus cepat pergi ke pasar sebelum pasarnya tutup dan kita kumpulin dulu uang yang kita punya sebelum kita belanjakan untuk dijual dipasar nanti”. Setelah mengumpulkan uang,mereka berlima berangkat untuk menuju pasar dengan bersepada. Sesampainya dipasar mereka membeli plastik belanjaan untuk dijual keliling kedalam pasar. Selain plastik belanjaan, mereka mejual dagangan kue yang dibuat oleh nenek dimas. Mereka membagi tugas untuk menjual dagangan mereka. Setelah semua dagangan mereka habis terjual, mereka menghitung penghasilan yang mereka dapat. Mereka bingung apa yang akan mereka lakukan besok agar mereka dapat menghasilkan uang. Dan akhirnya mereka menemukan ide yaitu memberikan semua uang pada nenek dimas untuk dibuatkan kue seperti yang dijual tadi, setelah itu kue-kue tadi akan di titipkan ke setiap toko yang mereka lewati saat berangkat sekolah dan tidak lupa pada kantin sekolah mereka.
Setelah dilaksanakan, ternyata ide tersebut berhasil dan menghasilkan banyak uang. Tidak hanya itu, selain menitipkan kue di toko-toko mereka juga menjual kantong plastik di pasar tiap pulang sekolah. Namun mereka semua tidak melupakan kewajiban mereka sebagai siswa, mereka selalu menyempatkan belajar bersama setiap hari seusai berjualan plastik dipasar dan tempatnya pun bergantian. Mereka berlima merupakan siswa berprestasi yang ada di sekolah. Meskipun mereka harus berjualan kue dan kantong plastik seusai sekolah untuk membantu sahabat-sahabatnya yang sedang membutuhkan bantuan. Sampai-sampai mereka berlima mendapat julukan “Power Rangers” karena mereka dapat berubah setelah pulang sekolah seperti berubah menjadi penjual kue, berubah menjadi penjual kantong plastik, dab sebagainya.
Ulangan akhir semester tinggal beberapa hari lagi namun dina dan dimas belum membayar uang UTS karena uang yang mereka kumpulkan belum mencukupi. Dan akhirnya sany berinisiatif meminta keringanan untuk dina dan dimas agar mereka dapat mengikuti ulangan akhir semester karena uang yang mereka kumpulkan belum mencukupi untuk membantu mereka berdua. Dan guru-guru juga menyetujui apa yang diungkapkan sany karena guru-guru tersebut tahu apa yang sudah mereka lakukan untuk membantu dina dan dimas.
Ulangan akhir semester telah tiba, mereka berlima berangkat ke sekolah bersama-sama dengan menaiki sepeda. Sesampainya di sekolah mereka berkumpul di depan perpustakaan dan melakukan ritual sebelum memasuki ruangan yaitu dengan berdoa bersama sambil berpelukan. Setelah ritual selesai dilakukan, mereka akan pergi ke ruang ujian mereka masing-masing. Setelah pulang sekolah mereka pergi ke pasar untuk mencari uang tambahan karena uang yang mereka butuhkan masih kurang sedikit lagi.
Ulangan akhir semester telah usai dan uang yang mereka kumpulkan sudah cukup untuk membayar UAS dina dan dimas. Namun saat uang itu akan diserahkan ke guru TU, guru TU tersebut berkata “ sudah bawa saja uang itu!!!!!” mereka berlima menjadi kebingungan dan bertanya kembali pada guru TU “loo kenapa uangnya dikembalikan bu??? Kan dina sama dimas belum bayar uang UAS”. Dan terjadi perdebatan antara guru TU dengan mereka berlima hingga Bapak Kepala Sekolah keluar dari ruangannya dan menghampiri mereka berlima. “ Ada apa ini kuq saya dengar ribut-ribut dari sana???” kata Kepsek, dan tobi menceritakan semuanya dengan jelas. Namun anehnya Pak Kepsek hanya tersenyum saja, yang membuat mereka berlima menjadi bingung. “ Sudah, bawa saja uang kalian. Pakailah untuk usaha kalian agar kalian dapat menabung lebih banyak lagi dan dapat digunakan untuk keperluan yang lain”. Kata kepala sekolah mereka. Tobi pun balik bertanya “terus siapa yang bayar uang UAS dina dan dimas pak???”. Dan bapak kepala sekolah menjelaskan bahwa dina dan dimas mendapat keringanan dari sekolah yaitu beasiswa. Mereka sangat gembira saat mendengar berita tersebut dari Kepala Sekolah.
Itulah kenangan yang tidak akan terlupakan oleh mereka berlima. Dan mereka masih bersahabat hingga sekarang. Namun merasa tidak lengkap, , , , sangat sangat kurang lengkap semenjak dimas pergi dari kehidupan mereka, pergi untuk menghadap sang Khalid , , , , ,
Itu benar-benar menyakitkan bagi mereka, benar-benar meninggalkan perih yang sangat mendalam. Tinggal kenangan bersama dimas yang hanya dapat mereka kenang di dalam benak mereka masing-masing. Dan setiap minggu mereka selalu menyempatkan waktu untuk menyambangi makam dimas sambil menceritakan kejadian yang telah mereka alami seminggu ini.
Tiba-tiba sany berceloteh “andai dimas masih disini bersama kita, persahabatan kita masih akan seindah persahabatan anak-anak itu ya din,,,,,”. Dina pun menjawab sambil memeluk erat tubuh sany, “Meskipun dimas sudah nggak ada sihadapan kita, tapi dimas akan selalu dihati kita dan selalu menemani kita dimana pun kita berada san”. Setelah itu mereka kembali kekantor untuk meneruskan rutinitas mereka.














Kisah lima sahabat yang penuh dengan cerita-cerita menarik dalam kehidupan semasa SMP terutama kehidupan mereka saat mereka duduk dikelas VII ( 1 SMP ).




Oleh:
Uty Marina Lahitani
(091024247)
TP 2009 B

cerpen "Ilmuku dibalik bilik bamboo"

Diposting oleh DUNIA TP 2009 B

CERPEN
Media Cetak



Disusun Oleh:
Nur Aristiana (091024218)

TEKNOLOGI PENDIDIKAN 2009_B
Dosen Pembimbing:
Irena Mauren,S.pd.,Msc
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Surabaua
2010

23 Oktober 2003,Gemuruh suara terdengar dari dalam ruang auditorium suatu universitas ternama di samarinda.Tak kurang dari 25 mahasiswa dari jurusan pendidikan di wisuda.Tepat pukul 14.00 gelar sarjana sudah di terima dengan suka cita.3 minggu berlalu,semua sarjana-sarjana baru itu sibuk menawarkan skilnya di berbagai sekolah ternama,dan bahkan ada yang memutuskan untuk pergi ke Surabaya dan Jakarta untuk menjajahkan ilmunya.Tapi ada 1 yang terlihat aneh di sini,seorang mahasiswi dengan IPK tertinggi di unversitas itu tak terlihat sibuk membuat lamaran sama sekali.Dia lebih memilih membaca koran sambil bersantai-santai di halaman rumahnya.Hampir setiap hari mahasiswi itu melakukan hal yang sama,bahkan tak jarang dia sampai tertidur di kursi goyang kesayangannya.
Tidak terasa 3 bulan berlalu,Cuaca pagi itu memang agak mendung dan pagi itu juga mulai ada pemandangan yang berubah dari teras rumah seorang gadis yang biasa akrab di sapa lina itu,dia tidak lagi duduk-duduk santai sambil membaca Koran.Tepat pukul 08.37 hujan turun dengan derasnya,di sela-sela kilat yang menyambar terdengar suara seseorang membuka gerbang dari arah rumah lina,yang tidak lain adalah pembantu rumah tangga lina.Memang di dukuh tengah wetan orang tua lina merupakam orang terhotmat dan terkaya se desanya.Tak lama setelah gerbang di buka terdengar suara mesin mobil bergemuruh dari garasi rumah lina.di dalam mobil itu berisi lina dan kedua orang tuanya.Lina merupakan anakpertama dan satu-satunya.
Tak satu orangpun tau akan pergi kemana keluarga lina.Banyak pertanyaan yang tak sempat terjawab di benak tetangga kanan kiri rumah lina sebab tak biasanya mereka pergi dalan 1 mobil secara bersama-sama.Beberapa saat setelah mobil keluar darigarasi rumah lina,sesosok laki-laki berparas tampan dan rapi keluar dari mobil.
“Bik,nanti jangan lupa semua kunci pintu rumah”
“Iya tuan,tuan nanti pulang dari bandara langsung ke kantor atau kembali ke rumah?”
“Nanti saya sama nyonya langsung berangkat kerja,kamu ati-ati di rimah.”
“iya tuan”
Bandara???siapa yang mau pergi?pergi kemana?Pertanyaan itubergelayut di benak para tetengga.1jam perjalanan di tempuh oleh keluarga lina untuk menuju bandara,sesampai di bandara mereka bercengkrama sambil becanda
“Adek nanti di sana makan apa?”
“Bunda tenag saja,adek pasti gak bakalkelaparan!iyakanpa?”
“Iya,papa percaya kalau anak papa yang manja ini pasti bisa mandiri di sana!”
“Tapikaan pa di sana gak ada café,restoran atau mol kayak di sini!”
“Uda bunda tenag aja,yang penting bunda doain adik supaya betah tinggal disana.”


Tak 1orangpun menyangka kalau lina si gadis manja itu ternyata pergi ke kepulauan bau-bau untuk menjadi guru di sebuah sekolah terpencil yang tak terjamah sama sekali oleh kecangihan teknologi.Hampir 1 jam berlalu bu widia”ibunda lina” masi saja meneteskan air mata ataskepergian lina seakan tak rela melepas kepergian lina putri satu-satunya.Tapi air mata itu tidak mampu meluluhkan hati lina,dia tetep dersih kukuh ingin pergi ke pulau sunyi itu.
4 jam setelah kejadian di ruang tunggu itu lina sampai di pulau bau-bau.Sebagai pendatang lina merasa benar-benar asing dipulau itu,tak satu orangpun di kenalnya.beberapa saat setelah dia sampai di bandara ,dia dijemput oleh pak budi,pak budi juga merupakan relawan yang ada di sana.
”Selamat sore,apa benar anda yang bernama lina?”
“Iya,maaf bapak siapa”
“Saya budi,sukarelawan juga sama seperti saudara lina”
“o….anda yang bernama pak budi?senang bisa bertemu dengan anda”
“Iya sama saya juga,semoga mbak lina betah ya tinggal di sini”
“Amin,do’akan saja ya pak!”
“Ya sudah mari kita menuju desa blurah,tempat dimana kita menyumbangkan ilmu dan pengetahuan kita.”
Mereka berduapun beranajak pergi dari bandara untuk menuju tempat tujuan yang semestinya.Dari bandara menuju desa blura memakan waktu sekitar 3sampai 4jam.selain desanya yang terpencil akses jalan untuk menuju kesanapun sangat sulit apa lagi pada saat musim hujan seperti ini.Dalam hati kecil lina mulai bertanya-tanya apa bisa aku hidup di desa seperti hutan ini?lina mulai merasa gamang akan keyakinanya semula,dia mulai terlihat bingung seakan-akan tidak tau arah.
“Lina kenapa?kok sepertinya bingung begitu?”
“Ah gak apa-apa kok pak!”
“Dulu pertama kali saya menginjakkan kaki saya disini saya juga mreasa tidak yakin apasaya bisa tinggal disini?tapi setelah saya coba,ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan”
“Maksut bapak?”
“Penduduk disana sangat ramah,mereka selalu menghargai setiap tamu yang dating di desa mereka.Jadi kamu tenag saja”
Lina dan pak budipun sampai di desa blura yang biasa di juluki desa bilik bambu itu,entah dari mana asalnya nama itu bisa di pakai oleh warga disana.Ternyata disana benar-benar desa terpencil yang sama sekali tidak terjamah oleh teknologi,jangankan henphone,televise atau barang elektronik yang lainya listrik saja tidak ada di sana,jadi kalau malam dating para warga menyalakamobor daraikayu untuk menerangi jalan depan rumah meeka sedangkan untuk penerangan diruma mereka memanfaatkan botol kaca bekas yang di beri minyak tanah dan secuil kain yang di gunakan sebagai penerang.
Lina benar-benar merasa berada dijaman purba kala.Tapi syukurnya yang muncul dari benak lina bukanlah bagainana caranya dia bisa hidupdisana,dia mula berfikr bagai mana cara memberi ilmu kepada anak-anak kecil yang ada di desa bilik bamboo itu agar mereka bisa berkembang dengan pola fikir yang lebih maju dan modern.
Jam di tangan lina sudah menunjuk angka satu linapun mulai bersiap untuk tidur.Ini benar-benar kali pertama lina tidur beralaskan karpet dan tanpa AC ataupun kipas angin.
“Mbak bangun mbak sudah pagi”suara itu terdengar berbisik di telinga lina secara samar-samar
Setengah tidak sadar dia berkata”Iya bik sebentar lagi,aku masi ngantuk banget”
“Ini saya rati mbak bukan bibik!”
Limapun terbangun dan membuka matanyalebar-lebar
”Aduh maaf sayalupa kalau saya tidak sedang ada di rumah”
“Iya tidak apa-apa!yaudah mbak mandi terus kita ke pasar bersama-sama mumpug hari ini kita dapet giliran untuk belanja dikota”
Dengan agalsedikit bingun lina mengyakan ucapan rati dan bergegas ke kamar mandi.Setelahdia mengambil peralatan mandinya dia menuju kamar mandi,dia bingun dmana kamar mandinya?linapn bertanya kepada ratih.
“Mbak maaf dimana ya kamar mandinya?”
Sambilsedkt menahan tertawa ratih berkata”di sin tdak ada kamar mandi,yang ada sungai!”
“Apa sungai?yang bener mbak!”
“Iya bener”
“Jadi saya harus mandi di sungai?
Hari itu benar-brnar hari terburuk yang perna dialami lina sepanjang hidupnya.Tapi dengan tekat dan kenginan kuat lina bsa maelaeawati itu semua.
16 februari 2004,Hari itu merupakam hari pertama lina mulai mengajar setelah 4 hari kedatangannya di desa blura itu,dia benar-benar merasa gugup dan taktut kalau-kalau murit di sana tidak mau menerima kedatangan lina sebagai guru baru apa lagi dia mengantikan posisi rati yang harus kembali ke kampung halamanya.
“Selamat pagi anak-anak?”
Selamat pagi pak budi”
“Baik,hari ini kita kedatangan guru baru,beliau bernama ibu lina dan di sini beliau mengantikan ibu ratih anak-anak”
“Selamat pagi semua,perkenalkan nama saya lina ladita manggaluh,kalian bisa pangil saya ibu lina.”
“Selamat pagi bu lina!”
Mendengar suara tadi rasanya darah lina mulai mengalir dengan lancer kembali.dia merasa lega karena anak-anak di sana bisa menerima kedatangan lina.
Di situ lina mulai merasakan seberapa besar semangat murit-muritnya untuk menuntut ilmu,dengan sekolah yang berdindingkan anyaman kayu,beratapkan jerami dan bahkan tidak ada bangku untuk mereka menulis yang ada hanya papan tulis hitam yang terbuat dari triplek bekas yang di beri cat warna hitam.Jam sekolahpun selsai,para murit-murit beranjak meninggalkan ruangan untuk kembali pulang,beberapa saat setelah murit-murit lina keluar dari kelas,lina juga beranjak dari ruangan itu untuk kembali ke tempat dimana dia tinggal sekarang.
“Ibu mau pulang ya?”
“iya.memangnya a kenapa din?
“apa boleh saya bicara dengan ibu?”
“boleh,memangnya dinda mau bicara apa?”
Dindapun mengungkapkan keinginanya untuk bersekolah di kota setelah lulus SD nanti.hal itu di sambut baik oleh lina.Sejak berdirinya sekolah itu dinda merupakan murit yang memang memiliki kemampuan lebih dibandingkan teman-teman yang lainya.Dalam perjalanan menuju rumah dinda banyak sekali bercerita akan cita-cita dan bertanya-tanya kepada lina,tentang kehidupan di kota tempat dimana lina tinggal sejak kecil dulu.
Satu bulan berlalu,hari itu seluruh warga kampung bersama-sama pergi kekota untuk berbelanja,hal seperti ini memeng biasa dilakukan oleh warga blura setiap satu bulan sekali.kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh dinda dia berinisiatf membeli buku di kota untuk bekalnya nanti pada saat bersekolah di kota.Dinda membeli buku di temani lina,4jam perjalanan tidak membuat mereka berdua menyerah.tepat jam sebelas sian rombongan sampai di kota.dinda dan lina langsung menuju took buku bekas.Disitu hanya ada satu toko yang memang menjual buku bekas dan menjadi langganan dinda sejak pertama kali dia menginjak bangku sekolah.
“Selamat pagi pak tarji!”
“eh neng dinda!apa kabar?sudah lama sekali ya neng tidak ke took bapak!”
“iya,soalnya buku yang saya beli dulu masi belum selsai say abaca semua pak!sekarang ada buku baru apa”
“Banyak neng!”
“Ada buku paket untuk anak SMP pak?”
“Wah kebetulan neng ini baru saja saya dapat kiriman”
Dinda memborong semua buku yang berhubungan dengan pelajaran SMPdi toko pak tarji.Hampir 4 jam dinda di toko pak tarji untuk membaca dan melihat-lihat buku yang ada di toko pak tarji itu.Tepat pukul 16.30 rmbongan dari desa lina kembali ke kampung halamanya,bus yang tadinya tak ber isi apa-apa sekarang penuh dengan berbagai macam barangdari mulai sembako sampai pakaian.empat jamperjalanan membuat orang se isi bus kelelahan,sesampainya di rumah mereka semua beranjak dari bus dan langsung merebahkan badanya ditempat tidur tidakterkecuali lina.Dia benar-benar merasa beruntung bisa memdapatkan pengalaman yang begitu berharga dalam hidupnya.
Waktu terus berputar,hari berganti bulan lina mulai merasakan nyaman tinggal di sana,dia mengisi hari-harinya dengan mengajar dan member les prifat kepada ldinda yang sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti tes masuk SMP ternama di samarinda.Tuju bulan berlalu kini seluruh murit kelas 6 melakukan persiapan untuk menngikuti ujian nasional.Mereka semua benar-benar memiliki semangat belajar yang tinggi,hampir setiap hari mereka melakukan bimbingan belaja untukpersiapan unas,selain membuat desa mereka menjadi ramai pada malam hari kegiatan belajar mereka pada malam hari juga membuat para orang tua mualberubah fikiran tentan seberapa penting pendidikan itu.
Detik-detik menjelang unas tiba tidak hanya murit-murit lina yang merasa gugup lina dan para orang tua juga merasa cemas akan nasp anak-anaknya.Ujian Nasional di lakukan selama satu minggu,selama itu juga banyak pihak yang merasa gugup dan kebingungan.Satu bulan setelah ujian pemerintah member pengumuman hasil ujian,di situ kepanikan mual melanda para orang tua dan murit-murit.Tepay jam sepuluh pagi banyak sekali yang berdatangan ke sekolah untuk melihat hasil pengumuman ujian.Sekolah yang biasanya hanya terdengar syara anak-anak kini yang terdengar suara orang dewasa juga.tepat pukul duabelas siang lina sampai di sekolah yang terbuat dari bamboo itu,lina membawa setumpuk amplop yang berisi pengumumam kelulusan.Setelah di bagika ke semua orang tua murit lina member aba-aba untuk melihat isi amplop secara serentak.setelah terdengar bunyi “tiga”dari mulut lina,semua orang tua berteriak histeris karena melihat tulisan yang ada di dalam amplop.Ternyata semua murit lulus dengan hasil yang memuaskan.Dua hari setelah pengumuman itu para orang tua mengadakan syukuran secara bersama-sama atas kelulusan anak-anak mereka.
“Saya atas nama seluruh orang tua murit mengucapkan banyak terima kasikepadabulina karena sudah bersusah payah membantu anak-anak kami”
Dengan perasaan terharu dan bangga yang tidak perna lina rasakan sebelumya linameneteskan air mata.
“Iya,sama-sama bu!saya sebagai guru juga merasa bangga atas kelulusan semua murit saya.”
Berkat proposal yang di ajukan lina ke dinas dan hasil ujian yang memuaskan pendidikan sekoalh itu mendapat sumbangan dan dari pemerintah untuk pembangunan fasilitas dan sarana sekoalah.Satu minggiu setelah pengumuman murit-murit mulai sibuk mencari dan mendaftar ke Smp dan ada juga yang memilih untuk berhenti karena keterbatasan biaya.Demikian pula dengan dinda,dia mualai mempersiapkan diri untuk mengikuti tes masuk ke Smp ternama yang ada dikota.Ayah dan ibu lina mengijinkan dinda untuk bersekolah di kota Karen mereka percaya di sana dinda bisa berkembang menjadi anak yang lebih pintar lagi.
“Ndok nanti kalau sudah di terima di sana kabari bapak karo ibu yo!”
“Injeh bune!”
“Iya ibu tenag saja disana ada asrama yang memang khusus untuk murit-murit ynag berasal dari luar kota kayak dinda ini.”
Malam itu menjadi malam terakhir dinda dan lina berada di kampung yang di juluki bilik bamboo itu,besok pagi mereka berdua harus ke kota untuk mengikuti tes.Hingga larut malam keluarga dinda bercengkrama bersama dengan lina.Tepat pukul lima subuh lina dan dinda di temani kedua orang tua dan saudara dekatnya mereka diantar ke bandara.mereka harus berangkat pagi karena pesawat yang dsudah di pesan sebelumnya berangjkat jam 9.30.Setelah menempuh perjalanan jauh sekitar pukul 8.45 keluarga dinda sampai di bandara.isak tangis mewarnai kepergian dinda.ibu dindapun sepertinya tak ikhlas melepas kepergian dinda.
“Bu guru saya titip dinda ya!tolong jaga dinda baik-baik ini pertama kalinya dinda naik pesawat bu.”
“Iya ibu,saya akan menjaga dinda dengan baik sesampainya kita disana kita akan mengirim surat untuk ibu sekeluarga.
Lina dan dindapun masuk kedalam pesawat.hampir 3jam di perjalanan wajah dinda pucat,entah karena baru pertama naik pesawat atau resah memikirkan tesnya?hanya dinda yang tahu jawabanya.Pesawat mendarat di bandara tepat pukul 14.25,banyak sekali orang-orang yang memadatiruang tunggu untuk menjemput keluarganya,dan yang ada di fikiran lina siapa ya yang akan menjemput lina?mungkin sopir?Lili!!!!!!!!!!!!Suara itu terdengar jelas di telinga lina,setelah dia menoleh ternyata mama dan papanya.lili merupakan nama panggikan kesayangan lina.
“Adu mama kangen banget sama adek!”
“Adek juga,oh ya ma kenalin ini dinda murit lili dari bau-bau”
“Dinda bu”
“Dia kesini mau ikut tes masuk Smp negeri 1 Samarinda ma”
“Ya sudah kita lanjutin bicaranya dirumah saja”
Satu minggu setelah kedatangan dinda sudah berlalu,03 Juni dihantarkan lina,dinda berangkat mengijuti tes,dengan segala persiapan dinda mulai mengerjakan soal.Hampir tiga jam lina mengunggu dinda.Dinda keluar dari ruangan dan menunggu di ruang tunggu untuk melihat hasil pengumumam.Jantung dinda berdebar sangat kencang,waktu seakan-akan tidak berjalan.Setelah satu jammenunggu hasiltes di umumkan dan ternyata nama dinda berada di urutan sepuluh besar dan dia berhak mendapat bea siswa pendidikan.Hati dinda senang sekalisaking girangnya dinda sampai menangis.Sesampainya di rumah lina dinda langsung menulis surat untuk orang tuanya dib bau-bau.Keluarga besar dinda menyambut dengan senang dan terharu atas kedatangan seuat dinda.Satu bulan setelah pengumuman itu dinda mulai aktif sekolah dan dinda mulai tinggakldi asrama bersama teman-teman dari luar kota lainya.


Judul :
Ilmuku dibalik bilik bamboo
Latar/setting :
Rumah lina”di dukuh tengah wetan”Samarinda.
Desa dinda”kepulauan bau-bau,desa blura”.
Pasar kota.
Sekolah Bilik Bambu.
Alur :
Alur yang ada dalam cerita”alur maju”.
Gaya bahasa :
Gaya bahasa yang digunakan”bahasa sehari-hari/bebas”.

cerpen Dibalik kekuranganku tersimpan segudang kelebihanku

Diposting oleh DUNIA TP 2009 B

MEDIA CETAK
Karangan fiksi

Dibalik kekuranganku tersimpan segudang kelebihanku





Oleh:
Sensiska Nur Af’idah
(091024235)
TP 2009B




FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2010

Dibalik kekuranganku tersimpan segudang kelebihanku

“Urip” begitulah orang-orang memanggilku. Nama yang sangat sederhana dan sangat mudah orang untuk mengingatnya. Entah apa arti nama itu, entah apa tujuan orang tuaku memberiku nama Urip. Yang ku tahu hanyalah kegelapan dalam hidupku. Serba kekurangan dan hidup dengan ketidaksempurnaan. Sering ku berpikir bahwa hidupku tiada guna, hidupku tak akan pernah bisa sempurna, semua akan jadi sempurna jika ku telah tertidur untuk selamanya di surga.
Usiaku yang masi sangat belia, kurasa tak seharusnya merasakan penderitaan yang seberat ini. Hidup dalam kemiskinan, orang tua pergi entah kemana meninggalkan aku sejak aku berusia 8 tahun, kedua bola mataku tak berfungsi sama sekali karena terbentur batu saat aku terperosot kedalam jurang untuk mengambil kayu di hutan. Ketika ayah dan ibu masih ada di sampingku, ketika aku masih dapat melihat dengan normal aku masih bisa tersenyum merasakan damainya keutuhan keluarga. Meskipun saat itu sepulang sekolah aku harus bekerja keras membantu keluargaku mencari kayu di hutan untuk dijual. Aku sangat merindukan masa-masa itu, bercanda bersama ayah, ibu disebuah rumah jerami yang berada di tengah hutan dan tiada tetangga.
Untuk menuntut ilmu aku harus berjuang keras karena rumahku sangat jauh dari sekolah. Perjalanan dari rumah kesekolah menempuh waktu selama 1 jam, aku hanya berjalan kaki sendirian. Aku sama sekali tidak pernah mengeluh dengan apa yang aku rasakan. Dalam hatiku aku hanya ingin mewujudkan apa yang telah lama aku cita-citakan. Aku ingin menjadi orang sukses dan aku ingin membawa kedua orang tuaku keluar dari segala penderitaan yang ada.
Kini yang terjadi, aku cacat, aku buta, aku sama sekali tidak bisa melihat, aku masih 10 tahun hidup di dunia ini. Orang tuaku telah meninggalkan aku karena sudah tidak sanggup lagi membiayai aku sekolah. Aku sengaja diberikan kepada orang kaya raya dengan harapan hidupku akan menjadi lebih baik dan aku dapat melanjutkan sekolah dengan segala kecukupan. Namun semua itu berlawanan, aku disiksa, aku diperlakukan seperti hewan.
“Uriiiippp, cepat pergi sana..!! jangan berani pulang sebelum membawa uang lebih dari Rp.50.000”. “Uriiiiipp, bersihkan seluruh ruangan rumah sampai bersih”. Telingaku sudah terbiasa mendengar perintah seperti itu. Pak Hilman merupakan orang yang kaya raya, tapi entah dimana hati orang itu sehingga ia tega menyiksa orang tak berdaya sepertiku. Setiap hari aku disuruh mengamen, menyelesaikan semua pekerjaan rumah, padahal kalau mau menggaji 20 pembantu pun pak Hilman masih mampu. Tapi ia lebih senang membuat mainan aku seperti boneka, mungkin bukan jadi masalah jika aku normal. Tapi ini, aku cacat, kemana-kemana aku membawa tongkat.
Tuhan masih menyanyangiku, aku diberi sahabat yang sangat baik dan dia adalah satu-satunya orang tempatku mengadu segala hal. Doni, dia adalah anak orang kaya yang rendah hati. Setiap hari sepulang sekolah dia selalu menemuiku. Doni selalu menerangkan kepadaku apa saja pelajaran yang dia dapat disekolah. Setiap aku mendengarkan doni berbicara tentang sekolah, mataku selalu berkaca-kaca. Aku ingin sekolah, aku ingin pandai, aku ingin hidup normal seperti anak seusiaku, aku ingin menggapai cita-citaku. Doni yang selalu memberikan motivasi agar aku terus belajar apapun keadaanku. Aku sangat merindukan membaca yang sudah menjadi hobiku sejak kecil, tapi apa daya aku sama sekali tidak bisa mnenggunakan kedua mataku untuk melihat seperti dulu.
Ingin sekali rasanya aku meninggalkan rumah pak Hilman, tapi jika itu aku lakukan, kemanakah aku akan mencari tempat tinggal. Aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan. Lagi- lagi ku teringat ayah dan ibuku, aku sangat merindukan kehadiran mereka dalam hidupku. Setiap langkahku aku selalu berharap orang tuaku dapat melihatku, dengan keterbatasanku aku tidak bisa mencari mereka.
Seperti biasa sekitar jam 1 siang Doni menemui aku di terminal. Namun dia sepertinya dia tak sendiri. Terdengar dari suaranya aku mengira yang bersama Doni adalah ayahnya. “Urip, kenalin ini papaku. Pa ini teman Doni namanya Urip”. Setelah menjabat tangan ayah Doni aku yakin beliau adalah orang baik-baik sama seperti Doni. Kita bertiga kemudian pergi ke sebuah rumah makan dan banyak hal yang dibicarakan disana.
Sebenarnya ayahnya Doni ingin aku tinggal bersama Doni dirumahnya, tapi tidak bisa semudah itu. Karena pada waktu orang tuaku memberikan aku kepada pak Hilman sudah ada surat perjanjian bahwa tidak ada unsur pemaksaan dan aku resmi di adopsi oleh pak Hilman. Aku hanya bisa meratapi nasipku yang kurang beruntung ini. Mengapa untuk sekolah saja sama sekali tidak menemukan jalan. Seakan akan semua pintu untuk menggapai cita-citaku sudah tertutup rapat bagi orang yang tak berdaya sepertiku ini.
Usiaku sudah menginjak 11 tahun, seharusnya aku berada di kelas VI SD. Tapi sepertinya itu hanya sekedar mimpi yang tak akan pernah bisa tercapai. Walaupun demikian aku selalu berdo’a kepada Tuhan, dan aku masih percaya Tuhan pasti punya rencana yang indah di balik cobaan yang telah aku terima. Aku selalu berdo’a semoga ada jalan untukku menggapai semua anganku dan semoga aku bertemu kembali dengan kedua orang tuaku.
“Kriiiiiinggg…” ku dengar telpon berdering di rumah pak Hilman. Dirumah tidak ada orang. Pak Hilman dan istrinya keluar kota untuk keperluan bisnis. “hallo, selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” “Maaf, ini dari kepolisian menginformasikan bahwa Pak Hilman dan isrtinya telah meninggal dunia karena kecelakaan. Mendengar hal itu hatiku tidak karuan, entah harus senang atau sedih mendengar hal itu. Rasanya semua seperti mimpi.
Pak Hilman selama ini hanya tinggal bersama istrinya, aku tidak tau keluarga yang lainnya berada dimana. Semua harta benda kini menjadi milikku. Tapi bagiku itu bukanlah hal yang penting, yang terpenting dalam hidupku adalah aku ingin sembuh, aku ingin sekolah lagi, aku ingin sukses diatas perjuanganku sendiri.
Hidup serba kecukupan tiada artinya kalau mata tidak bisa melihat, akhirnya aku gunakan harta yang aku punya untuk berobat. Aku tidak peduli berapa banyak biayanya yang pasti aku ingin sembuh agar aku bisa sekolah lagi dan aku ingin mencari orang tuaku ketika aku sudah sembuh nanti.
Segala cara telah aku lakukan untuk kesembuhanku. Dan akhirnya Tuhan mendengarkan do’aku. Aku sembuh total, aku bisa melihat lagi seperti dulu. Tidak ada lagi yang ada di benakku selain kebahagiaan yang begitu besar. Aku berharap dengan kembalinya aku seperti dulu lagi apa yang aku inginkan akan tercapai.
Aku mulai sekolah lagi, aku merasakan lagi indahnya hidup dengan pendidikan. Aku merasa dengan banyaknya ilmu yang aku miliki aku akan merasa lebih semangat menjalani hidup dan menghadapi setiap tantangan yang ada. Aku menyadari betapa pentingnya pendidikan dalam hidup ini.
Tak terasa aku menginjak usia remaja, aku sudah berada di bangku kuliah. Bertahun tahun aku hidup sendiri. Aku kulia sambil bekerja di tempat fotocopy. Meskipun kuliah sambil bekerja namun semangatku untuk belajar tak akan pernah padam. Di kampus aku selalu aktif dalam setiap kegiatan. Aku selalu ingin mencoba hal yang baru. Aku ingin terus berkembang dan menambah wawasanku tentang banyak hal. Teman-temanku adalah sebagian besar anak orang berada, memang kuliah di kedokteran adalah bukan hal yang murah. Untung saja aku masih bisa kuliah karena beasiswa. Aku berangan-angan suatu saat nanti kalau aku sudah menjadi dokter, aku akan membuka praktek GRATIS bagi orang yang kurang mampu.
Tahun demi tahun berlalu akhirnya aku lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Sesuai janjiku aku akan membuka praktek GRATIS bagi orang yang kurang mampu. Dengan tempat praktek yang masih sederhana tapi aku sangat bahagia bisa menolong orang yang kesusahan. Melihat mereka tersenyum bahagia seperti melihat senyum orang tuaku yang telah lama ku rindukan.
Jam 00.00 tepat ku dengar suara orang teriak minta tolong. Aku segera keluar dan ketika kulihat betapa kagetnya aku. Ayanhku yang telah lama ku cari dan ku rindukan teriak minta tolong dengan menggendong ibu yang sudah dalam keadaan pingsan. Dengan buru-buru aku langsung menangani ibu yang sudah lemas. Anehnya ayahku sama sekali tidak mengenaliku.
Ternyata ibu telah lama sakit jantung dan tidak pernah berobat karena tidak ada biaya. Setelah ibu sadar aku bicara kepada ayah bahwa aku ini Urip, Urip anak ayah, Urip anak Ibu, Urip sudah dapat melihat. Seketika itu suasana menjadi haru, hujan tangis karena bahagia. Segala mimpi telah aku dapatkan. Yang awalnya aku mengira semuanya hanya sekedar mimpi tapi kini semua menjadi nyata. Aku menyadari betapa beruntungnya aku yang telah menempuh pendidikan dengan sungguh sungguh. Kini hasilnya pun dapat aku nikmati.

CERPEN “ Biarkan aku menggapai Impianku “

Diposting oleh DUNIA TP 2009 B

CERPEN
“ Biarkan aku menggapai Impianku “
Oleh :
Norista Marliana Dewi
091024237
Edutech2009b


 Tema : Pendidikan.

 Karakteristik tokoh
• Dea : cantik, tidak terlalu pintar, tidak mudah putus asa.
• Indra : baik, penyayang, sabar
• Renia : cerdas, baik.
• Pak Johan (Ayah Dea) : keras kepala, kolot
• Ibu Farida ( Ibu Dea) : baik, sabar.

 Alur : Maju
 Setting : Rumah, sekolah, restaurant
 Sinopsis
Dea seorang pelajar SMA yang ingin melanjutkan sekolah ke bangku kuliah, tapi keinginannya itu terhalangi oleh Ayahnya. Karena Ayahnya berfikir bahwa perempuan tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi sampai ke bangku kuliah, karena pada akhirnya nanti perempuan itu akan berada di dapur juga.
Tapi, karena tekad Dea yang begitu besar. Akhirnya Dea mampu mewujudkan keinginannya itu.
****


Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiing …. !! Bel pulang pun sudah berbunyi, menandakan jam sekolah telah berakhir. Terlihat Renia dengan lari tergopoh 0 gopoh menghampiri Dea yang sedang berjalan di koridor sekolah.
“ Hai Dea, akhirnya pulang juga kita”. Kata Renia.
“ Iyaa Ren, ak capek banget hari ini. Mau pulang terus tidur”. Jawab Dea.
“ Duluan ya Ren , daaaa “! Tambah Dea.
“ Daaa Dea “. Jawab Renia.
****

Sesampai di rumah pun , Dea langsung tertidur di kamarnya. Jam menunjukkan pukul 4 sore, Dea terbangun dari tidurnya, dan segera mandi. Tepat pukul 7 malam, Indra sudah menjemput Dea, Indra adalah pacar Dea. Sudah hampir 3 tahun mereka pacaran. Indra sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta di kota setempat, Bandung.
“ Bapak, Dea keluar dulu ya ?”,kata Dea
“ Iya nak, hati – hati. Pulangnya jangan malam-malam”. Jawab Pak Johan.
Mereka berlalu pergi meninggalkan rumah Dead an berhenti di sebuah restaurant untuk makan malam. Sambil menunggu makanan datang mereka berdua pun ‘ ngobrol ‘
“ Dea, kamu jadi melanjutkan kuliah di ITB ?”. Tanya Indra.
“ Gak tau Ndra, tinggal nanti. Habis dulu Bapak pernah bilang, kalau aku gak boleh kuliah. Kamu tahu sendiri kan Ndra, Bapak orangnya gimana”. Jawab Dea, sambil menyantap makanan yang telah dia pesan.
“ ya sudahlah, makan aja. Gak usah terlalu dipikirkan”. Balas Indra

Hari ini hari minggu, Dea duduk di depan rumah bersamanya orang tuanya.
“ Bapak, setelah lulus nanti. Aku boleh tidak melanjutkan kuliah “?, Tanya Dea.
“ Tidak, kamu tidak perlu kuliah”. Jawab Pak Johan.
“ Loh, kenapa ?”. tambah Dea
“ Sekali Bapak bilang tidak ya tidak, kamu itu perempuan gag kuliah juga tidak masalah, buang – buang biaya saja. Percuma juga kuliah. Nanti akhirnya jugaa bakalan di dapur”. Bentak Pak Johan.
“ sabar, Pak”. Tambah Ibu Farida.
“ tapi Pak”, kata dea
Belum selesai Dea bicara sudah dipotong sama Pak Johan.
“ Tapi apa, sudah gak usah membantah kata – kata Bapak”. Kata Pak Johan.
Dea pun berlalu pergi meninggalkan ayah dan ibunya. Dea kecewa dengan pola pikir ayahnya.
“ Tidak boleh begitu sama nak sendiri, apa salahnya juga kalau anak kita ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, kita biaya juga punya. Masak hanya denagn pikiran Bapak yang seperti itu, harus menyakiti hati anak sendiri, Dea juga anak satu-satunya kita Pak, apa Bapak tega melihat dia sedih terus hanya karena Bapk tidak mengijinkan dia untuk kuliah, masa depan Dea masih panjang Pak.” Kata Ibu Farida.
“ Sudah sudah jangan mengajari Bapak”. Bantah Pak Johan.

sehabis upacara, Dea dan Renia berada di kantin untuk sarapan pagi.

“ Kamu kenapa Dea, hari ini murung banget? Gak seperti biasanya”. Tanya Renia.
“ Tau Ren, BT banget aku. Sebel sama Bapak, hari gini gak boleh kuliah. Cuma dengan alasan kalau perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, menyebalkan tau gak”. Jelas Dea
“Sabar ya De, mungkin Bapak kamu punya pikiran seprti itu juga ada alasannya”. Tutur Ren.
Indra pun datang menghampiri Dea dan Renia yang sedang asyik ngobrol di kantin.
“ Hai, boleh gabung gak. Kayaknya asyik banget nii, ngobrolin apa sih ?” Tanya Indra.
“ biasa aja kali Ndra, gak ngobrolin apa – apa juga, eh De, aku ke Perpustakaan dulu ya, mau pinjam buku.” Kata Renia
“ Iya Ren, hati – hati ya.” Balas Dea.
Renia pun berlalu pergi meninggalkan Indra dan Dea.
“ Kamu kenapa sayang, kok mukanya ditekuk gitu. Lagi ada masalah? Kok gak crita sih sama aku.” Tanya Indra.
“ Gpp kok Ndra, masih dengan masalah yang sama.” Jawab Dea.
“ Maksutnya? Masalah kamu sama Bapak?” Tanya Indra.
“Iya, mau sama siapa lagi juga.” Jawab Dea cuek.
“ Coba deh, kamu kasih pengertian ke Bapak. Kalau perempuan jaman sekarang itu juga punya masa depan. Tidak seperti perempuan jaman dahulu yang selesai sekolah terus nikah dan dapur.” Jelas Indra.
“ Iya Ndra, masalahnya Bapak itu tidak pernah mau mendengarkan penjelaskan aku, jangan kan mendengarkan penjelasanku ngasih aku kesempatan untuk ngejelasin pun enggak pernah.” Jawab Dea.
“ Ya sudah Ndra, aku ke kelas dulu.” Tambah Dea.
“ Jangan sedih gitu dong, aku antarin ke kelas ya?” Kata Indra
Dea pun menganggukkan kepala, dan mereka pun berjalan menuju ke kelas Dea.

Dea pun pulang ke rumah dengan wajah yang murung, namapak Pak Johan ada di depan rumah.
“ Assalamu’alaikum”. Kata Dea mengucapakn salam.
“ Wa’alaikum salam.” Jawab Pak Johan.
“ Kok sudah pulang De, gak ada bimbingan?”. Tambah Pak Johan.
“ Tidak Pak.” Jawab Dea jutek.
“ Duduk sini De, Bapak mau ngomong sesuatu sama kamu.” Kata Pak Johan.
“ Ngomong apa Pak?”, Tanya Dea sambil duduk di samping Pak Johan.
“ masalah kuliah kamu, Bapak mengijinkan kamu untuk kuliah.” Kata Pak Johan.
“ Yang benar Pak?”, Tanya Dea kaget.
“ iya?”, jawab Pak Johan sambil tersenyum.
Deapun lari ke dalam rumah, sambil berteriak memanggil Ibunya.

“ Ibu ibu, Dea boleh kuliah Bu.” Kata Dea.
“ Iya Nak, iya.” Jawab Ibu.
“ Tapi Dea mesti janji sama Bapak dan Ibu, kamu jangan nakal. Sekolah yang sungguh – sungguh. Jangan mengecewakan Bapak dan Ibu.
“ Iya, Dea janji sama Bapak dan Ibu. Sebisa mungkin Dea akan jadi anak yang bisa dibanggakan sama Bapak dan Ibu.” Jelas Dea.
Jam menunjukkan pukul 06.45 Dea sudah samapi di Sekolah, Dea menghampiri Indra yang sedang duduk di taman.
“ Ndra, aku punya kabar gembira buat kamu.” Kata Dea.
“ Kabar apa sayang?”. Tanya Indra penasaran.
“ Dea boleh kuliah sama Bapak.” Kata Dea.
“ Yang bener, bagus dong.” Akhirnya keinginan kamu direstui sama Bapak.” Jawab Dea.
Tiba – tiba Renia datang menghampiri Dead an indra.
“ Wahhh, pagi – pagi sudah main berduaan aja.”. goda Renia.
“ hahaha, bisa saja Ren kamu. Renia, aku sudah diijinin sama Bapak, untuk melanjutkan kuliah.” Kata Dea
“ Oh ya, yang bener Dea, Waaah traktiran nich.” Goda Renia.
“ Tahu ini Renia makan aja yang ada di otaknya.” Tambah Indra
“ ahhh, kamu Ren makan aja, oke dech siapa takut.’ Kata Dea.
Mereka bertiga pun tertawa bersama – sama, dan berlalu meninggalkan taman.

Setelah Dea dinyatakan lulus dia langsung pergi ke Bandung untuk melanjutkan kuliah disana, Dea diterima menjadi mahasiswa ITB melalui jalur PMDK

THE END

cerpen "keceriaan dibalik sebuah kegagalan"

Diposting oleh DUNIA TP 2009 B

y39.pngAnsia Tafrilia
EDUTECH.09B.091024251

CERPEN
JUDUL : KECERIAAN DIBALIK SEBUAH KEGAGALAN              

*     KARAKTER TOKOH                  :
*   Ayah              : bijaksana, penyayang, sabar
*   Bunda             : sabar, penyayang
*   Kak Lola         : baik hati, tegas
*   Nino               : anak yang patuh, tidak mudah putus asa

*     ALUR                                        : MAJU

*     LATAR TEMPAT,WAKTU          : DI LAPANGAN SEPAK BOLA SEKOLAH                                                                 NINO, DALAM MOBIL, DI WARUNG                                                                    BUBUR AYAM PAK BEJO.


*     TEMA                                       : EDUCATION for Children

*     PEMILIHAN BAHASA              : BAHASA INDONESIA SEHARI-HARI





text002.png    Keceriaan dibalik sebuah kegagalan

          Pada sabtu sore yang cerah. Tetapi sore itu tim sekolah Nino kalah bertanding sepak bola lawan sekolah temannya. Saat itu pula , setelah pertandingan berlangsung dan semua telah kembali ke tempat peristirahatan Tim masing-masing , Nino di hampiri oleh ayahnya.
Ayah menghampiri Nino, “Ayah senang bisa melihat permainanmu.”Tapi nino kelihatan sedih dan kecewa. Nino kelihatan sedih sekali “Kita langsung pulang saja. Ayah ?” pinta Nino. “Iya sayang,”  Ayah sambil memeluk bahu Nino. Bunda dan Kak Lola berjalan di belakangya.
Apakah Kak Lola akan bertanya mengapa Nino sedih ? Dan apakah Nino akan menjawabnya ? dalam hati Kak Lola.
Di mobil, “Nino mengapa kamu diam saja ?”tanya Kak Lola. Nino sedih dan kesal, seharusnya tim Nino bisa menang !” sahut Nino.
“Ayah mengerti mengapa Nino merasa sedih. Mungkin  Ayah juga akan merasa sedih dan kecewa bila ini terjadi pada Ayah,” kata Ayah.
“ Tapi Nino,”Kak Lola bertanya, “Nino bermain bagus tadi ! Mengapa Nino sedih ?”
“Mungkin Nino sedih karena tim Nino mainnya sudah bagus!” jawab Nino sambil menghentakkan kaki. “Kami hampir saja menang!”
“Tadi Nino mencetak dua gol, bagaimana perasaanmu mengenai hal itu?” tanya Ayah. “Nino senang, Nino bisa membuat dua gol,” sahut Nino.
“Bagaimana Nino bisa merasa senang dan sedih pada saat yang sama ? tanya Kak Lola. “Iya, Nino bingung. Nino merasa senang tapi juga sedih,” jawab Nino.
“Saat ini Ayah senang bisa bersama anak-anak yang pintar seperti kalian. Namun Ayah juga sedih karena selama seminggu harus berpisah dengan kalian.”
Setelah itu Nino terlihat diam kembali. Ia sedang memahami perasaannya. “Yah, Ayah selalu bilang kalau masalah menang atau tidak bukan yang terpenting, yang penting adalah kita telah berusaha sebaik mungkin. Benar begitu ?” tanya Nino.
“Benar Nino” jawab ayah. “Mungkin Ayah juga sedih, kalau saja pada pertandingan lalu kita bisa berlatih lebih giat. Kalau kita telah berlatih dengan sangat giat berarti kita telah melakukan usaha terbaik.”
“Nino, mungkin perasaan sedih itu ingin membantu Nino,” Bunda berkata.
“OK, kata Nino dengan tegas. “Nino akan mendengarkan kesedihan Nino dan Nino akan berlatih tiga kali sebelum pertandingan berikutnya.” Jawab Nino dengan penuh semangat.
“Ayah, Bunda, tidak marah kepada Nino karena Nino tidak menang ?” tanya Nino. Bunda dan Ayah menggelengkan kepala. “Kami bangga karena Nino telah tumbuh menjadi anak yang penuh perhatian,” ucap Ayah. Nino tersenyum, dan merasa lebih baik.
Kak Lola tiba-tiba berkata, “ Ayah apa kita bisa merayakan kerja keras Nino? Kita menjemput Dani dulu, setelah itu kita makan bubur ayam Pak Bejo?” Ayah dan Bunda setuju dengan usul Kak Lola. Kini mereka sudah untuk segera menyantap bubur ayam hangat yang sangat lezat.






y30.png

SEKIAN