Cerpen Good Job

Diposting oleh DUNIA TP 2009 B Selasa, 25 Mei 2010


Good Job

Dilihatnya jam tangan Riska yang menunjukan pukul 15.00 WIB dan saat itu adalah hari minggu. Riska, seorang siswi SMA di salah satu SMA Negeri di kawasan Surabaya yang waktunya hanya tnggal beberapa jam lagi. Esok hari ia akan memulai perangnya di sekolah. Hari Senin, unas akan berlangsung. Dia yang ada di kamarnya sedang membolak-balik soal-soal ujian tahun lalu.
            “Wah, besok ujian akan dimulai. Nasibku akan ditentukan dalam beberapa hari saja. Huft. Si Ricky kok ga datang-datang sich?” dengan resah ia membolak-balik buku itu dan menunggu kedatangan Ricky, teman sebangkunya yang akrab sekali dengan dia.
            TOK TOK TOK !!!!
            Dengan tergesa-gesa ia membuka pintu kamarnya.
            “Lama sekali dirimu datangnya, Ky. Dari mana saja?” dengan agak jengkel ia berkata kepada Ricky.
            “Maaf Ka, tadi aku ketiduran. Habisnya badanku capek sekali. Maaf banget ya.” balas Ricky.
            “Ya sudah lah tidak apa-apa. Ayo kita lanjutkan belajarnya yang kemarin.”
            “Iya ayo.” sahutnya dengan semangat.
            Mereka berdua memang sudah akrab dari kelas 10. kemana-mana selalu bersama. Sampai-sampai tujuan mereka melanjutkan ke perguruan tinggi pun dengan jurusan yang sama, yaitu tehnik informatika.
            Satu jam telah berlalu. Satu jam pula mereka lewati dengan serius mempelajari apa yang ada di soal-soal tersebut.
            “Istirahat dulu Ka, aku capek.” ajak Ricky.
            “Iya Ky, aku juga capek. Btw, nggak kerasa ya besok kita dah ujian. Aku berharap kita dapat hasil yang maksimal. Aku juga berharap kalau tes kita di universitas bisa diterima.” harap Riska.
            “Iya Ka. Aku juga berharap begitu. Ya kita tetap terus belajar dan berdoa saja.” nasehat Ricky kepada Riska.
            “Tapi Ky ……”
            “Tapi apa lagi? Sudahlah kita harus optimis jag gampang menyerah. Oke.”
            “Oke.” balas Riska dengan melebarkan senyumannya.
            Tak terasa waktu cepat berlalu. Mereka tidak sadar kalau mereka sudah belajar bersama selama tiga jam. Akhirnya Ricky memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang, ia memberikan saran dan nasehat kepada Riska.
            “Ka, aku pulang dulu ya. Jangan lupa berdoa yang khusuk, jaga kesehatan kamu buat besok, tidurnya jangan malam-malam dan belajarnya cukup sampai sini saja, besok kita lanjutkan lagi.”
            “Oke boz.” Senyuman lebar kembali ia tebarkan di depan Ricky.
            “Oh iya, besok tunggu aku jam 07.00 di depan rumah kamu ya. Kita berangkat sama-sama.” ajak Ricky.
            “Okay, Ky. Beres beres.”

* * *

            Malamnya, tanpa mereka ketahui, dalam waktu yang bersamaan, mereka berdiam diri di kamar masing-masing untuk berdoa. Mereka berdoa dengan khusuk dan sungguh-sungguh karena mereka yakin kalau mereka akan lulus dengan hasil hang sangat baik. Tak lupa juga mereka meminta doa restu kepada orang tua mereka yang selama ini ikut andil dalam study mereka.
            Malam pun semakin larut dan sepi. Tak ada suara apapun di luar sana kecuali suara angin yang berhembus semilir dan hujan gerimis yang rintik-rintik membasahi atap rumah mereka. Mereka tertidur lelap dan nyenyak seakan tidak ada yang berani mengganggu mereka, sekalipun itu nyamuk dan seakan-akan mereka tidak mempunyai beban sedikit pun untuk hari esok. Semuanya terasa ringan. Hujan pun sedikit demi sedikit tidak menyuarakan suaranya. Kini semuanya telah diam dalam kehangatan malam.

* * *

            “Wuah, sudah pagi, hari Senin? Oh my God.” sapa Riska di pagi hari yang cerah itu. “Aku harus bersiap-siap untuk hari ini.”
            Langkah demi langkah ia lanjutkan untuk menuju ke kamar mandi.
            “Pagi Bu, pagi yah.” Senyuman lebar ia tebarkan lagi, tapi kali ini untuk ayah dan ibunya.
            “Pagi juga, Nak.” balas sang ibu yang berada di dapur.
            “Pagi juga Riska. Sudah siap kamu untuk hari ini?” jawab sang ayah sambil bertanya.
            “Sudah dong Yah. Riska gitu.” tertawa yang lebar dari bibirnya. “Riska mandi dulu ya. Sudah siang ni.
            “Iya nak.”
            Hanya 15 menit waktu yang dibutuhkan riska untuk di kamar mandi. Setelah selesai, ia bergegas menuju kamarnya dan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya.
            Meja rias yang terlihat berantakan, ia tata serapi mungkin seperti ia menata rambut lurusnya itu. Terlihat cantik dia hari ini. Alat-alat tulis plus kartu ujian telah ia mesukkan ke dalam tas mininya. Seragam yang dikenakannya pun rapi menempel di tubuhnya. Ia yakin bahwa semua sudah lengkap.
            “Riska, ayo cepat ke ruang makan. Makanan sudah siap.” suara keras ibunya terdengar dari luar seakan menggodanya untuk menyantap makanan lezat hari ini.
            “Iya, Bu. Riska keluar.”
            Tanpa berpikir panjang karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.45, ia cepat-cepat menuju meja makan.
            “Hmmm. Lezat sekali bu masakannya.”
            “Ya sudah, kamu makan yang banyak ya bair nanti bisa berpikir.”
            “Oke Bu.”
            Tepat pukul 07.00, pintu rumah Riska ada yang mengetuk.
            “Wah, itu pasti Ricky. Ayah, Ibu, Riska berangkat dulu ya. Doakan Riska supaya bisa mengerjakan ujian dengan baik dan sunggujh-sungguh.”
            “Pasti Nak. Itu sudah kewajiban kami sebagai orang tua kamu. Kamu hati-hati di jalan ya.”
            Dengan penuh kasih sayang, Riska mencim tangan ayah ibunya yang keduanya juga mencium kening Riska. Disusul dengan Ricky yang juga meminta doa kepada orang tua Riska sambil berpamitan. Keduanya akhirnya berangkat.
            Sesampainya mereka di tempat ujian, mereka mencari ruangan mereka masing-masing. Dan tepat pukul 08.00, ujian dimulai. Seluruh pengawas telah berada di tempat masing-masing. Dengan siap dan tenang, Riska dan Ricky mengerjakan soal mereka.
            “Duh, sebegini susahnya soal ujian. Aku harus bisa.” dalam pikiran Riska terbersit kata-kata seperti itu.
            Dua jam perang telah berlalu. Hati mereka lega.
            “Ricky !!!!” teriak Riska memanggil Ricky yang juga sedang mencari Riska.
            “Riska, gimana ujian tadi?” tanyanya.
            “Hmmm, aku nggak yakin kalau ujianku bisa sukses.” Riska pesimis.
            “Aku sudah bilang berapa kali, kamu harus optimis.”
            “Tapi tadi soalnya itu susah banget. Aku nggak bisa ngerjakannya.”
            “Udah deh Ka. Hilangkan pikiran kayak gitu.” suruh Ricky dengan suara tegas.
            “Nggak bisa, Ky. Bakalan jelek hasilnya.”
            “Kalau kamu seperti ini terus, aku nggak bakal mau belajar denganmu lagi.”
            “Ya sudah, itu terserah kamu.”
            “Oke. Aku pulang.” akhir Ricky.
            Pertengkaran itu membuat mereka sama-sama jengkel dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang sendiri-sendiri.

* * *

            Saat Riska akan belajar, ia teringat kejadian di tempat ujian tadi bersama Ricky. Ia terlihat sedih. Tapi egonya tetap ada. Ia memutuskan untuk berhenti memirkannya dan terus belajar meskipun sendirian.
            Berbeda dengan Ricky. Ia terus memikirkan Riska yang sedang belajar sendirian. Kejadian itu membuatnya terus merasa bersalah. Tetapi egonya pun tidak mau kalah dan ia berpikir bahwa harus Riska yang minta maaf padanya.
            Akhirnya mereka tetap pada pendirian mereka masing-masing untuk sendirian tanpa bersama-sama. Pada hari yang kedua sampai hari ujian terakhir, mereka tetap sendirian tanpa ada yang mau meminta maaf dan mau saling berbicara. Saat ujian, mereka hanya berpikir menggunakan pikiran mereka masing-masing tanpa adanya tukar pikiran yang biasanya sering mereka lakukan. Ada rasa yang sedikit mengganjal di hati mereka karena pertengkaran tersebut.
            Ujian hari terakhir pun telah selesai. Riska sangat lega dan sedikit was-was. Disatu sisi ia memikirkan hasil ujiannya yang telah ia kerjakan sungguh-sungguh itu, tapi di sisi lain ia teringat kepada Ricky. Namun, ia hilangkan pikiran tentang sahabatnya itu.
            Ia teringat bahwa keesokan harinya adalah hari penentuan ia diterima atau tidak di universitas jurusan teknik informatika yang ia pilih bersama Ricky.

* * *

            “Ibu, aku berangkat ya.” ijin Riska pada ibunya.
            “Iya nak. Hati-hati ya. Semoga kamu berhasil.”
            “Oke Bu. Doakan Riska ya.” Senyumnya pun dilontarkan kembali.
            “Pasti nak.”
            Ia berangkat sendirian dan sesampainya di universitas itu, ia melihat Ricky yang sudah sampai duluan di tempat itu. Ia langsung bergegas menuju ke papan pengumuman. Ricky yang mengikutinya dari belakang terlihat senyum-senyum nggak jelas. Nampaknya ia sudah tahu kalau mereka berdua diterima di jurusan yang sama.
            Riska telah berada di depan papan pengumuman itu yang tanpa ia sadari bahwa Ricky juga berada di sebelahnya. Satu per satu ia lihat dengan teliti nama-nama peserta yang diterima di fakultas itu. Dan, ia menemukan namanya tercantum bersamaan dengan nama Ricky. Artinya, mereka berdua diterima di jurusan yang sama. Tanpa berkata-kata apapun, Riska menoleh ke kanan dan ia melihat Ricky di sebelahnya langsung saja memeluknya.
            “Ricky !!!!” teriak Riska sangat gembira pada Ricky. “Upz…. Maaf Ky.” dengan tersipu malu, ia melepaskan pelukannya itu.
            Ricky hanya senyum-senyum melihat tingkah Riska saat itu. “Nggak apa-apa Ka. Kalau kamu mau peluk aku lagi juga nggak apa-apa kok.” Sambil senyum ia menggoda Riska yang merah pipinya itu.
            “Ah, kamu Ky, bisa aja deh.” Sambil berkata, ia memundukkan kepalanya dan senyum malu. Terdiam sejenak, Riska berpikir dan berniat untuk meminta maaf. “Ky, aku minta maaf ya karena masalah yang waktu itu. Aku benar-benar down. Kamu nggak marah kan?”
            “Udah nggak apa-apa Ka. Kamu nggak salah kok. Aku juga yang salah. Aku juga minta maaf ya.” balas Ricky meminta maaf. “Ya jadikan itu pelajaran buat kamu.”
            “Iya Ky. Makasih ya. Oh iya, selamat ya kamu udah diterima di universitas ini.”
            “Iya sama-sama. Selamat juga dong buat kamu.” kegembiraan Ricky pun terpancar dari senyumannya itu. “Kita rayain yuk. Makan di tempat biasanya.”
            “Oke. Ayo.”
            Di sepanjang jalan sampai mereka selasai makan, mereka kembali merasakan kebahagiaan bersama-sama. Akhirnya Ricky mengantar Riska pulang.

* * *

            Beberapa hari kemudian. Hari ini adalah hari yang menegangkan bagi mereka. Hari dimana pengumuman kelulusan disampaikan.
            “Riska.” sapa Ricky di depan rumah Riska.
            “Tunggu sebentar Ky.” jawab Riska dari dalam rumahnya.dan tidak beberapa lama ia keluar.
            “Ayo Ka, cepat. Aku sudah tidak sabar mengetahui hasil ujianku.”
            “Aduh, iya sabar Ky. Ayo kita berangkat.”
            Sesampainya mereka di sekolah, mereka langsung menuju pusat pengumuman. Dan didapatinya, nilai yang mereka peroleh sangatlah bagus. Tak terbayangkan kegembiraan mereka berdua. Tak banyak kata, Riska tanpa sadar lagi memeluk Ricky dan dengan senang hati Ricky membalas pelukannya.
            “Ky, aku bahagia banget hari ini. Semuanya berjalan sesuai harapanku.” kegembiraan Riska tak dapat diungkapkan lagi.
            “Tuh kan, apa aku bilang. Kamu pasti bisa dan kamu harus optimis. Jangan gampang nyerah dan putus asa. Dan sekarang hasilnya sangat baik kan?” dengan melepaskan pelukannya itu, ia menebarkan senyumnya.


Nama : Dwi Wisnu H
NIM   : 091024227

0 komentar

Posting Komentar