Vina akmala dieny
091024253
UNSUR INSTRINSIK
Tokoh : Ocha >> Orangnya memiliki semangat yang keras. Aktif . Terkadang Tidak bisa mengambil keputusan sendiri, perlu teman pendorong sebagai penyemangat.
: Dewi >> Sifatnya lebih keibuan, Baik, sabar dan penyayang
: Burdin >> Kocak, gaul, lincah dan penuh ide kreatif.
Setting : Kos-kosan Dewi dan Ocha tempat tes.
Alur : Maju
Tema : “Long live learning”
: “Semangat Ocha !!! ”
Tetulis dalam diary ocha ketika dia menyandarkan diri di kursi goyang ibu kosnya, yang sengaja di berikan sebagai tempat bersantainya.
“ Sudah.. jangan kau buat diri mu menderita hanya karena telah lelah menjalani pekerjaan mu itu “
Suara yang membangunkan ocha dari lamunannya, teman yang selalu setia dan memberinya semangat, meski terkadang membuatnya sebal karena merasa terlalu menganggap gampang semua masalah yang dirasa berat oleh ocha. Sikap dewasanya itulah yang menjadi karakter Dewi, teman sekosnya, tempat yang kecil dan agak terlihat kumuh posisi di pojok kampung dan terpencil dari kota.
“Ah kamu, selalu menganggap gampang semua masalah. Aku tadi baru aja ketemu sama temen lama, dia kuliah di Universitas Negeri terkemuka di kota ini. Aku malu bertemu dengannya dengan posisi sebagai pelayan.”
“Kenapa kamu mesti malu, bukankah kamu juga akan menjadi sepertinya, hanya saja waktu yang membedakan diri mu dengan nya. Terus berusaha, kumpulkan uang itu dan belajar. Bulan depan sudah dimulai pendaftaran mahasiswa baru, Dan kau sebentar lagi akan jadi sepertinya.”
Keinginan ocha akan merubah nasibnya dengan menimba ilmu diperguruan tinggi sudah diinginkannya sejak lulus bangku SMA. Dengan modal berani, dia berangkat ke ibu kota untuk mencari kerja dan mengumpulkan uang. Cita-citanya sebagai penegak hukum yang dirasanya sudah tidak mungkin dicapai, memutar arah ke kancah politik.
Seorang politikus yang pandai mengolah kata, membolak balik fakta dan penuh kreatifikas, mengelabuhi semua hingga terlihat indah. Itulah kini yang sedang menjadi cita-citanya saat ini.
Tidak bisa ditebak bagaimana cara berfikir gadis ini dalam menyikapi semua, memang terkadang dirinya yang pintar sekali dalam berbicara layaknya juru bicara presiden, Andi Malanranggeng yang menjadi figurnya. Gaya nya yang santai ketika menanggapi masalah membuat gadis 19th ini mengaguminya. Tapi di sisi lain tingkat keahlian dalam mempromosikan sesuatu juga menjadi titik berat gadis ini, hingga dalam setiap even sosialisasi di restoran tempat kerjanya dia ditempatkan dibaris utama sebagai gudang informasi barang baru.
“Aku mulai meragukan diri ku, untuk masuk universitas dewi..!!” yang tiba-tiba mencoba untuk berbagi cerita dengan teman akrapnya tersebut.
“Kenapa kau mulai ragu, bukankah selama ini kau cukup bersemangat untuk masuk universitas dan kau akan mendapatkannya??”
Ocha bukan hanya bekerja di restoran tapi juga menjual barang-barang yang sengaja dibelinya dari pusat untuk dijual.
Semangatnya begitu besar hingga waktunya benar-benar digunakan untuk mencari uang.
“iya.. q mulai meragukannya. Apalagi ketika waktu tes itu datang, apakah q mampu menyelesaikan soal-soal yang telah lama tak q pelajari, selama ini q hanya membaca buku-buku yang meningkatkan kinerja q untuk menjadi informan yang handal ”
“sudah tidak perlu kau fikirkan hal tersebut, berkonsentrasi pada tujuan awalmu, jangan terombang ambing pada keinginan yang baru saja kau inginkan. Hingga nantinya kau tak benar-benar mampu mendapatkan yang kau inginkan itu.”
Dewi yang teus mensuport temananya dan keadaan dirinya sendiri pun berbeda dengan ocha, dewi sudah cukup menerima begitu saja dengan posisinya sebagai pegawai pabrik es cream. Yang dirasa cukup memenuhi semua kepuasan batinnya dan mengisi hari-harinya. Sangat berbeda dengan ocha.
Puisi yang ditulis ocha ketika dia mulai lelah dalam menjalani harinya, yang dirasa cukup terlambat.
Tapi hanya dewilah teman satu-satunya yang memberinya cukup semangat hinnga membuatnya bangkit dan kata-kata itu hanya terkubur dalam diary nya.
>>**<<
Hari yang telah dinantika ocha telah tiba. Dengan menggunaka hem hitam, celana dan sepatu hitam, membuat yang melihatnya merasa bahwa hari ini ada seseorang yang telah berpulang kerahmatullah.
“hay.. diri mu mau tes apa mau berkabung??”
tak kuat menahan untuk tak berkomentar dengan tindak-tanduk temenya ini yang tidak pernah bisa ditebak.
“hahahahh.... ini adalah hari duka q. Karena hingga saat ini pun q tidak yakin untuk mengikuti tes ini. Hingga akan jadi hari terburuk yang pernah ku lalui tanpa ada keyakinan didalam diri qw”
Sambil tersenyum melihat ulah temannya, dewi hanya berkomentar singkat.
“ketika kau tidak yakin untuk mendapatkan apa yang kau inginkan, maka hal tersebut juga tak akan datang meski kau terus memimpikannya.”
Tak tau apa yang dipikirkannya di sepanjang perjalanan. Yang pasti dia hanya terus menatap kedepan melewati gang yang sempit sambil menuntun motornya.
>>**<<
Tak terasa matahari telah lelah menampakkan sinarnya. Melihat ocha dengan tatapan mata yang kosong, bisa ditebak bahwa niat awal untuk berperang telah runtuh saat mengerjakan soal itu.
“bagaimana?? Berapa soal yang mampu kau jawab??”
Tanpa mengihiraukan pertanyaan temannya dia terus berjalan dengan tatapan kosong memasuki ruang sempit, dengan lampu agak redup dan sinar matahari sore yang mencoba menembus ruang tersebut melalui jendela kamarnya yang terbuat dari kayu dengan 3 gairis vertikal membagi daun jendela tersebut. Layaknya bangunan di pedesaan.
Merebahkan dirinya, menenggelamkan diri dalam tidurnya. Dan temannya hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
>>**<<
Hari yang telah lama ditunggu untuk mendapatkan semua jawaban dari beberapa penantiannya selama ini. Yaitu pengumuman hasil tes untuk masuk perguruan tinggi.
Tapi selama beberapa hari ini ocha jarang berkomunikasi dengan teman tunggalnya. Bahkan jarang terlihat dan ketika ditanya dia hanya menjawab dengan singkat dan berlalu pergi begitu saja. Terkadang juga membawa buntalan yang cukup besar dalam kantong plastik berwarna hitam. Gerak-geriknya jarang dari biasanya.
“cha kamu g liat hasil ujian kamu kemaren? Siapa tau kamu diterima.”
Sapa dewi ketika ocha hanya berdiam diri di kamarnya sambil mencatat sesuatu yang dirasa tak perlu dewi untuk mengetahuinya.
“Mmm bentar deh, qw lagi konsentrasi nie..”
Itulah ocha, ketika sudah ada maunya dia akan merasa bahwa dirinya lah yang paling fokus pada tujuannya.Saat itu memang saat yang dinantikan, tapi terlihat dari ekspresi ocha terlihat bahwa saat ini bukan hal yang terlalu penting untuknya.
Beberapa menit tertegun dewi dengan kondisi yang tak dianggapnya sebagai kondisi yang wajar. Suara ketukan pintu mengagetkannya, membangunkan lamunannya, akan sikap ocha.
“wi, ocha ada g??”
Dengan rambut gondrong, ala 70an, dan celana komprang layak penyanyi dangdut, terlihat sangat bersahabat dan cukup nyaman bagi pemakainya. Burdin, itu teman dewi dan ocha yang kini tinggal di Bandung. Tidak tau apakah dia berkuliah atau kerja. Yang pasti kehadirannya sungguh diluaar dugaan.
“Hoi-hoi... Burdin kah dirimuw... Ada angin apa kau tiba-tiba ada disini”
“Ah.. biasa, diri ku sedang ada bisnis dengan ocha”
“wah yang dah kenal dunia bisnis..hahahah”
“ayoh masuk,,, tuch ocha didalem” Lanjut dewi, mempersilahkan untuk masuk kamar yang mungil itu.
Ternyata selama ini, mereka menjalin hubungan, bukan hubungan cinta tapi menjalin hubungan bisnis. Mereka punya rencana untuk saling bekerjasama mengembangkan distro. Dan nantinya yang akan di posisikan di Surabaya, kota metropolitan, minta konsumsi yang tinggi akan mode yang up date. Burdin lah penyuplai barang distro tersebut dari tempat asalnya, Bandung.
>>**<<
Hasil ujian memang seperti apa yang telah diduga ocha sebelumnya. Bahwa dia telah gagal dalam ujian tersebut. Tapi di sisi lain ocha mendapatkan hal yang mungkin lebih berharga dari apa yang dia bayangkan, ketika mencoba membanting setir untuk menggeluti dunia bisnis. Tanpa disadari bakatnya berbicara dan promosi membuat distronya berkembang pesat, bahkan mampu membuka beberapa cabang ketika mencapai satu tahun. Hanya dengan bekal ilmu promosi dan manajemen yang baik. Bahwa semua yang telah dipelajari, pengalaman yang telah didapat tak akan menguap sia-sia ketika mau terus bersemangat untuk mencari apa yang kita inginkan dalam hidup ini. Ketika bisnis distronya telah melesat, saat itulah dia mencoba untuk menimba ilmu kembali. Tapi kali ini bukan jurusan yang diminatinya dahulu, tapi jurusan yang mengimbangi bisnis nya saat ini. Yaitu bahasa inggris dan manajemen. Yang nantinya Ocha akan mencoba menembus luar negeri sebagai sasarannya. Dan Dewi mengikuti perkembangan di belakang ocha dengan setia sebagai kawan. Yang saat ini dirinya sendiri juga di berikan jabatan sebagai marketing di distro Ocha.
Blog Archive
-
▼
2010
-
▼
Mei
- priwan_PENTINGNYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU
- priwan_wanita berlian
- BINTANG YANG BERSINAR baharudin
- cerpen "“THE POWER RANGERS”
- cerpen "Ilmuku dibalik bilik bamboo"
- cerpen Dibalik kekuranganku tersimpan segudang kel...
- CERPEN “ Biarkan aku menggapai Impianku “
- cerpen "keceriaan dibalik sebuah kegagalan"
- cerpen
- Papre_Nur Aristiana
- Fiksi_cerpen_vina
- Keinginan Yang Kuat Untuk Menggapai Impian
- Cerpen Kaya Ilmu Miskin Harta
- M Saikhul Arif 091024255 Artikel non fiksi pendidi...
- CERPEN "KEKSUKSESANKU KARENA ISTERIKU"
- Cerpen "Mengubur Asa"
- Curahan Hati Pak edi
- cerpen
- Cerpen Good Job
- petrick k 091024250 cerpen (Sacrosand) Juli 2008 ...
- cerpen
- cerpen
- <!-- /* Fo...
- fiksi
- tugas fiksi ( kiat menuju sukses)
- MAHASISWA dan MORAL (Wajah Mahasiswa Saat Ini)
- Rini sang Pendiam yang Belajar Mandiri
- Impianku....(cerpen)
- MEDIA CETAK “ARTIKEL PENDIDIKAN” OLEH : ELVA...
- MEDIA CETAK “ARTIKEL PENDIDIKAN” OLEH : Ika Kur...
- tugas FIKSI "Semangat Loper Koran untuk sekoLah"
- pengumuman-pemgumuman!! ada tugas mata kuliah PSD...
-
▼
Mei
Posting Komentar