nama : M Aris ryan S
nim : 091024216
SADAR AKAN KELAKUAN
Hari panas terik. Membuat ubun-ubun terasa mendidih. Joni mempercepat langkah menuju rumahnya. Akhirnya sampai juga. Dia duduk melepas lelah sambil membuka sepatunya.
‘’Huh, lega rasanya,’’ ia menghela napas dan beranjak masuk ke dalam. Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, ia menemukan uang berserakan di lantai
‘’Hah, uang apa pula ini Ibu,’’ katanya heran. Tentu saja dia heran. Di zaman serba sulit ini uang dibiarkan berserakan di lantai begitu saja. ‘’Untung aku bukan maling yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah,’’ pikirnya nakal.
“Uang punya Ibu. Berikan sama Ibu.Bapak mau keluar,’’ sahut bapak.‘’Hmm, Ibu sudah punya uang sekarang. Jadi, aku bisa minta uang untuk membayar uang les dan LKS,’’ pikirnya.
‘’buuuuu, buuuuu,’’ panggil Joni.
‘’Ada apa Jon. Ganggu orang saja kamu ini,’’ kata Ibunya jengkel.Lalu Joni menyerahkan uang tersebut pada ibunya. Ia menjelaskan bahwa uang les dan LKS-nya belum dibayar. Sedang pihak sekolah sudah beberapa kali menagihnya. Tapi bukannya diberi uang, dia malah dimarahi oleh Ibunya.
‘’Saya heran dengan sekolah kamu itu. Banyak sekali tetek bengek yang harus dibayar. Kan ada dana BOS. Untuk apa dana BOS itu? Sudahlah, tidak usah kamu sekolah. Buang-buang uang saja.
Joni sudah menjelaskan bahwa dana BOS itu tidak mencukupi, karena sekolahnya hanya sekolah swasta dan banyak memakai tenaga honorer. Tapi maknya tidak mau tahu dengan semua itu. Dia malah menyuruh Joni cari uang sendiri. Kemanakah uang kan dicarinya? Ah, Ibu tak mengertilah dengan pendidikan. Padahal pendidikan itu sangat penting. Dengan pendidikan kita akan bisa menatap masa depan yang gemilang.
‘’Buat apa kamu sekolah? Lihat itu hah, banyak yang sekolah tinggi, tapi akhirnya cuma jadi pengangguran, kan? Jadi buat apa sekolah?’’ tambah Ibunya lagi.
Joni lebih memilih diam dari pada menjawab omongan Ibunya. Ia menyayangkan kenapa Ibunya mempunyai pola pikir yang terbelakang seperti itu? Sekarang orang berlomba-lomba mencari ilmu, tapi Ibu malah melarangnya.
‘’Ibu…bu, mengapa ibu lebih suka mengumpulkan uang, beli emas, dan membanggakan diri pada orang lain dari pada menyekolahkan kami anak-anak mak. Itu akan lebih bermanfaat,’’ gumamnya dalam hati.
Ibu sudah lelah mendengarkan omelan Ibunya itu. Dia keluar dan pergi entah ke mana.
Sedangkan si Lina, adiknya baru saja pulang dari sekolah SMP yang tidak jauh dari rumahnya. Setibanya di rumah, Ibu menyuruhnya mandi dan berpakaian yang bagus. Tidak biasanya mak seperti ini. Ternyata si Lina akan dilamar oleh Pak joko duda kaya yang tinggal di desa sebelah. Tentu saja Lina menolak dengan keras semua itu. Namun, mak tetap bersikeras dengan kemauannya. Ia sama sekali tidak memikirkan bahwa anaknya itu di bawah umur untuk menikah. Apalagi akan dinikahkan dengan seorang duda. Ah, benar-benar tidak masuk akal.
Ibu sudah terpengaruh oleh harta. Ibu bilang, ia iri pada teman-teman arisannya yang kaya dan hidup mewah. Sedangkan mak tidak punya apa-apa. Ibu ingin menabung untuk menggapai semua itu. Kalian tidak usah sekolah. Hanya menambah beban saja.
Hari-hari berikutnya, Joni tak lagi bersekolah. Ia berhenti dan bergaul dengan teman-temannya yang tidak sekolah. Sebenarnya hati kecilnya selalu sedih tiap kali melihat teman-temannya bersekolah. Tapi apa mau dikata, mak sudah tidak mau lagi menyekolahkannya.
Setiap kali ia ikut teman-temannya dan tampaknya ia juga mulai terpengaruh oleh teman-teman baru itu. Sedangkan Ibu sudah tidak peduli lagi dengannya. Ia sibuk mengumpulkan harta, apalagi sekarang ia telah punya menantu kaya.
Waktu terus berjalan. Ibu semakin terjerumus dalam kehidupan yang tidak memiliki masa depan. Ia telah berubah. Hingga suatu hari dengan tergopoh-gopoh, Enda temannya Joni datang dan memberitahukan pada Ibu kalau Joni ditangkap polisi tadi malam. Tapi sekarang ia dirawat di rumah sakit. Overdosis katanya. Habis pesta sabu-sabu.
Bagai guntur di siang bolong, Ibu dan bapak kaget bukan kepalang. Tapi apa mau dikata. Itu salah mereka, mereka yang menginginkan anaknya seperti itu. Mak menangis-nangis menyesali perbuatan dan siapnya yang tak mau menyekolahkan anaknya itu.
‘’Sudahlah Nur, mudah-mudahan Joni lekas sembuh dan kita bisa kumpul lagi seperti dulu. Akan kita bina keluarga kita. Biarlah kita hidup sederhana, asalkan hati dan keluarga kita bahagia,’’ kata Bapak dengan mata berkaca-kaca, ia berusaha menenangkan hati Ibu.
‘’Bapak benar, kini mari kita bina dan songsong keluarga sakinah,’’ kata Ibu .
Blog Archive
-
▼
2010
-
▼
Mei
- priwan_PENTINGNYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU
- priwan_wanita berlian
- BINTANG YANG BERSINAR baharudin
- cerpen "“THE POWER RANGERS”
- cerpen "Ilmuku dibalik bilik bamboo"
- cerpen Dibalik kekuranganku tersimpan segudang kel...
- CERPEN “ Biarkan aku menggapai Impianku “
- cerpen "keceriaan dibalik sebuah kegagalan"
- cerpen
- Papre_Nur Aristiana
- Fiksi_cerpen_vina
- Keinginan Yang Kuat Untuk Menggapai Impian
- Cerpen Kaya Ilmu Miskin Harta
- M Saikhul Arif 091024255 Artikel non fiksi pendidi...
- CERPEN "KEKSUKSESANKU KARENA ISTERIKU"
- Cerpen "Mengubur Asa"
- Curahan Hati Pak edi
- cerpen
- Cerpen Good Job
- petrick k 091024250 cerpen (Sacrosand) Juli 2008 ...
- cerpen
- cerpen
- <!-- /* Fo...
- fiksi
- tugas fiksi ( kiat menuju sukses)
- MAHASISWA dan MORAL (Wajah Mahasiswa Saat Ini)
- Rini sang Pendiam yang Belajar Mandiri
- Impianku....(cerpen)
- MEDIA CETAK “ARTIKEL PENDIDIKAN” OLEH : ELVA...
- MEDIA CETAK “ARTIKEL PENDIDIKAN” OLEH : Ika Kur...
- tugas FIKSI "Semangat Loper Koran untuk sekoLah"
- pengumuman-pemgumuman!! ada tugas mata kuliah PSD...
-
▼
Mei
Posting Komentar