Impianku....(cerpen)

Diposting oleh DUNIA TP 2009 B Selasa, 25 Mei 2010

Kriing!!!..... Jam weker berbunyi nyaring, tanda bahwa sudah saatnya aku untuk bangun.
Pukul 3 pagi.
Huh……. Memang melelahkan bila harus bangun sekarang.
Apalagi kemarin malam sekitar pukul 11, aku baru bisa tidur karena harus mengerjakan tugas membuat buku besar untuk pelajaran akuntansi di kelas hari ini.
Dengan susah payah aku berusaha bangkit dari tempat tidurku dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh muka.
Fuih…. Dinginnya air di pagi hari membuatku sedikit lebih segar dan menghilangkan kantukku.
Setelah aku membasuh muka, segera aku menuju ke dapur supaya segera bisa membuat makanan untuk sarapan nanti, dan kemudian mandi. Aku harus bergegas, karena paling tidak pukul 4 aku sudah harus tiba di tempat agen koranku untuk memgambil dan mengantarkan korannya
***
Setelah selesai mandi dan kemudian sarapan, segera aku pergi ke kamarku, memasukkan buku-buku untuk pelajaran hari ini dan juga seragam sekolahku ke dalam tas kemudian bersiap-siap untuk berangkat.
“kak?....” suara kecil dan parau memanggil.
“ya?.... ada apa?..” sahutku pelan.
Dia adalah adikku, Adi. Aku berbalik untuk melihatnya. Terlihat sekali dari wajahnya, bocah kecil itu baru saja bangun dan keluar dari kamarnya. Semua itu dapat diketahui dari suara kecilnya yang terdengar serak, dan rambutnya yang masih berantakan. Dia berdiri menyandar tembok dekat kamarnya, dan menghadap kea rahku sambil menguap kecil.
“kakak sudah mau berangkat ya” tanyanya kepadaku.
“ya Di…..” jawabku pelan.
“oh… iya… nanti jangan lupa, jam setengah 5 bangunin ibu ya” jawabku mengingatkannya sambil terus membetulkan tali sepatuku.
“tadi kakak udah buat mie goring sama telur dadar buat sarapan…. Sekarang kakak mau berangkat dulu ya… soalnya udah mau terlambat nih…” lanjutku sambil melihat jam tangan yang telah menunjukkan pukul 4.40.
“beres…… hati-hati di jalan ya kak”
“oke… tenang aja” jawabku cepat.
“assalammualaikum”
“walaikumsalam”
Setelah berbicara sejenak, aku langsung bergegas menuju sepedaku yang sudah ada di depan teras, lalu meraihnya pergi meninggalkan rumah.
Sesampainya di tempat agen koranku, kulihat di sana sudah mulai ramai di penuhi dengan kawan-kawan para loper Koran. Ada yangsudah mulai mengantarkan Koran, ada yang masih sibuk menghidung Koran yang akan diantarnya ,dan juga ada yang baru saja datang sama sepertiku.
Setelah memarkir sepedaku, aku segera masuk untuk mengam bil Koran dan alamat kemana Koran itu harus diantar dan setelah itu segera berjalan keluar untuk mengantarnya sambil menghitung Koran yang kubawa.
“Andi!!.. tunggu!!....” panggil seseorang dengan tiba-tiba.
Andi….. Andi ardiansyah….. itulah namaku. Dan secara refleks, akupun menoleh ketika namaku di panggil.
“Ada apa pak Ali?....” tanyaku sambil berbalik dan berjalan menghampirinya.
“Apakah sepulang sekolah nanti kamu bisa membantuku ?” Tanyanya.
“Insya Allah bisa.. tapi kalo boleh saya tahu membantu apa ya pak” Jawabku pelan.
“Begini…..”Pak andi menerangkan; “Nanti siang aku harus pergi ke bandung karena ada keperluan mendadak…”
“Mungkin aku baru bisa pulang kembali ke Kediri paling tidak besok sore… karena itu aku ingin kamu menggantikanku untuk tugas pengongtrolan koran kepadamu… “
“Aku sangat berharap kamu bisa nak… karena di antara yang lain, kamulah yang paling bapak percaya dapat melakukannya” Lanjutnya dengan nada memohon.
“……….Baik pak saya mengerti.” Jawabku setelah sejenak memikirkannya.
“Terima kasih banyak ya nak… bapak tahu kamu pasti dapat diandalkan” Ujarnya tersenyum lega,sambil membenarkan posisi kacamatanya.
“Baik pak terima kasih…saya janji, saya akan berusaha semampunya”Tambahku lagi.”Jika sudah tidak ada urusan lain,saya mau permisi sekarang, karena masih ada Koran-koran yang yang harus saya antar”
“Assalammualaikum”
“Walaikum salam,hati-hati ya nak”
Kemudian dengan segera, aku mengambil sepedaku, dan beranjak pergi...
Di tengah jalan,, sambil terus menuju a lamat-alamat Koran yang harus diantar. Aku terus memikirkan tentang pak Ali dan kebaikannya selama ini terhadapku.
Pak Ali adalah pemimpin agen Koran di tempatku bekerja,Dia sangat mencintai pekerjaannya dan juga para loper koran. Karena baginya pekerjaanya adalah hidupnya, dan ia sudah menganggap para loper Koran seperti keluarganya sendiri.


By : Rezza Aquila

0 komentar

Posting Komentar