nama : Mustika A
Nim : 091024215
MEDIA CETAK
“ FIKSI “
Dosen pembimbing:
Irene Yolanita Maureen, S.Pd., M.SC.
132306697
Oleh:
Mustika Angger P.N.
091024215
JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
UNTUKMU AYAH DAN IBU
Rambutnya lurus dengan pita merah diikatkan, poninya berjatuhan sambil naik sepeda dengan senyum manisnya. Dari kejauhan teman-temannya menyapa.
“ Hai, Ran!” sapa Octa dan Ragil.
“ Hai, juga kawan-kawan!” sapa balik olehku.
Mereka memakir sepedanya lalu hendak berjalan kekelas.
Bel pun berbunyi, para murid XII IPS 1 telah siap untuk mengikuti pelajaran. Setelah pelajaran itu selesai Octa dan Ragil berlari kecil ketempat bangku ku sambil menepuk bahunya, Rani pun kaget.
“ Woi, ayo kekantin non!” kata Octa dan Ragil.
“Aduh, kalian ini buat jantungku kaget aja!” balas kata ku.
Sesampainya kekantin, lalu membeli makanan dan mendapatkan tempat duduk. Mereka mengobrol tentang kelanjutan mereka setelah lulus nanti.
“ Hmhmhmhm, aku pengen masuk IAIN Surabaya” kata Octa.
“ Klo, aku masih bingung mau kuliah atau kerja!” kata Ragil.
“ Huuuft, aku pengen masuk UNESA!” kataku.
“ Huuuu, emang bisa?” balasan dari Octa.
1
“ Insyaallah, aku bisa kok teman-teman, doain yach!” kataku sambil tersenyum
ke Octa dan Ragil.
“ Tahun kemarin kakak kelas kita ada yang daftar ke UNESA tapi tidak diterima.
Padahal dia pintar, katanya sich, banyak saingannya gitu!” kata Ragil.
“ iyalah, kan dijawa timur UNIVERSITASnya yang terkenal di Surabaya dan
di Malang. He…he…he…he… yang aku tahu,lho!” sahut Octa.
Aku hanya tersenyum sambil melihat teman dekatku berkata seperti itu. Hatiku tiba-tiba terciut dengan pembicaraan temanku. Apakah aku bisa dan aku mampu?
Hatiku bertanya-tanya dialam sadarku. Padahal baru ada beberapa minggu kemarin aku Ujian Nasional. Setelah aku pulang sekolah, aku termenung dengan ucapan Octa dan Ragil tadi.
“ Huuuuft, dari pada dipikirin mending aku sholat dhuhur dulu aja dech!” kataku.
Setelah itu, aku belajar dan membaca materi yang nanti diujikan. Tiba – tiba aku lihat jam 16.00 sore. Aduuuuh, aku belum sholat ashar . aku ambil air wudhu lalu aku aku mendekatkan diri kepada allah. Seharian ini, aku didalam kamar melulu sampai lupa akan makan. Sampai diantar makan sama ibu, memikirkan hal tersebut lucu juga kayak anak manja saja.
Keesokan harinya sekolah libur, akan tetapi aku janjian bersama Octa dan Ragil ke sekolah untuk melegalisir surat karena itu syarat penting kita mendaftar. Setelah itu kami berangkat ke UNESA KETINTANG untuk melihat bangunannya lalu mendaftar dan waktu itu juga Ayah dan Ibu mendaftarkan aku ke SNMPTN lalu kami pulang kerumah bersama. Duduk diatas tempat tidur aku, sambil melihat persyaratan apa saja yang dibawa tes SNMPTN dan SPMB, ternyata tesnya dahuluan SNMPTN. Malamnya pun aku buka buku yang mana harus ku pelajari. Setelah belajar aku termenung dan mengambil bernafas panjang lalu aku hembuskan. Aku lihat jam dinding diatas lemariku berbunyi menandakan jam 23.00 malam.
Aku merasa tidak bisa bangun, badanku panas, kepalaku pusing banget dan susah sekali dibangunkan. Tiba-tiba aku paksakan untuk duduk, dan bernafas panjang. Aku masih dalam keadaan duduk, disaat itu juga pikiranku bingung dan hampa, yang aku rasakan adalah badanku lemas dan kepalaku pusing banget. Mula-mula ibu membuka kamarku sambil tersenyum padaku. Lalu aku berfikir, ibu begitu sayang sekali padaku dan telah mengasuhku dari kecil. Sejak dulu ayah dan ibu menginginkan aku menjadi seorang Guru.
2
Dan aku merasa tidak keberatan bika aku seorang Guru, asalkan aku bisa membuat kedua orang tuaku bahagia. Aku tak bisa menolak keinginan kedua orang tuaku, beliau berdua sangat berharga bagiku.
“ Ayah Ibu, aku cinta kalian”. Bisikku di hati.
Air mataku keluar begitu saja, aku tak bisa menahannya. Aku merasa bahagia sekali mempunyai kedua orang tua yang cinta dan sayang sekali padaku.aku berjanji akan melakukan yang tebaik untukmu ayah dan ibu. Tiba-tiba aku tersentak kaget, saat ibu mengelus-elus kepalaku. Lalu kepeluk dan kucium kedua tangannya. Tangisanku membuat ibu bingung.
“ Kamu, kenapa Ran ?” Ibu bertanya.
“ Ibu, maafkan Rani selama ini.” Kataku.
Ibu tersenyum mendengar kata-kataku. Lalu dipegangnya jidatku oleh ibu.
“ Badan kamu kok, panas?” Tanya Ibu.
“ Entahlah bu, tapi bener Rani tidak apa-apa kok!” jawabku.
“ Ya , sudah kamu sekarang mandi air hangat dan ibu siapkan makan untukmu.” Kata Ibu.
Setelah mandi dan makan, Ibu mengajakku kerumah sakit untuk berobat. Kata dokter aku terkena penyakit Tipus serta memberikan resep obat. Setelah beranjak membeli obat, ibu dan saya kembali pulang kerumah. Disaat itu juga ibu menyuruhku minum obat dan segera tiduran dan aku menuruti kata-kata beliau. Setelah ibu menutup pintu kamarku aku segera bergegas mencari buku pelajaran yang harus aku pelajari, persiapan untuk tes nanti sampainya selesai ketiduran juga.
Paginya badanku panas sekali, lalu ibu menyuruhku minum obat dan minum air putih yang banyak. Sambil tiduran aku berfikir besok sudah hari senin, besok pagi sudah tes SNMPTN, wuuuich, aku yakin bisa!” .
Pagi-pagi sekitar jam 4, aku segera mandi lalu mengambil air wudhu untuk segera sholat. Setelah itu aku makan dan karena aku belum punya SIM sehingga ayah mengantarku untuk tes. FBS adalah tempatku tes, tempat duduk nomer 3 dari depan dekat tembok disitu aku duduk. Aku lihat soalnya tidak begitu sulit akan tetapi pikiranku buyar akibat penyakit tipus yang belum sembuh dari kemarin. Tes tersebut aku kerjakan sebisaku, hingga akhirnya banyak yang kosong belum terisi oleh jawaban.
Setelah tes, pulanglah aku kerumah dan segera masuk kamar. Ayah dan ibu hingga heran kepadaku serta bertanya-tanya kenapa aku ini, dalam hatinya.
3
Didalam kamar aku menangis, yang aku tangisi adalah kenapa tadi pertanyaannya tidak aku jawab semua. Aku menyesal atas tindakanku disisi lain badanku terasa lemas dan kepalaku sakit bila dibuat menoleh kekanan atau kekiri. Pikiranku bingung akhirnya aku buat untuk tidur saja. Setelah bangun tidur, aku segera mandi dan sholat. Setelah itu aku lihat dimeja belajarku ada sepiring nasi goreng dan segelas susu. Aku berfikir pasti yang ngantar Ibu. Tapi ya, sudahlah aku makan saja memang aku lapar juga.
Setelah makan aku segera belajar. Aku lihat jam dindingku mengatakan pukul 23.00 malam. Karena kemalaman dan mataku mengantuk disertai dengan menguap yang lebar buatku tak tahan. Aku rebahkan badanku juga keranjang biar posisinya tidur enak banget. Keesokkan harinya aku tes ditempat yang sama aku menunggu didepan kelas yang dibuat tes. Sebenarnya sekarang sudah waktu dimulai tetapi pintu masih ditutup. Padahal kelas yang lain sudah pada masuk. Menjengkelkan sekali, kata hatiku.
Sekitar menunggu beberapa menit, akhirnya masuk juga yang kemarin tes psikotes dan sekarang tes bidang study. Sebelumnya aku mengerjakan aku berdoa agar ujianku ini mendapatkan nilai yang memuaskan. Dengan semangatku yang tinggi, aku mengerjakannya merasa enjoy dan senang. Dan ternyata soalnya susah juga.
“ Aduh, aku lupa rumus matematika ini!”. Gerutuku.
“ Haduh, soal bahasa Indonesia banyak banget bacaannya, apa cukup waktunya.” Gerutuku lagi.
“ aduuh, bahasa inggris apa artinya ya!”. Gerutuku lagi.
Dengan keluhan demi keluhan, pengawas memakai baju putih menoleh kepadaku.
“Mati aku, pengawas ngeliat dech.” Gerutuku terakhir.
Sesampainya dirumah, Ibu dan Ayah menyuruhku menceritakan yang aku alami sewaktu tes. Aku serasa seperti diintrogasi. Tapi tak apa, merasa aku diperhatiin. Setelah cerita, aku ijin ayah dan ibu untuk pergi kekamar untuk sholat dhuhur. Tak lupa meminta pertolangan kepada Allah SWT, agar ujianku mendapatkan hasil yang memuaskan, amien.
Setelah melewati tes SNMPTN beberapa hari lagi aku mengikuti tes SPMB. Jadi lebih semangat, walaupun masih sakit belum sembuh juga. Dan akhirnya mengikuti tes tersebut, akan tetapi aku merasa enjoy mengikuti tes SPMB dibanding tes SNMPTN aku merasa gugup dan nervous.
4
Setelah mengkuti tes tulis. Esoknya aku mengikuti tes wawancara dan keterampilan. Saat aku mengikuti tes tersebut, saya gugup didepan pengawas. Saat tes SNMPTN saya memilih jurusan S1 Akuntansi dan S1 PGSD, disaat tes SPMB saya memilih S1 PGSD dan S1 Teknologi Pendidikan.
Aku memasuki ruang yang di beberapa sudut ada beberapa pengawas serta anak sebaya aku untuk diwawancarai, sedangkan ada juga yang menyanyi dan menari. Aku duduk dengan wajah tegang dan penuh keringat.
“Coba anda ukur tinggi badan anda disitu!”. kata Bapak Pengawas.
“Ya, pak!”. Kata ku.
Berbagai pertanyaan dilontarkan kepadaku dan aku bisa menjawab sebisaku dan aku merasa ruangan kelas PGSD ini menjadi mengecil, akibat ketakutanku. Lalu aku berpindah tempat untuk mengikuti tes wawancara di Gedung Tekonologi Pendidikan gedung tersebut ada dibelakang sendiri. Tanpa dipanggil, aku memberanikan diri untuk menghadap bapak pengawas atau dosen. Diruangan ini berbeda sekali yang tadinya di PGSD rame dan banyak anak, sedangkan disini aku sendiri aliasnya face to face. Tapi ya, udalah tak apa jalani saja dulu!.
Setelah mengikuti berbagai tes, rasanya lega tinggal menunggu pengumuman saja. Pengumuman SPMB dahulu yang diumumkan dibanding tes SNMPTN, saat itu pagi-pagi bersama Octa dan Ragil aku berangkat ke UNESA KETINTANG ternyata pengumumannya diumukan jam 1 siang. Akhirnya kita kewarnet dulu, karena secara prosedur informasi pengumuman dapat dilihat di internet juga. Saat itu saya memasukkan no. ujianku beserta jurusan S1 PGSD, disitu nampak namaku tidak ada. Sedangkan setelah aku masukkan no. ujian dan jurusan S1 Teknologi Pendidikan, namaku yang tertinggi karena saat itu hanya ada namaku saja. Tapi aku merasa tidak percaya. Diwarnet kita bertiga menunggu dan terus menunggu sampai kelaparan karena paginya kami tidak sempat sarapan hanya tak sabar untuk tahu keterima atau tidak. Sekitar jam 12 kami bertiga keluar dari warnet dan mencari makan.
Setelah makan kami bertiga beranjak ke UNESA KETINTANG. Kami tunggu-tunggu juga tak ada pemberitahuan. Kami sudah capek dan sudah tak sabar. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kepada satpam, katanya suruh nunggu sampai jam 1. Haduuh, lama banget!.
Lalu ada papan besar yang dikeluarkan oleh beberapa pegawai serta satpam sekitar. Lalu kami bertiga dan orang lain pada menggerombol di tempat tersebut. Pertama aku melihat pengumungan di kertas yang aku tuju tulisannya S1 PGSD dan ternyata disitu tidak tercantum namaku. Aku merasa hatiku mulai mengecil, lalu aku lihat di kertas yang ada tulisannya S1 Teknologi Pendidikan disitu ada namaku pada urutan no. 3.
5
Aku merasa senang sekali, aku panggil Octa dan Ragil ternyata mereka tidak ada disampingku, entah kemana tapi aku tak peduli. Karena sangat rame, aku keluar dari keramaian lalu ketempat yang suasananya agak hening. Aku ingin mengatakan sesuatu kepada Ayah dan Ibu, kata hatiku. Aku ambil telephone gengamku dari tas, lalu kudengar suara salam dari seorang ibu.
“Assalammualaikum, bagaimana?” kata ibu mulai tak sabar.
“Wassalammualaikum bu, di jurusan S1 PGSD saya tidak keterima sedangkan di S1 Teknologi Pendidikan saya diterima.” Kataku datar.
“Alhamdulillah, nak!” kata ibu sambil terdengar isak tangisnya.
“ Ya sudah bu, saya segera pulang sekarang.” Sahutku lagi dengan mata yang berkaca-kaca
“ Ya hati-hati.” Sahut ibu lagi.
Saat itu juga, saya langsung mencari Octa dan Ragil. Tenyata mereka duduk dibawah karena kecapekan berdiri. Dan akhirnya mereka berdua tidak ketrima. Akan tetapi mereka senang karena aku keterima dan mengucapkan selamat untukku.
Aku buka pintu rumah, terlihat disitu ada ayah dan ibu telah menungguku. Ayah dan ibu memberikan kata selamat serta pelukan yang amat dalam lalu kudengar isakkan tangis ibu membuat air mataku tak bisa terbendung lagi, kami menangis dengan tangisan kebahagiaan.
6
NON FIKSI
Thema : Seorang anak remaja yang berumur 17 tahun yang masuk UNESA atas bantuan doa seorang ayah dan ibu.
Charakter:
• Rani : anak yang kurang percaya diri, baik, sopan, pendiam, pemalu, dan ingin membahagikan kedua orang tuanya.
• Ayah dan ibu rani : penyayang, pengertian, baik hati.
• Octa : baik, pintar, penyayang.
• Ragil : sopan, rendah hati.
Plot : maju – mundur
Setting : dipinggir jalan, diparkiran sekolah, kantin, kelas, kamar, ruang tamu, di kampus UNESA, warnet. Warung makan pinggir jalan.
Style : formal dan modern.
Blog Archive
-
▼
2010
-
▼
Mei
- priwan_PENTINGNYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU
- priwan_wanita berlian
- BINTANG YANG BERSINAR baharudin
- cerpen "“THE POWER RANGERS”
- cerpen "Ilmuku dibalik bilik bamboo"
- cerpen Dibalik kekuranganku tersimpan segudang kel...
- CERPEN “ Biarkan aku menggapai Impianku “
- cerpen "keceriaan dibalik sebuah kegagalan"
- cerpen
- Papre_Nur Aristiana
- Fiksi_cerpen_vina
- Keinginan Yang Kuat Untuk Menggapai Impian
- Cerpen Kaya Ilmu Miskin Harta
- M Saikhul Arif 091024255 Artikel non fiksi pendidi...
- CERPEN "KEKSUKSESANKU KARENA ISTERIKU"
- Cerpen "Mengubur Asa"
- Curahan Hati Pak edi
- cerpen
- Cerpen Good Job
- petrick k 091024250 cerpen (Sacrosand) Juli 2008 ...
- cerpen
- cerpen
- <!-- /* Fo...
- fiksi
- tugas fiksi ( kiat menuju sukses)
- MAHASISWA dan MORAL (Wajah Mahasiswa Saat Ini)
- Rini sang Pendiam yang Belajar Mandiri
- Impianku....(cerpen)
- MEDIA CETAK “ARTIKEL PENDIDIKAN” OLEH : ELVA...
- MEDIA CETAK “ARTIKEL PENDIDIKAN” OLEH : Ika Kur...
- tugas FIKSI "Semangat Loper Koran untuk sekoLah"
- pengumuman-pemgumuman!! ada tugas mata kuliah PSD...
-
▼
Mei
Posting Komentar