cerpen Dibalik kekuranganku tersimpan segudang kelebihanku

Diposting oleh DUNIA TP 2009 B Rabu, 26 Mei 2010

MEDIA CETAK
Karangan fiksi

Dibalik kekuranganku tersimpan segudang kelebihanku





Oleh:
Sensiska Nur Af’idah
(091024235)
TP 2009B




FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2010

Dibalik kekuranganku tersimpan segudang kelebihanku

“Urip” begitulah orang-orang memanggilku. Nama yang sangat sederhana dan sangat mudah orang untuk mengingatnya. Entah apa arti nama itu, entah apa tujuan orang tuaku memberiku nama Urip. Yang ku tahu hanyalah kegelapan dalam hidupku. Serba kekurangan dan hidup dengan ketidaksempurnaan. Sering ku berpikir bahwa hidupku tiada guna, hidupku tak akan pernah bisa sempurna, semua akan jadi sempurna jika ku telah tertidur untuk selamanya di surga.
Usiaku yang masi sangat belia, kurasa tak seharusnya merasakan penderitaan yang seberat ini. Hidup dalam kemiskinan, orang tua pergi entah kemana meninggalkan aku sejak aku berusia 8 tahun, kedua bola mataku tak berfungsi sama sekali karena terbentur batu saat aku terperosot kedalam jurang untuk mengambil kayu di hutan. Ketika ayah dan ibu masih ada di sampingku, ketika aku masih dapat melihat dengan normal aku masih bisa tersenyum merasakan damainya keutuhan keluarga. Meskipun saat itu sepulang sekolah aku harus bekerja keras membantu keluargaku mencari kayu di hutan untuk dijual. Aku sangat merindukan masa-masa itu, bercanda bersama ayah, ibu disebuah rumah jerami yang berada di tengah hutan dan tiada tetangga.
Untuk menuntut ilmu aku harus berjuang keras karena rumahku sangat jauh dari sekolah. Perjalanan dari rumah kesekolah menempuh waktu selama 1 jam, aku hanya berjalan kaki sendirian. Aku sama sekali tidak pernah mengeluh dengan apa yang aku rasakan. Dalam hatiku aku hanya ingin mewujudkan apa yang telah lama aku cita-citakan. Aku ingin menjadi orang sukses dan aku ingin membawa kedua orang tuaku keluar dari segala penderitaan yang ada.
Kini yang terjadi, aku cacat, aku buta, aku sama sekali tidak bisa melihat, aku masih 10 tahun hidup di dunia ini. Orang tuaku telah meninggalkan aku karena sudah tidak sanggup lagi membiayai aku sekolah. Aku sengaja diberikan kepada orang kaya raya dengan harapan hidupku akan menjadi lebih baik dan aku dapat melanjutkan sekolah dengan segala kecukupan. Namun semua itu berlawanan, aku disiksa, aku diperlakukan seperti hewan.
“Uriiiippp, cepat pergi sana..!! jangan berani pulang sebelum membawa uang lebih dari Rp.50.000”. “Uriiiiipp, bersihkan seluruh ruangan rumah sampai bersih”. Telingaku sudah terbiasa mendengar perintah seperti itu. Pak Hilman merupakan orang yang kaya raya, tapi entah dimana hati orang itu sehingga ia tega menyiksa orang tak berdaya sepertiku. Setiap hari aku disuruh mengamen, menyelesaikan semua pekerjaan rumah, padahal kalau mau menggaji 20 pembantu pun pak Hilman masih mampu. Tapi ia lebih senang membuat mainan aku seperti boneka, mungkin bukan jadi masalah jika aku normal. Tapi ini, aku cacat, kemana-kemana aku membawa tongkat.
Tuhan masih menyanyangiku, aku diberi sahabat yang sangat baik dan dia adalah satu-satunya orang tempatku mengadu segala hal. Doni, dia adalah anak orang kaya yang rendah hati. Setiap hari sepulang sekolah dia selalu menemuiku. Doni selalu menerangkan kepadaku apa saja pelajaran yang dia dapat disekolah. Setiap aku mendengarkan doni berbicara tentang sekolah, mataku selalu berkaca-kaca. Aku ingin sekolah, aku ingin pandai, aku ingin hidup normal seperti anak seusiaku, aku ingin menggapai cita-citaku. Doni yang selalu memberikan motivasi agar aku terus belajar apapun keadaanku. Aku sangat merindukan membaca yang sudah menjadi hobiku sejak kecil, tapi apa daya aku sama sekali tidak bisa mnenggunakan kedua mataku untuk melihat seperti dulu.
Ingin sekali rasanya aku meninggalkan rumah pak Hilman, tapi jika itu aku lakukan, kemanakah aku akan mencari tempat tinggal. Aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan. Lagi- lagi ku teringat ayah dan ibuku, aku sangat merindukan kehadiran mereka dalam hidupku. Setiap langkahku aku selalu berharap orang tuaku dapat melihatku, dengan keterbatasanku aku tidak bisa mencari mereka.
Seperti biasa sekitar jam 1 siang Doni menemui aku di terminal. Namun dia sepertinya dia tak sendiri. Terdengar dari suaranya aku mengira yang bersama Doni adalah ayahnya. “Urip, kenalin ini papaku. Pa ini teman Doni namanya Urip”. Setelah menjabat tangan ayah Doni aku yakin beliau adalah orang baik-baik sama seperti Doni. Kita bertiga kemudian pergi ke sebuah rumah makan dan banyak hal yang dibicarakan disana.
Sebenarnya ayahnya Doni ingin aku tinggal bersama Doni dirumahnya, tapi tidak bisa semudah itu. Karena pada waktu orang tuaku memberikan aku kepada pak Hilman sudah ada surat perjanjian bahwa tidak ada unsur pemaksaan dan aku resmi di adopsi oleh pak Hilman. Aku hanya bisa meratapi nasipku yang kurang beruntung ini. Mengapa untuk sekolah saja sama sekali tidak menemukan jalan. Seakan akan semua pintu untuk menggapai cita-citaku sudah tertutup rapat bagi orang yang tak berdaya sepertiku ini.
Usiaku sudah menginjak 11 tahun, seharusnya aku berada di kelas VI SD. Tapi sepertinya itu hanya sekedar mimpi yang tak akan pernah bisa tercapai. Walaupun demikian aku selalu berdo’a kepada Tuhan, dan aku masih percaya Tuhan pasti punya rencana yang indah di balik cobaan yang telah aku terima. Aku selalu berdo’a semoga ada jalan untukku menggapai semua anganku dan semoga aku bertemu kembali dengan kedua orang tuaku.
“Kriiiiiinggg…” ku dengar telpon berdering di rumah pak Hilman. Dirumah tidak ada orang. Pak Hilman dan istrinya keluar kota untuk keperluan bisnis. “hallo, selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” “Maaf, ini dari kepolisian menginformasikan bahwa Pak Hilman dan isrtinya telah meninggal dunia karena kecelakaan. Mendengar hal itu hatiku tidak karuan, entah harus senang atau sedih mendengar hal itu. Rasanya semua seperti mimpi.
Pak Hilman selama ini hanya tinggal bersama istrinya, aku tidak tau keluarga yang lainnya berada dimana. Semua harta benda kini menjadi milikku. Tapi bagiku itu bukanlah hal yang penting, yang terpenting dalam hidupku adalah aku ingin sembuh, aku ingin sekolah lagi, aku ingin sukses diatas perjuanganku sendiri.
Hidup serba kecukupan tiada artinya kalau mata tidak bisa melihat, akhirnya aku gunakan harta yang aku punya untuk berobat. Aku tidak peduli berapa banyak biayanya yang pasti aku ingin sembuh agar aku bisa sekolah lagi dan aku ingin mencari orang tuaku ketika aku sudah sembuh nanti.
Segala cara telah aku lakukan untuk kesembuhanku. Dan akhirnya Tuhan mendengarkan do’aku. Aku sembuh total, aku bisa melihat lagi seperti dulu. Tidak ada lagi yang ada di benakku selain kebahagiaan yang begitu besar. Aku berharap dengan kembalinya aku seperti dulu lagi apa yang aku inginkan akan tercapai.
Aku mulai sekolah lagi, aku merasakan lagi indahnya hidup dengan pendidikan. Aku merasa dengan banyaknya ilmu yang aku miliki aku akan merasa lebih semangat menjalani hidup dan menghadapi setiap tantangan yang ada. Aku menyadari betapa pentingnya pendidikan dalam hidup ini.
Tak terasa aku menginjak usia remaja, aku sudah berada di bangku kuliah. Bertahun tahun aku hidup sendiri. Aku kulia sambil bekerja di tempat fotocopy. Meskipun kuliah sambil bekerja namun semangatku untuk belajar tak akan pernah padam. Di kampus aku selalu aktif dalam setiap kegiatan. Aku selalu ingin mencoba hal yang baru. Aku ingin terus berkembang dan menambah wawasanku tentang banyak hal. Teman-temanku adalah sebagian besar anak orang berada, memang kuliah di kedokteran adalah bukan hal yang murah. Untung saja aku masih bisa kuliah karena beasiswa. Aku berangan-angan suatu saat nanti kalau aku sudah menjadi dokter, aku akan membuka praktek GRATIS bagi orang yang kurang mampu.
Tahun demi tahun berlalu akhirnya aku lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Sesuai janjiku aku akan membuka praktek GRATIS bagi orang yang kurang mampu. Dengan tempat praktek yang masih sederhana tapi aku sangat bahagia bisa menolong orang yang kesusahan. Melihat mereka tersenyum bahagia seperti melihat senyum orang tuaku yang telah lama ku rindukan.
Jam 00.00 tepat ku dengar suara orang teriak minta tolong. Aku segera keluar dan ketika kulihat betapa kagetnya aku. Ayanhku yang telah lama ku cari dan ku rindukan teriak minta tolong dengan menggendong ibu yang sudah dalam keadaan pingsan. Dengan buru-buru aku langsung menangani ibu yang sudah lemas. Anehnya ayahku sama sekali tidak mengenaliku.
Ternyata ibu telah lama sakit jantung dan tidak pernah berobat karena tidak ada biaya. Setelah ibu sadar aku bicara kepada ayah bahwa aku ini Urip, Urip anak ayah, Urip anak Ibu, Urip sudah dapat melihat. Seketika itu suasana menjadi haru, hujan tangis karena bahagia. Segala mimpi telah aku dapatkan. Yang awalnya aku mengira semuanya hanya sekedar mimpi tapi kini semua menjadi nyata. Aku menyadari betapa beruntungnya aku yang telah menempuh pendidikan dengan sungguh sungguh. Kini hasilnya pun dapat aku nikmati.

0 komentar

Posting Komentar