CERPEN
“ Biarkan aku menggapai Impianku “
Oleh :
Norista Marliana Dewi
091024237
Edutech2009b
Tema : Pendidikan.
Karakteristik tokoh
• Dea : cantik, tidak terlalu pintar, tidak mudah putus asa.
• Indra : baik, penyayang, sabar
• Renia : cerdas, baik.
• Pak Johan (Ayah Dea) : keras kepala, kolot
• Ibu Farida ( Ibu Dea) : baik, sabar.
Alur : Maju
Setting : Rumah, sekolah, restaurant
Sinopsis
Dea seorang pelajar SMA yang ingin melanjutkan sekolah ke bangku kuliah, tapi keinginannya itu terhalangi oleh Ayahnya. Karena Ayahnya berfikir bahwa perempuan tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi sampai ke bangku kuliah, karena pada akhirnya nanti perempuan itu akan berada di dapur juga.
Tapi, karena tekad Dea yang begitu besar. Akhirnya Dea mampu mewujudkan keinginannya itu.
****
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiing …. !! Bel pulang pun sudah berbunyi, menandakan jam sekolah telah berakhir. Terlihat Renia dengan lari tergopoh 0 gopoh menghampiri Dea yang sedang berjalan di koridor sekolah.
“ Hai Dea, akhirnya pulang juga kita”. Kata Renia.
“ Iyaa Ren, ak capek banget hari ini. Mau pulang terus tidur”. Jawab Dea.
“ Duluan ya Ren , daaaa “! Tambah Dea.
“ Daaa Dea “. Jawab Renia.
****
Sesampai di rumah pun , Dea langsung tertidur di kamarnya. Jam menunjukkan pukul 4 sore, Dea terbangun dari tidurnya, dan segera mandi. Tepat pukul 7 malam, Indra sudah menjemput Dea, Indra adalah pacar Dea. Sudah hampir 3 tahun mereka pacaran. Indra sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta di kota setempat, Bandung.
“ Bapak, Dea keluar dulu ya ?”,kata Dea
“ Iya nak, hati – hati. Pulangnya jangan malam-malam”. Jawab Pak Johan.
Mereka berlalu pergi meninggalkan rumah Dead an berhenti di sebuah restaurant untuk makan malam. Sambil menunggu makanan datang mereka berdua pun ‘ ngobrol ‘
“ Dea, kamu jadi melanjutkan kuliah di ITB ?”. Tanya Indra.
“ Gak tau Ndra, tinggal nanti. Habis dulu Bapak pernah bilang, kalau aku gak boleh kuliah. Kamu tahu sendiri kan Ndra, Bapak orangnya gimana”. Jawab Dea, sambil menyantap makanan yang telah dia pesan.
“ ya sudahlah, makan aja. Gak usah terlalu dipikirkan”. Balas Indra
Hari ini hari minggu, Dea duduk di depan rumah bersamanya orang tuanya.
“ Bapak, setelah lulus nanti. Aku boleh tidak melanjutkan kuliah “?, Tanya Dea.
“ Tidak, kamu tidak perlu kuliah”. Jawab Pak Johan.
“ Loh, kenapa ?”. tambah Dea
“ Sekali Bapak bilang tidak ya tidak, kamu itu perempuan gag kuliah juga tidak masalah, buang – buang biaya saja. Percuma juga kuliah. Nanti akhirnya jugaa bakalan di dapur”. Bentak Pak Johan.
“ sabar, Pak”. Tambah Ibu Farida.
“ tapi Pak”, kata dea
Belum selesai Dea bicara sudah dipotong sama Pak Johan.
“ Tapi apa, sudah gak usah membantah kata – kata Bapak”. Kata Pak Johan.
Dea pun berlalu pergi meninggalkan ayah dan ibunya. Dea kecewa dengan pola pikir ayahnya.
“ Tidak boleh begitu sama nak sendiri, apa salahnya juga kalau anak kita ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, kita biaya juga punya. Masak hanya denagn pikiran Bapak yang seperti itu, harus menyakiti hati anak sendiri, Dea juga anak satu-satunya kita Pak, apa Bapak tega melihat dia sedih terus hanya karena Bapk tidak mengijinkan dia untuk kuliah, masa depan Dea masih panjang Pak.” Kata Ibu Farida.
“ Sudah sudah jangan mengajari Bapak”. Bantah Pak Johan.
sehabis upacara, Dea dan Renia berada di kantin untuk sarapan pagi.
“ Kamu kenapa Dea, hari ini murung banget? Gak seperti biasanya”. Tanya Renia.
“ Tau Ren, BT banget aku. Sebel sama Bapak, hari gini gak boleh kuliah. Cuma dengan alasan kalau perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, menyebalkan tau gak”. Jelas Dea
“Sabar ya De, mungkin Bapak kamu punya pikiran seprti itu juga ada alasannya”. Tutur Ren.
Indra pun datang menghampiri Dea dan Renia yang sedang asyik ngobrol di kantin.
“ Hai, boleh gabung gak. Kayaknya asyik banget nii, ngobrolin apa sih ?” Tanya Indra.
“ biasa aja kali Ndra, gak ngobrolin apa – apa juga, eh De, aku ke Perpustakaan dulu ya, mau pinjam buku.” Kata Renia
“ Iya Ren, hati – hati ya.” Balas Dea.
Renia pun berlalu pergi meninggalkan Indra dan Dea.
“ Kamu kenapa sayang, kok mukanya ditekuk gitu. Lagi ada masalah? Kok gak crita sih sama aku.” Tanya Indra.
“ Gpp kok Ndra, masih dengan masalah yang sama.” Jawab Dea.
“ Maksutnya? Masalah kamu sama Bapak?” Tanya Indra.
“Iya, mau sama siapa lagi juga.” Jawab Dea cuek.
“ Coba deh, kamu kasih pengertian ke Bapak. Kalau perempuan jaman sekarang itu juga punya masa depan. Tidak seperti perempuan jaman dahulu yang selesai sekolah terus nikah dan dapur.” Jelas Indra.
“ Iya Ndra, masalahnya Bapak itu tidak pernah mau mendengarkan penjelaskan aku, jangan kan mendengarkan penjelasanku ngasih aku kesempatan untuk ngejelasin pun enggak pernah.” Jawab Dea.
“ Ya sudah Ndra, aku ke kelas dulu.” Tambah Dea.
“ Jangan sedih gitu dong, aku antarin ke kelas ya?” Kata Indra
Dea pun menganggukkan kepala, dan mereka pun berjalan menuju ke kelas Dea.
Dea pun pulang ke rumah dengan wajah yang murung, namapak Pak Johan ada di depan rumah.
“ Assalamu’alaikum”. Kata Dea mengucapakn salam.
“ Wa’alaikum salam.” Jawab Pak Johan.
“ Kok sudah pulang De, gak ada bimbingan?”. Tambah Pak Johan.
“ Tidak Pak.” Jawab Dea jutek.
“ Duduk sini De, Bapak mau ngomong sesuatu sama kamu.” Kata Pak Johan.
“ Ngomong apa Pak?”, Tanya Dea sambil duduk di samping Pak Johan.
“ masalah kuliah kamu, Bapak mengijinkan kamu untuk kuliah.” Kata Pak Johan.
“ Yang benar Pak?”, Tanya Dea kaget.
“ iya?”, jawab Pak Johan sambil tersenyum.
Deapun lari ke dalam rumah, sambil berteriak memanggil Ibunya.
“ Ibu ibu, Dea boleh kuliah Bu.” Kata Dea.
“ Iya Nak, iya.” Jawab Ibu.
“ Tapi Dea mesti janji sama Bapak dan Ibu, kamu jangan nakal. Sekolah yang sungguh – sungguh. Jangan mengecewakan Bapak dan Ibu.
“ Iya, Dea janji sama Bapak dan Ibu. Sebisa mungkin Dea akan jadi anak yang bisa dibanggakan sama Bapak dan Ibu.” Jelas Dea.
Jam menunjukkan pukul 06.45 Dea sudah samapi di Sekolah, Dea menghampiri Indra yang sedang duduk di taman.
“ Ndra, aku punya kabar gembira buat kamu.” Kata Dea.
“ Kabar apa sayang?”. Tanya Indra penasaran.
“ Dea boleh kuliah sama Bapak.” Kata Dea.
“ Yang bener, bagus dong.” Akhirnya keinginan kamu direstui sama Bapak.” Jawab Dea.
Tiba – tiba Renia datang menghampiri Dead an indra.
“ Wahhh, pagi – pagi sudah main berduaan aja.”. goda Renia.
“ hahaha, bisa saja Ren kamu. Renia, aku sudah diijinin sama Bapak, untuk melanjutkan kuliah.” Kata Dea
“ Oh ya, yang bener Dea, Waaah traktiran nich.” Goda Renia.
“ Tahu ini Renia makan aja yang ada di otaknya.” Tambah Indra
“ ahhh, kamu Ren makan aja, oke dech siapa takut.’ Kata Dea.
Mereka bertiga pun tertawa bersama – sama, dan berlalu meninggalkan taman.
Setelah Dea dinyatakan lulus dia langsung pergi ke Bandung untuk melanjutkan kuliah disana, Dea diterima menjadi mahasiswa ITB melalui jalur PMDK
THE END
Blog Archive
-
▼
2010
-
▼
Mei
- priwan_PENTINGNYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU
- priwan_wanita berlian
- BINTANG YANG BERSINAR baharudin
- cerpen "“THE POWER RANGERS”
- cerpen "Ilmuku dibalik bilik bamboo"
- cerpen Dibalik kekuranganku tersimpan segudang kel...
- CERPEN “ Biarkan aku menggapai Impianku “
- cerpen "keceriaan dibalik sebuah kegagalan"
- cerpen
- Papre_Nur Aristiana
- Fiksi_cerpen_vina
- Keinginan Yang Kuat Untuk Menggapai Impian
- Cerpen Kaya Ilmu Miskin Harta
- M Saikhul Arif 091024255 Artikel non fiksi pendidi...
- CERPEN "KEKSUKSESANKU KARENA ISTERIKU"
- Cerpen "Mengubur Asa"
- Curahan Hati Pak edi
- cerpen
- Cerpen Good Job
- petrick k 091024250 cerpen (Sacrosand) Juli 2008 ...
- cerpen
- cerpen
- <!-- /* Fo...
- fiksi
- tugas fiksi ( kiat menuju sukses)
- MAHASISWA dan MORAL (Wajah Mahasiswa Saat Ini)
- Rini sang Pendiam yang Belajar Mandiri
- Impianku....(cerpen)
- MEDIA CETAK “ARTIKEL PENDIDIKAN” OLEH : ELVA...
- MEDIA CETAK “ARTIKEL PENDIDIKAN” OLEH : Ika Kur...
- tugas FIKSI "Semangat Loper Koran untuk sekoLah"
- pengumuman-pemgumuman!! ada tugas mata kuliah PSD...
-
▼
Mei
Posting Komentar