cerpen "“THE POWER RANGERS”

Diposting oleh DUNIA TP 2009 B Rabu, 26 Mei 2010

“THE POWER RANGERS”
Setelah makan siang, Dina dan Sany bergegas menuju kantor tempat mereka bekerja. Namun saat mereka akan menuju mobil, mereka dihampiri segerombolan pengamen kecil yang berusia sekitar 9 tahunan. Pengamen-pengamen kecil tadi pun berniat untuk menghibur kami berdua sebelum kami melanjutkan pekerjaan yang akan kami lakukan. Sany bertanya kepada pengamen-pengamen kecil “ adek, apa kamu sudah nggak sekolah??? Kuq jam segini sudah ngamen???”. Dan pengamen kecil pun menjawab “ kami baru selesai sekolah kak, dan langsung ngamen bersama-sama”. Saya bertanya-tanya banyak tentang mereka, mulai dari sekolah mereka, rumah mereka, orang tua mereka sampai kebiasaan mereka setiap harinya. Dan ternyata beberapa diantara mereka bukan berasal dari keluarga yang kurang mampu, namun mereka melakukan hal ini karena mereka ingin membantu sahabat mereka yang sedang kesusahan.
Setelah mendengar cerita mereka, sany dan dina teringat dengan masa lalu bersama para sahabat. Persahabatan mereka terdiri dari Sany, Edo, Dina, Dimas, dan Tobi. Mereka berlima bersahabat sejak masuk sekolah tingkat pertama (SMP), saat itu mereka benar-benar dalam kesulitan saat ospek karena waktu itu mereka belum membuat pekerjaan yang diperintahkan oleh kakak kelas mereka dan akhirnya mereka dihukum bersama-sama. Dari situ awal mula persahabatn mereka, dan mereka semua berasal dari keluarga yang berbeda-beda status sosialnya.
Saat itu mereka berada dibangku kelas VII atau dengan kata lain kelas 1 SMP. Saat mereka akan mendekati ulangan akhir semester, Tobi, Sany, dan Edo melihat Dina dan Dimas menjadi lebih pendiam dan sering menyendiri. Dan hal itu membuat tobi, sany, dan edo menjadi bingung dengan tingkah laku teman mereka. Dan akhirnya mereka bertiga membagi tugas untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan kedua sahabat mereka.
Saat pulang sekolah, sany mengikuti dina sampai dirumahnya dan dia melihat setiap kegiatan yang dilakukan dina. Dan saat itu dina berkata kepada ibunya bahwa dia sebentar lagi akan ulangan akhir semester dan membutuhkan uang untuk mengikuti ulangan tersebut. Ibu dina pun berkata “ ibu masih belum punya uang nak, jadi kamu sabar ya”. Sany sangat sedih saat itu karena dia baru mengetahui keadaan sahabatnya yang sangat membutuhkan bantuannya. Dan ternyata penyelidikan tobi dan edo juga sama, mereka berdua melihat dimas yang sedang membantu neneknya menjual kue-kue dipasar. Tidak hanya itu, dimas juga mejual kantong-kantong plastic di pasar setiap libur sekolah. Tobi, sany, dan edo benar-benar merasa bersalah karena selama ini mereka tidak mengetahui keadaan kedua temannya yang sangat membutuhkan bantuan.
Keesokan harinya saat bel istirahat berbunyi tobi, edo, dan sany membawa dina dan dimas kebelakang kelas. Mereka bertiga mengintrogasi dina dan dimas. Awalnya dina dan dimas tidak mau mengakui keadaan yang sebenarnya. Namun setelah didesak akhirnya mereka mau menceritakan semua masalah yang sedang mereka alami. Tobi, sany, dan edo sudah mengetahui pokok permasalahannya yaitu masalah ekonomi. Dan disitu mereka mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini, dan tanpa sengaja sany berceloteh “ gimana kalau kita jualan, entah jualan apa aj terserah yang penting kita gag lupa sama sekolah kita dan nggak susah buat kita”. Dina dan dimas secara serentak menolak saran yang di berikan oleh sany “ nggak, kita berdua nggak setuju usul kamu. Aku nggak mau buat temen-temenku susah”. Dan tanpa banyak berdebat usul dari sany pun diterima oleh edo dan tobi karena itu yang bisa mereka lakukan buat membantu dimas dan dina.
Hari itu hari minggu mereka berkumpul di rumah sany untuk menjalankan misi mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 dan semuanya sudah berkumpul dirumah sany. Tobi pun membuka pembicaraan “ kita harus cepat pergi ke pasar sebelum pasarnya tutup dan kita kumpulin dulu uang yang kita punya sebelum kita belanjakan untuk dijual dipasar nanti”. Setelah mengumpulkan uang,mereka berlima berangkat untuk menuju pasar dengan bersepada. Sesampainya dipasar mereka membeli plastik belanjaan untuk dijual keliling kedalam pasar. Selain plastik belanjaan, mereka mejual dagangan kue yang dibuat oleh nenek dimas. Mereka membagi tugas untuk menjual dagangan mereka. Setelah semua dagangan mereka habis terjual, mereka menghitung penghasilan yang mereka dapat. Mereka bingung apa yang akan mereka lakukan besok agar mereka dapat menghasilkan uang. Dan akhirnya mereka menemukan ide yaitu memberikan semua uang pada nenek dimas untuk dibuatkan kue seperti yang dijual tadi, setelah itu kue-kue tadi akan di titipkan ke setiap toko yang mereka lewati saat berangkat sekolah dan tidak lupa pada kantin sekolah mereka.
Setelah dilaksanakan, ternyata ide tersebut berhasil dan menghasilkan banyak uang. Tidak hanya itu, selain menitipkan kue di toko-toko mereka juga menjual kantong plastik di pasar tiap pulang sekolah. Namun mereka semua tidak melupakan kewajiban mereka sebagai siswa, mereka selalu menyempatkan belajar bersama setiap hari seusai berjualan plastik dipasar dan tempatnya pun bergantian. Mereka berlima merupakan siswa berprestasi yang ada di sekolah. Meskipun mereka harus berjualan kue dan kantong plastik seusai sekolah untuk membantu sahabat-sahabatnya yang sedang membutuhkan bantuan. Sampai-sampai mereka berlima mendapat julukan “Power Rangers” karena mereka dapat berubah setelah pulang sekolah seperti berubah menjadi penjual kue, berubah menjadi penjual kantong plastik, dab sebagainya.
Ulangan akhir semester tinggal beberapa hari lagi namun dina dan dimas belum membayar uang UTS karena uang yang mereka kumpulkan belum mencukupi. Dan akhirnya sany berinisiatif meminta keringanan untuk dina dan dimas agar mereka dapat mengikuti ulangan akhir semester karena uang yang mereka kumpulkan belum mencukupi untuk membantu mereka berdua. Dan guru-guru juga menyetujui apa yang diungkapkan sany karena guru-guru tersebut tahu apa yang sudah mereka lakukan untuk membantu dina dan dimas.
Ulangan akhir semester telah tiba, mereka berlima berangkat ke sekolah bersama-sama dengan menaiki sepeda. Sesampainya di sekolah mereka berkumpul di depan perpustakaan dan melakukan ritual sebelum memasuki ruangan yaitu dengan berdoa bersama sambil berpelukan. Setelah ritual selesai dilakukan, mereka akan pergi ke ruang ujian mereka masing-masing. Setelah pulang sekolah mereka pergi ke pasar untuk mencari uang tambahan karena uang yang mereka butuhkan masih kurang sedikit lagi.
Ulangan akhir semester telah usai dan uang yang mereka kumpulkan sudah cukup untuk membayar UAS dina dan dimas. Namun saat uang itu akan diserahkan ke guru TU, guru TU tersebut berkata “ sudah bawa saja uang itu!!!!!” mereka berlima menjadi kebingungan dan bertanya kembali pada guru TU “loo kenapa uangnya dikembalikan bu??? Kan dina sama dimas belum bayar uang UAS”. Dan terjadi perdebatan antara guru TU dengan mereka berlima hingga Bapak Kepala Sekolah keluar dari ruangannya dan menghampiri mereka berlima. “ Ada apa ini kuq saya dengar ribut-ribut dari sana???” kata Kepsek, dan tobi menceritakan semuanya dengan jelas. Namun anehnya Pak Kepsek hanya tersenyum saja, yang membuat mereka berlima menjadi bingung. “ Sudah, bawa saja uang kalian. Pakailah untuk usaha kalian agar kalian dapat menabung lebih banyak lagi dan dapat digunakan untuk keperluan yang lain”. Kata kepala sekolah mereka. Tobi pun balik bertanya “terus siapa yang bayar uang UAS dina dan dimas pak???”. Dan bapak kepala sekolah menjelaskan bahwa dina dan dimas mendapat keringanan dari sekolah yaitu beasiswa. Mereka sangat gembira saat mendengar berita tersebut dari Kepala Sekolah.
Itulah kenangan yang tidak akan terlupakan oleh mereka berlima. Dan mereka masih bersahabat hingga sekarang. Namun merasa tidak lengkap, , , , sangat sangat kurang lengkap semenjak dimas pergi dari kehidupan mereka, pergi untuk menghadap sang Khalid , , , , ,
Itu benar-benar menyakitkan bagi mereka, benar-benar meninggalkan perih yang sangat mendalam. Tinggal kenangan bersama dimas yang hanya dapat mereka kenang di dalam benak mereka masing-masing. Dan setiap minggu mereka selalu menyempatkan waktu untuk menyambangi makam dimas sambil menceritakan kejadian yang telah mereka alami seminggu ini.
Tiba-tiba sany berceloteh “andai dimas masih disini bersama kita, persahabatan kita masih akan seindah persahabatan anak-anak itu ya din,,,,,”. Dina pun menjawab sambil memeluk erat tubuh sany, “Meskipun dimas sudah nggak ada sihadapan kita, tapi dimas akan selalu dihati kita dan selalu menemani kita dimana pun kita berada san”. Setelah itu mereka kembali kekantor untuk meneruskan rutinitas mereka.














Kisah lima sahabat yang penuh dengan cerita-cerita menarik dalam kehidupan semasa SMP terutama kehidupan mereka saat mereka duduk dikelas VII ( 1 SMP ).




Oleh:
Uty Marina Lahitani
(091024247)
TP 2009 B

0 komentar

Posting Komentar